Jika setelah Lebaran saya masih bisa memusuhi sesuatu, sesuatu itu
bernama Disc Tarra. Sehari sebelum malam takbiran, saya sempat ke Disc
Tarra di Citraland, sebelum ke kantor, demi mencari CD sebuah band
bernama Sore. Sebenarnya, saat sehari sebelum itu saya pergi ke Aksara
di Kemang (dan ketemu Nicholas Saputra, yay!), saya sudah berniat
membeli CD band itu. Tetapi, karena merasa sudah terlalu boros
sementara November baru saja merangkak, saya urung membeli. Kesalnya,
saya tidak bisa melupakan syair dan melodi sebagian dari salah satu
lagu mereka, yang bahkan saya tak dapat ingat judulnya. Tentu saja
saya tak menemukan CD band tersebut di Citraland, karena sepertinya
album ini tidak didistribusikan secara luas, seluas albumnya Peterpan
yang baru, yang memenuhi satu rak tersendiri.
Akhirnya, saya malah menemukan satu kopi terakhir kaset The Dance-nya
Fleetwood Mac. Ketika akan membayar, sayangnya, saya sempat melihat
bagian VCD dan melihat VCD film Bette Davis yang paling terkenal
(ungkapan yang paling sering dikutip para penulis di internet tentang
film ini), "All About Eve", yang juga memberi ruh pada film Almodovar
yang amat saya sukai, "All About My Mother" (judul film Almodovar
memang memparodikan judul "..Eve"). Harga "...Eve", tercantum Rp 50
ribu. Rp 49 ribu, tepatnya.
Saya sudah mengambil dan menimang-nimang VCD tersebut. Ini tentang
"All About Eve", ini Bette Davis, Bette Davis dengan mata sayunya yang
khas itu, ini bagian dari sejarah (setidaknya buat saya, bagian dari
sejarah film), ini film yang memberi inspirasi pada Almodovar,
Almodovar yang Hebat. Rp 49 ribu tak ada artinya kan?
Tapi entah kenapa, saya merasa butuh berpikir-pikir lagi.
Saya baca bagian belakangnya, "penulisan naskah yang brilian,
penyutradaraan dan akting yang sempurna, sekian nominasi Academy
Awards, Marilyn Monroe sebagai salah satu aktris pendukung, Bette
Davis dengan puncak pencapaian aktingnya". Mungkin bukan itu kata-kata
tepatnya, tapi intinya, menggambarkan kedashyatan film ini.
Tapi Rp 49 ribu? Dan sekarang masih tanggal 1.
Akhirnya saya letakkan lagi VCD tersebut. Saya merasa lega, masih ada
beberapa kopi, banyak malah, VCD "...Eve".
Tetapi masalah ternyata belum selesai. Segera setelah saya meletakkan
"...Eve", mata saya menangkap tulisan 'Tippi Hedren'. Ternyata Disc
Tarra juga menjual "The Birds", salah satu film thriller Alfred
Hitchcock. Sebagai seorang yang mengaku movie freak, dengan malu saya
mengakui, film Hitchcock yang sudah saya lihat baru 'Psycho'. Versi
aslinya dong, bukan yang hasil repro Gus van Sant.
'The Birds' dijual dengan harga yang kurang lebih sama.
Sebuah ide gila melintas, 'kenapa tidak beli dua-duanya saja? Sekalian
langsung habis, dan selesai.'
Argh. Tidak, tidak, tidak.
Saya bergegas ke kasir dan membayar 'The Dance', sambil mencoba
menyanyikan 'Go Your Own Way', untuk menghilangkan bayangan tatapan
tajam mata sayu Bette Davis di kepala.
Selesai membayar, berjalan menuju pintu, langkah saya terhenti pada
keranjang berisi VCD-VCD yang dipotong sepertiga harganya. Dan mata
saya kembali mendapati judul-judul familiar, 'Punch-Drunk Love'
seharga Rp 17.500, 'Buffalo Soldiers' seharga Rp 19.500, dan 'In the
Bedroom' dengan harga Rp 19.500.
Tanpa meletakkan ketiga kotak panjang berisi cakram lempeng itu
kembali ke tempatnya, saya langsung berjalan ke kasir.
"Tak apa," kata saya dalam hati, "Rp 56 ribu untuk tiga film. Not bad."
"'Punch-Drunk Love, ada Adam Sandler. You always secretly like him.
Dan sekarang dia kerja bareng Paul Thomas Anderson. Dan Emily Watson.
'In the Bedroom', Sissy Spacek dong. Masa harus dijelasin lagi?
'Buffalo Soldiers', sebuah film perang alternatif, plus Joaquin
Phoenix. Never hurt."
Tapi akhirnya tetap saja, Disc Tarra tetap menjadi tempat yang harus
dijauhi satu bulan ke depan. Agar tidak membeli "...Eve", atau "The
Birds", atau...(di cabang lainnya) Groucho Marx's (atau Marx
Brother's?) "The Duck Soup", atau "Pride and Prejudice" versi BBC,
atau "The Office", atau "Absolutely Fabulous", atau "The Portrait of a
Lady"-nya Jane Campion. Duh, kok jadi endless?
(Btw, tiba-tiba punya teori, jangan-jangan daftar memang tidak ada
yang tidak endless ya?)