Sunday, November 13, 2005 

Pengumuman Pindah Rumah

Halo, halo, halo,

Buat temen-temen yang sesekali mampir ke sini, ini ada pengumuman: Saya Pindah Rumah. Saya masih tetap helpless dalam mencoba untuk menjadi seorang penulis. Tapi sekarang saya juga sedang patah hati tanpa ujung (setidaknya ujungnya belum keliatan lah), merasa otak saya mandek tanpa tantangan berarti, merasa tak mampu menghasilkan sesuatu, merasa butuh warna baru, dan ingin berubah menjadi lebih baik setelah Lebaran kemarin.

Jadi, saya memutuskan untuk membuat sebuah rumah baru, di Penari Mungil, walaupun saya bukan penari, dan tidak mungil. Tapi lebih jauh tentang nama, atau alasan membuat rumah baru dan hubungannya dengan jadi orang baru, di sana sajalah. Terima kasih selama ini untuk semua yang sudah datang dan main ke sini. Dan kalau mau main ke rumah baru, monggo, silaken.

Yang akan saya lakukan dengan yang ini? Wah, belum tau ya. Mungkin dibiarkan menyala saja, walaupun tanpa postingan baru. Sekali lagi, terima kasih banyak. Saya tunggu ya di rumah yang baru...

Monday, November 07, 2005 

There are Always More to Learn

Kekuatan seorang Bette Davis memang tidak bisa dilawan oleh manusia
biasa. Ah, akhirnya menyerah juga aku tadi siang di Disc Tarra
(bener-bener pertumpahan darah deh). "All About Eve" dibeli, 5 lembar
Rp 10 ribuan pun keluar dari dompet kulit berwarna merah.

Menyerah untuk satu hal, ternyata tidak berarti terpuaskannya haus.
Karena siang itu, aku juga melihat VCD 'West Side Story', versi
musikal Romeo & Juliet 'modern', yang mengambil latar perang antar
geng di New York. Koreografi yang apik dan penuh tenaga, lagu-lagu
yang (maaf ya, lagi malas mendeskripsikan secara detil) keren. Tapi ya
sudahlah, let it go, kayaknya bajakannya juga banyak kok di
Ambassador.

Tapi juga ada 'The Manchurian Candidate' yang asli, yang ada Frank
Sinatra-nya itu. Huks.

Haduh, keinginan kok kayaknya nggak habis-habis ya? Kapan bakal
selesai kalau diturutin terus?

Anyway, sebenarnya ini mau curhat tentang perubahan. "All About Eve",
simbol menyerahku itu dimaksudkan juga sebagai simbol perubahan. Baru
aja Lebaran nih, jadikan ini sebagai momentum deh untuk menata diri,
menata hidup, menata pikiran, agar menjadi orang yang lebih baik.

"All About Eve" rencananya akan menjadi bagian dari gerakan disiplin
internal, yang salah satu programnya adalah 'One Movie a Day'.
Sementara buku yang tadi baru dibeli (hmm...kelepasan kontrol juga
nih. Tapi aku nemu salah satu buku tentang Hafizh, judul aslinya 'I
Heard God Laughing') adalah bagian dari program '50 Books a Year'
(membumi nggak sih sebenarnya program yang satu ini? Atau terlalu
ambisius? Well, gak pa-palah, toh lagi nggak punya hal-hal yang harus
diributin berlebihan, such as...falling in love atau boyfriend
misalnya, heheh. Ya setidaknya mengganti adiksi yang satu dengan
-hopefully- adiksi yang lain. Lagi ditumbuhkan nih adiksinya untuk
yang film dan buku).

Intinya, aku pengen put my action where my mouth is (eh, gimana sih
tepatnya?). Nggak cuman no action, talk only lah intinya. Katanya kutu
buku, ih..belum berhak lagi, banyak yang masih belum dibaca. Katanya
movie freak, ih...sama aja, banyak film yang masuk kategori 'classic'
belum ditonton.

Kalau katanya John Mayer di 'Bigger than My Body': 'why is it not my
time, what is there more to learn'. Jawabnya: banyak yang masih harus
dipelajarin, wajar kalau ini belum waktuku.

Jadi, sekarang, ya mau belajar dulu.
Nanti deh dibahas lebih panjang, sekarang udah rada liyer-liyer.

Sunday, November 06, 2005 

Musuh Utama Pasca Lebaran

Jika setelah Lebaran saya masih bisa memusuhi sesuatu, sesuatu itu
bernama Disc Tarra. Sehari sebelum malam takbiran, saya sempat ke Disc
Tarra di Citraland, sebelum ke kantor, demi mencari CD sebuah band
bernama Sore. Sebenarnya, saat sehari sebelum itu saya pergi ke Aksara
di Kemang (dan ketemu Nicholas Saputra, yay!), saya sudah berniat
membeli CD band itu. Tetapi, karena merasa sudah terlalu boros
sementara November baru saja merangkak, saya urung membeli. Kesalnya,
saya tidak bisa melupakan syair dan melodi sebagian dari salah satu
lagu mereka, yang bahkan saya tak dapat ingat judulnya. Tentu saja
saya tak menemukan CD band tersebut di Citraland, karena sepertinya
album ini tidak didistribusikan secara luas, seluas albumnya Peterpan
yang baru, yang memenuhi satu rak tersendiri.

