Wednesday, October 26, 2005 

Divan-I-Hafiz

Di perpustakaan, waktu ngabuburit, nemu The Sunday Straits Times. Pas
lagi iseng mbolak-mbalik, nemu rubrik tentang travelling, dan orang
yang dijadikan subyek rubrik tersebut menyebutkan buku puisi Iran,
"The Divan-I-Hafiz" sebagai suvenir favoritnya.

Katanya, udah merupakan kebiasaan bagi orang-orang Iran atau Persia,
ketika mereka berada dalam kesulitan dan butuh jawaban, mereka
memikirkan jawaban itu dan membuka buku kumpulan puisi ini untuk
menemukan jawabannya. Dan katanya lagi, ketika membuka buku secara
random itulah jawaban mereka dapatkan.

Percaya?
Tidak?
Terserahlah.

Tapi orang yang menjadikan buku ini sebagai suvenir favoritnya selalu
menemukan jawaban yang kurang lebih tepat.

Nah, with me, aku lagi nge-search di google tentang Divan-i-Hafiz ini.
Dan menemukan link ini: (maaf ya, karena dari kantor, entah kenapa
jadi nggak bisa change setting jadi rtf)
http://www.hafizonlove.com

Dan yang lebih cool lagi dari website ini, ternyata fungsi buku puisi
Hafiz sebagai 'book of answers' juga dibahas. Di website ini juga ada
tuh, 'layanan' pemberi jawaban dari kumpulan puisinya Hafiz.

Anyway, aku mencobanya. Pertanyaannya kurang lebih... aku harus jadi
apa sih, atau aku bisa jadi apa sih, intinya... what should I do with
my life. Dan jawaban yang keluar:

Ghazal 453

You, who are so proud of your name
If you are not in love, then shame!
Befriend not lovers, who are insane,
If sane sobriety is your fame.
Your head is sober from the wine of Love
Drinking grape juice is your game.
Melancholic face and painful cries,
Make lovers' pain, somewhat tame.
Hafiz, let go of infamy and name,
Seek more wine, your drunkenness inflame.

Hmmm...
"if I'm not in love, then shame!", huh?
Hehehehe.

Penasaran pengen nyari jawaban?
http://www.hafizonlove.com/fal.htm

Saturday, October 22, 2005 

Suvenir

Dengan tidak sengaja, saya tersadar akan kebiasaan ini; membeli
kenang-kenangan dari tempat-tempat 'aneh' yang baru saya kunjungi atau
lewati hari itu. Memang, ini bukan kebiasaan aneh, semua orang pasti
akan membeli kenang-kenangan dari tempat liburan mereka, yang tidak
akan sering-sering mereka kunjungi.

Tapi kebiasaan baru saya ini bukan atas hasil liburan, lebih karena
hasil liputan, atau perjalanan saya saat meliput. Saya tahu, saya
tidak cukup militan untuk pekerjaan saya sekarang. Atau mungkin belum.
Intinya, saya masih bertanya-tanya, apakah saya akan lama menjalani
pekerjaan ini, dan apakah saya akan sering mengunjungi tempat-tempat
'aneh' itu kalau bukan karena pekerjaan saya itu.

Karena itu, saya suka membeli barang-barang aneh dari tempat-tempat
tersebut, atau membeli sesuatu dari perjalanan saya hari itu.
Seringnya bukan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan, tapi hanya
sekedar sebagai memento. Pengingat akan waktu yang terlewatkan, tempat
yang sudah dikunjungi; sekedar kenangan akan apa saja yang sudah saya
lakukan dengan waktu dan hidup saya.

Contohnya, Kamis minggu lalu (13/10), saya untuk pertama kalinya
mengunjungi Pengadilan Negeri Jakpus untuk menunggu pembacaan vonis
atas kasus korupsi dari dua pegawai Departemen Sosial. Saya sudah
stand-by dari jam 10 pagi, walaupun saya tahu sidang-sidang di PN itu
pasti akan selalu terlambat, tapi saya tidak bisa ketinggalan yang
satu ini.

Sembari menunggu, mondar-mandir naik turun lantai 2 dan 3, ada seorang
bapak yang menjajakan pena-pena tinta seperti pena-pena Parker dan
Mont Blanc. Palsu, tentu saja. Paduan warnanya pun terlihat
mengagetkan, perak dan emas bercampur menjadi satu. Padahal yang satu
logam 'dingin' yang satunya lagi logam 'hangat'. Dan saya percaya,
keduanya tidak bisa dicampur dalam kombinasi apa pun.

Si bapak berpeci, yang sambil menunggu pembeli tak henti-henti membaca
Quran mini, menawarkan pena-pena tersebut dengan harga yang lumayan
murah. Rp 15, 20, 30 dan yang paling mahal 40 ribu. Saya sempat
melihat-lihat dan akan memilih, tapi si bapak tidak menggubris saya
atau menghentikan membaca Qurannya untuk melayani saya. Saya pun
sungkan mengganggu si bapak.

Tapi, saat menunggu di lantai 3, si bapak saya lihat berjalan
berkeliling dan mendekati tempat duduk saya. Langsung saja, saya
menunjukkan minat ingin membeli, tidak lupa membayangkan menulis di
buku harian indah dengan pena yang old-fashioned itu. Dan si bapak pun
meletakkan koper dokumennya, yang di atasnya terdapat kotak-kotak
berisi berbagai macam pena, di kursi panjang yang saya duduki.

Setelah memilih, akhirnya saya membeli sebuah pena roller dan sebuah
pena tinta yang ujungnya seperti belati itu. Pena rollernya bekerja
lancar, tetapi pena tintanya, ketika digoreskan, hanya membekaskan
tanda tekanan pada kertas.

"Itu belum diisi, neng. Saya isiin dulu ya," kata si bapak, yang
langsung membuka kopernya, mengeluarkan botol besar tinta Parker,
sebuah sapu tangan penuh noda tinta, dan sebuah buku corat-coret.

Sudah lama sekali saya tidak melihat orang mengisi tinta pada pena,
dan saya melihat kelihaian si bapak penjual pena mempraktekkan prinsip
kapilaritas pada pena yang saya beli, dengan takzim. Akhirnya, dua
pena tinta yang asalnya berharga Rp 20 ribu itu saya tawar Rp 30 ribu
untuk dua. Dan si bapak mengizinkan.

Selain pena, masih ada benda-benda lain yang saya beli dari saat
liputan, seperti kemarin Jumat siang, sebuah mesin jahit tangan dari
penjaja yang naik ke metromini 64 saat ngetem di Cawang menuju ke
Pasar Minggu. Murah, cuma seharga Rp 10 ribu. Kesempatan bagus untuk
belajar menjahit dan menghasilkan sebuah karya, pikir saya. Ada lagi
satu set boneka kecil anak-anak, memakai pakaian seragam, dengan gaya
rambut ekor kuda dua, tetapi berganti warna rambut coklat dan kuning,
dari jembatan penyeberangan di Bendungan Hilir, saat saya sedang patah
hati untuk pertama kalinya. Harga satu set, berisi enam boneka plastik
tersebut lumayan mahal, tidak mau turun dari Rp 25 ribu.

Pernah juga membeli serentengan gelang dari bahan karet tebal berwarna
hitam, yang totalnya seharga Rp 12 ribu, dari depan RSCM ketika
meliput korban kecelakaan KRL Pasar Minggu. Saya ingat, itu perhentian
terakhir saya dari tiga rumah sakit yang harus saya datangi hari
Minggu itu. Pertama, di RS Pasar Rebo, lalu ke RS...apa ya namanya? Di
Pasar Minggu itu, lalu RSCM terakhir, hanya untuk melihat keadaan
seorang bayi yang terpaksa lahir prematur, karena ibunya berada di
kereta yang mengalami kecelakaan itu. Bayi itu, setelah dipindahkan
untuk mendapat perawatan yang lebih intensif hanya atas dasar
berjaga-jaga karena dia sebenarnya sehat-sehat saja kata si perawat,
ternyata tidak selamat. Tapi saya baru mengetahuinya beberapa hari
sesudah membeli gelang itu.

Dan ketika saya menyurvei (atau mensurvei, Pak Remy Sylado?) harga
ayam, saat isu flu burung sedang hangat, di pasar Tanjung Duren alias
pasar Kopro di Jakarta Barat (yang kemungkinan tidak akan sering saya
datangi karena saya tinggal di Jakarta Timur), saya membeli satu set
teko teh/kopi--dengan saringan menempel di bagian tengah--dan dua
cangkir dengan harga Rp 15 ribu. Oh ya, dan sebutir lemon. Lalu ada
sekotak pulpen isi 12 seharga Rp 5 ribu yang saya taruh di laci meja
kerja saya di kantor, sebagai stok. Tapi sejak 3 bulanan lalu sampai
sekarang, baru terpakai satu.

Jumat minggu lalu (14/10), saat hendak menuju GKJ, saya hampir saja
membeli hiasan kupu-kupu, sekedar pengingat malam itu, bahwa untuk
pertama kalinya saya masuk ke dalam GKJ. Tapi saya urung, padahal saya
sudah menginginkan hiasan tersebut sejak siangnya.

Hmm..jadi intinya?

Mungkin...saya tidak ingin, hidup saya berjalan begitu saja tanpa
sisa. Harus ada kenangan, ada memento, ada obyek yang membantu
mengingatkan, karena ingatan saya terbatas. Dan saya berharap,
benda-benda dari tempat-tempat aneh ini membantu mempertahankan
warna-warna yang pernah lewat di hidup saya.

Friday, October 21, 2005 

13 Conversations About One Thing

Aku nonton film ini, satu bulanan yang lalu ada kali. Walaupun banyak
hal yang bisa direnungkan dan dicermati dan ditulis tentang film itu,
aku nontonnya dalam keadaan setengah ngantuk. Jadi butuh ditonton
sekali lagi sepertinya. Dan kali ini, dengan buku catatan dan remote
control untuk mem-pause.

Tapi, kemarin malam baru ngeliat buku coret-coretan. Dan aku ternyata
sempet nulis quote ini selesai nonton "13 Conversations..":

'Wouldn't it be great if we can see the future, but life would only
makes sense if we look at it backwards. Too bad, we have to live it
forward.'

 

Wawancara The Guardian dengan Ethan Hawke

Kok jadi copy paste-an ya? Anyhoo, The Guardian selalu menulis
wawancara dengan menarik, dan kali ini subyek dan topiknya emang
menarik; Ethan Hawke. Dia bicara banyak tentang coming-of-age,
keberanian menerbitkan buku, dan tentang argumen pilihan-pilihan
filmnya; antara komersil-non pilihan.

Another sunrise

Ethan Hawke is an actor who takes risks. It's why he went back to
college after his big film break, why he chanced ridicule by writing
novels, and why he loves those challenging roles. Dan Halpern meets
him

Saturday October 8, 2005
The Guardian

Tough and tender ... Ethan Hawke in Lord of War and Before Sunrise

Last month, Ethan Hawke moved out of the Hotel Chelsea in Manhattan.
He'd been living in the former home of Dylan Thomas, Arthur Miller and
Sid Vicious for two years, having moved in amid the very public
dissolution of his marriage to the actor Uma Thurman. Since then,
their two children, Maya and Roan, have split their time between the
Chelsea and Thurman's home. "My daughter is like the Eloise of the
place [the storybook character who is everybody's best friend at the
New York Plaza Hotel]. She knows everybody. I think - I hope - that
this will be a magical place for her in memory." A few days before the
moving vans come, we are standing in the lobby, where a large,
somewhat alarming sculpture of a very pink woman on a swing hangs from
the ceiling.

Article continues
To an extent, the Chelsea has been a magical place for Hawke: it's
where he directed his first movie, Chelsea Walls, a rambling, moody
piece about a collection of artists, alcoholics and ruined lovers,
released in 2001. It's one of the things he is proudest of - along
with his novels, The Hottest State and Ash Wednesday, and the work he
did with Richard Linklater and Julie Delpy on Before Sunrise and, more
recently, Before Sunset.

Now Hawke, 35, who became the thinking girls' poster boy in the 90s
thanks to smart, complicated performances in films such as Reality
Bites and Gattaca, is leaving the temple, moving into his own place in
the neighbourhood. It's been a productive couple of years - he has
starred in four very different movies, two plays off Broadway, and
begun work on a third novel - but it's time to find his own feet.

"When you start young, your fear is, you're always worrying, is it
over?" he says over lunch in a restaurant not far from the hotel.
Dressed in jeans and a tracksuit jacket, he is, surprisingly, more
handsome than he appears on screen. "Have I had a great run and now do
I have to adjust to, 'Hey, when I was in my 20s, I was kind of a
famous actor'? But the truth is, I've never wanted to be a movie star
- and I've been pretty clear about that."

What he always wanted to be was an actor. The celebrity part just
happened, and early - a function of his starring role in Dead Poets
Society when he was just a teenager. "People look at your life and see
things as a big deal that aren't a big deal to you. What I mean is,
the chapter breaks are different for me. I'll read about my divorce,
and what people think about it, and, well, it's so inaccurate,
usually, but the fact is, I wouldn't want it to be accurate. Because
it's my truth. When I was younger, it was more important to me to come
off well. Now, I just want to try to be good at what I do." He gives
just the gesture of a shrug, and a grin that has a lot of lamb and a
little bit of wolf about it.

He's decided to trust people, he says - no mean feat after the flaying
he took in the press after his split with Thurman. (He was
photographed with a waitress while filming in Montreal, and was
variously accused of being a serial philanderer, envying Thurman her
career - she was shooting Kill Bill at the time - and wanting a
stay-at-home wife.)

Hawke says he refuses to let the attention affect his choices, in
either his career or his life. "Everybody who gets divorced
experiences gossip. The real human issues are really the same. My
friends who know me well say I have incredible powers of denial. My
daughter said a funny thing to me the other day. She said, 'What's
Training Day [the 2001 movie he made with Denzel Washington]?' And I
said, 'Why?' She said, 'Because when we walk down the street, I keep
hearing it, everybody's saying, "Training Day, Training Day",
whispering, "Training Day." ' I just block it out. And it's gotten me
into some trouble. When my marriage is falling apart, I'll kiss a girl
in a bar with everyone watching and not give a shit because I've just
blocked it out. I've forgotten that I'm going to have to read about
it. I mean, what a moronic move! But I just want to move through space
like a human being and nothing else, and sometimes I forget I don't
always get to."

As an actor, Hawke has tended to go for unusual, complex parts in
unusual, complex movies. And on stage, too: while living in the
Chelsea, he played the combustible Hotspur in a well-received Henry
IV, and starred as a deeply unlikable character in the off-Broadway
hit Hurlyburly. He says Training Day, in which he plays a naive rookie
policeman corrupted by one of modern cinema's most watchable,
complicated villains (an extraordinary Denzel Washington), was a major
turning point in as much as it showed him that a film could be both
subtle and entertaining, a critical and a commercial success. "When
you can thread that needle," he says, "a movie that doesn't pander,
but is still entertainment, that's a great goal. I'm always faulted
for, well, I was never interested in entertainment. Until recently.
Then I kind of played around with the idea: what kind of
responsibility do you have as an entertainer? Everyone has a role in
the community. I know there's a great percentage of people out there
who don't want to spend their Saturday night seeing Before Sunset -
two people sitting around yammering about their middle-class problems.
Training Day was my best experience in Hollywood. And a lot of that
you have to give up to the fact that, pure and simple, Denzel
Washington is a great movie star. Each generation there's two or three
- and he's it."

That doesn't mean Hawke is completely sold on the genre. "A lot of
these movies, they're really enjoyable to see. Really, it's like
smoking crack or something: you walk out, and you feel diminished by
it. It's eye candy, just violence and sex. Definitely lots of sex,
people making out or showing their tits, which is always fun, but it
wasn't what I wanted to do with my life. I tried it - I tried doing
this Angelina Jolie movie [Taking Lives, 2004], a popcorn movie, the
first movie I did that's about nothing. And I didn't like it, because
I do ultimately feel there's enough crap like this. It's so much more
fun and harder and more challenging to try to make something that's
entertaining but isn't wasting your time."

His new film, Lord Of War, is the story of an amoral arms dealer
(Nicolas Cage), a morality tale with a clear political point of view
that still supplies the guns and girls that audiences seem to require.
Cage, as Yuri Orlov, a Ukrainian émigré in Brooklyn, supplies arms to
whomever wants them, with no second thought as to the consequences.
Hawke is an Interpol agent in vain, dogged pursuit. It's an ambitious
film, inspired by genuine political and social outrage, but the
critical response in the US has been mixed. One reviewer complained
that the film is self-defeating: while the script is clearly
anti-guns, visually it can't help but celebrate them.

"The irony is that that criticism is the only reason this script got
made, that the guns are sexy," Hawke says. But it's also the point of
the film. "The devil is seductive, and so guns are glorious in the
culture. I understand there's a case to be made. For instance, Spike
Lee said something like this, that you can't have a scene with drugs
in a film that doesn't secretly make you want to do drugs. In the same
vein, it's hard to make a movie that's anti-violence because the very
nature of photographing violence eroticises it. But I'm not so sold
that that's true."

His role is fairly small, without much room for character development,
but he took the part largely as an expression of his faith in its
writer-director, Andrew Niccol, whom he met when Niccol directed him
(and Thurman) in the 1997 sci-fi film Gattaca. "I think Andrew ought
to be permanently funded," he says. "I've read his scripts that
haven't gotten made. He has this beautiful futuristic movie that's a
metaphor for the Israel-Palestine issue - it's an incredible script, a
morality tale - and Ewan McGregor and I wanted to do it, and there was
no way we could get the movie done. There's not enough violence in it,
if you can believe that. It's the violence that gets the movie made."

Hawke was born in 1970, in Austin, Texas, where his parents were
students. The marriage broke up when he was three. His mother
remarried, and he was living with her and his stepfather in New Jersey
when, aged 14, he asked her to let him go to a casting call in New
York. He landed in Explorers, playing a kid dreaming of aliens
alongside River Phoenix, who was also making his film debut. "In
hindsight now," he says, "it seems, how the hell did that happen?" But
even that couldn't have prepared him for 1989's Dead Poets Society,
the prep school coming-of-age hit starring Robin Williams. After
filming it, "I decided I didn't want to be an actor and I went back to
college, to NYU as an English major. But then the [film's] success was
so monumental that I was getting offers to be in such interesting
movies and be in such interesting places, and it seemed silly to
pursue anything else."

His performance as a shy student transformed by an inspiring English
teacher was raw and furiously emotional, and got Hawke a good deal of
attention. But it wasn't until 1994 that he made the film that
established him as the representative of his generation's hipster
intellectualism: Reality Bites, an ensemble piece about college
graduates with no idea how to move around in the adult world. Hawke
plays Troy, a sexy, greasy philosopher-prince of slack who spends most
of the movie lying on the couch, mocking the ambitions of his
girlfriend (Winona Ryder) and generally perfecting his supercilious
boy-man act, smarter and holier and far, far cooler than thou. It was
a canny, subtle performance and, almost inevitably, Hawke was mistaken
for his character.

"He's very appealing on one level," says Hawke, "and very unappealing
on another - arrogant, self-absorbed, narcissistic." Then there was
Linklater's Before Sunrise, released in 1995, essentially one long
conversation between Hawke and Julie Delpy, or their characters, Jesse
and Celine. It wasn't the sort of film Americans were used to: the
story of a single night, an exploration of the connection between two
people, with Hawke as an American coming to the end of an
Inter-Railing trip through Europe, a little unsure of himself but also
a little youthfully cocksure, and Delpy as a Parisian student heading
home. The film firmly established him as the anti-Cruise. Two years
ago, Delpy, Hawke and Linklater collaborated again on Before Sunset;
Jesse is now a successful writer, unhappily married with a child, and
when he meets Celine again in Paris the old feelings return.

The film came out shortly after Hawke's divorce, and naturally critics
jumped on the overlap, seeing the miserably married Jesse as a piece
of autobiography. But how does Hawke see Jesse - is he a cad or a
romantic? "He's feeling these incredible things for her, and he's an
incredibly unhappy guy at that moment in his life. She's an oasis, of
sorts," he says, "and whether it's substantive or just lust ... Well,
I feel it's a pretty subversive thing to do in the United States of
America, when you want the guy to cheat on his wife at the end of the
movie. In Tom Hanks's America, in Steven Spielberg's America, I felt
really proud of that."

The best thing about the film, he thinks, is Delpy's part. "What I
love about Celine, what I felt really proud about that script, is that
she's really a fully dimensional woman. It's very rare in movies that
you don't see a male projection of a fantasy woman. I mean, Julie
deserves 90% of the credit, 100% of the credit, but I feel proud of
the collaboration that created that character. Her work in that movie
is my favourite thing about it."

He will admit that there is an autobiographical element to his work.
"I do deal in emotional currency. I try to turn my emotional life into
something that might have value to somebody else. You can say Jesse is
autobiographical, but he's also indicative of what a lot of men of my
generation are going through, don't you think? And if I don't tell the
truth from where I come from, how can I begin to hope to say something
that might be truthful to somebody else?"

Playing himself in a completely literal sense is not what he has in
mind, though. "The person who's had the most impact on acting since
Marlon Brando," he says, "the only person who's really changed acting,
is Julia Roberts. I call it the Julia Roberts School of Acting. It's
an excess of competence. She's got all these imitators, and they just
basically get on screen and smile. The idea is, smile and say your
line. And Julia Roberts herself - well, that's one thing. But she has
a ton of pupils who get on screen and basically just smile. And their
smile is so winning, and so wonderful, that you say, 'I like that
person.' And it drives me crazy, because the point of performance is
not to be liked. My grandfather's a politician [a Texan Democrat], and
he can never understand. He says, 'You've got to stop playing these
people no one would ever like!' But my job is not to be liked. It's to
make interesting things. I want to actually do something, rather than
just be me on screen. Julia Roberts does something with it, but all
her imitators ... It's like the imitators of Raymond Carver, that
generation of writers copying him, I guess: it looks simple to them
and they copy it, but they're missing the thing that made it special."

Writers are just as important to Hawke as actors. He published his
first novel, The Hottest State, in 1996, about a love affair between a
young actor and a singer. "Writing the book had to do with dropping
out of college, and with being an actor. I didn't want my whole life
to go by and not do anything but recite lines. I wanted to try making
something else. It was definitely the scariest thing I ever did. And a
huge learning experience about how not everybody's going to like you,
or like what you do. And you have to ask yourself, is it worthwhile?
Or am I just doing it to be liked? And it was just one of the best
things I ever did. The second book was so much more fun because of
that. The first was just a novelty act, like, 'The kid from Reality
Bites wrote a book? Who does he think he is?' And I understand that."

His second novel, Ash Wednesday, published in 2002, a road story about
an awol soldier and his pregnant girlfriend, owes some debt to the
likes of JD Salinger and Jack Kerouac, but Hawke has a strong, clear
voice. There are many of the concerns that dominate his acting work
from the same period, particularly representations (and
self-representations) of masculinity. "I had a huge depression when my
marriage split up," he says. "But Before Sunset and Hurlyburly ended
up being these giant vents for me, to let it blow through. No matter
how screwed up I was, I was never as screwed up as Eddy in Hurlybury,
the woman-hater."

When he writes, he says, he isn't restricted to the male role: Ash
Wednesday is written in two voices, alternating between the soldier
and his girlfriend. It's his books that take up most of his attention
now: he is planning to direct a film of his first novel, while also
working on the third. "I had felt, from very early on, that the arts
are one thing. I don't know why everything had to become so
specialised," he says. "Actors write movies all the time - but you try
fiction and you're an asshole. Everyone wants to try new things, or
almost everyone. Really great supporting actors want to play the lead,
and lead actors secretly wish they could be character actors. Brad
Pitt doesn't want to be pretty! You know what I mean? Everybody in the
world wants to look like Brad Pitt, and Brad Pitt wants to look like a
regular guy. The general assumption was that I wanted to be taken
seriously. And I understood that, but I knew my own aim - I wanted the
experience. I knew if I wanted to be taken seriously, I should stay an
actor, because I'm a good actor. And it seemed like a lot of fun.
You've got to be curious in this life. You've got to be a little
enthusiastic. I mean, you need a willingness to fail. You've got to be
willing to fall on your face once in a while. And then there was a
rude awakening: hey, man, the whole world isn't here to kiss your ass
and tell you you're wonderful. I'm grateful for it."

At this moment the bill arrives, accompanied by fortune cookies.
"Always so generic," Hawke says, opening his. He reads it. "Yeah.
What's yours?"

"'He who hurries cannot walk with dignity,'" I say.

"That's pretty great," Hawke says. "Yours is better than mine. Mine
is, 'The star of riches is shining on you.' I'd rather walk with
dignity."

 

Tentang Energi

Hanya sekedar copy paste aja...(lagi agak kehilangan arah nih)

"The single biggest difference between people who get what they want
and people who don't is energy," says Mira Kirshenbaum,
psychotherapist and clinical director of the Chestnut Hill Institute
in Boston. In this excerpt from her new book, The Emotional Energy
Factor, she explains how to harness it so you can live the life of
your dreams.

Simple Strategies

1. Do something genuinely new.

Very little that's new occurs in our lives. The impact of this
sameness on our emotional energy is gradual, but huge: It's like a
tire with a slow leak. You don't notice it at first, but eventually
you'll get a flat. It's up to you to plug the leak -- even though
there are always a dozen reasons to stay stuck in your rut. That's
where Maura, 36, a waitress and would-be caterer, found herself a year
ago.

Fortunately, Maura had a lifeline -- a group of women friends who meet
regularly to discuss their lives "like on Sex and the City," she says,
"but without the sex, the city and the gorgeous clothes!" The women's
lively discussions about how to shake up their lives spurred Maura to