Akhirnya, saya malah menemukan satu kopi terakhir kaset The Dance-nya
Fleetwood Mac. Ketika akan membayar, sayangnya, saya sempat melihat
bagian VCD dan melihat VCD film Bette Davis yang paling terkenal
(ungkapan yang paling sering dikutip para penulis di internet tentang
film ini), "All About Eve", yang juga memberi ruh pada film Almodovar
yang amat saya sukai, "All About My Mother" (judul film Almodovar
memang memparodikan judul "..Eve"). Harga "...Eve", tercantum Rp 50
ribu. Rp 49 ribu, tepatnya.

Saya sudah mengambil dan menimang-nimang VCD tersebut. Ini tentang
"All About Eve", ini Bette Davis, Bette Davis dengan mata sayunya yang
khas itu, ini bagian dari sejarah (setidaknya buat saya, bagian dari
sejarah film), ini film yang memberi inspirasi pada Almodovar,
Almodovar yang Hebat. Rp 49 ribu tak ada artinya kan?

Tapi entah kenapa, saya merasa butuh berpikir-pikir lagi.

Saya baca bagian belakangnya, "penulisan naskah yang brilian,
penyutradaraan dan akting yang sempurna, sekian nominasi Academy
Awards, Marilyn Monroe sebagai salah satu aktris pendukung, Bette
Davis dengan puncak pencapaian aktingnya". Mungkin bukan itu kata-kata
tepatnya, tapi intinya, menggambarkan kedashyatan film ini.

Tapi Rp 49 ribu? Dan sekarang masih tanggal 1.

Akhirnya saya letakkan lagi VCD tersebut. Saya merasa lega, masih ada
beberapa kopi, banyak malah, VCD "...Eve".

Tetapi masalah ternyata belum selesai. Segera setelah saya meletakkan
"...Eve", mata saya menangkap tulisan 'Tippi Hedren'. Ternyata Disc
Tarra juga menjual "The Birds", salah satu film thriller Alfred
Hitchcock. Sebagai seorang yang mengaku movie freak, dengan malu saya
mengakui, film Hitchcock yang sudah saya lihat baru 'Psycho'. Versi
aslinya dong, bukan yang hasil repro Gus van Sant.

'The Birds' dijual dengan harga yang kurang lebih sama.

Sebuah ide gila melintas, 'kenapa tidak beli dua-duanya saja? Sekalian
langsung habis, dan selesai.'

Argh. Tidak, tidak, tidak.

Saya bergegas ke kasir dan membayar 'The Dance', sambil mencoba
menyanyikan 'Go Your Own Way', untuk menghilangkan bayangan tatapan
tajam mata sayu Bette Davis di kepala.

Selesai membayar, berjalan menuju pintu, langkah saya terhenti pada
keranjang berisi VCD-VCD yang dipotong sepertiga harganya. Dan mata
saya kembali mendapati judul-judul familiar, 'Punch-Drunk Love'
seharga Rp 17.500, 'Buffalo Soldiers' seharga Rp 19.500, dan 'In the
Bedroom' dengan harga Rp 19.500.

Tanpa meletakkan ketiga kotak panjang berisi cakram lempeng itu
kembali ke tempatnya, saya langsung berjalan ke kasir.

"Tak apa," kata saya dalam hati, "Rp 56 ribu untuk tiga film. Not bad."

"'Punch-Drunk Love, ada Adam Sandler. You always secretly like him.
Dan sekarang dia kerja bareng Paul Thomas Anderson. Dan Emily Watson.
'In the Bedroom', Sissy Spacek dong. Masa harus dijelasin lagi?
'Buffalo Soldiers', sebuah film perang alternatif, plus Joaquin
Phoenix. Never hurt."

Tapi akhirnya tetap saja, Disc Tarra tetap menjadi tempat yang harus
dijauhi satu bulan ke depan. Agar tidak membeli "...Eve", atau "The
Birds", atau...(di cabang lainnya) Groucho Marx's (atau Marx
Brother's?) "The Duck Soup", atau "Pride and Prejudice" versi BBC,
atau "The Office", atau "Absolutely Fabulous", atau "The Portrait of a
Lady"-nya Jane Campion. Duh, kok jadi endless?

(Btw, tiba-tiba punya teori, jangan-jangan daftar memang tidak ada
yang tidak endless ya?)

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates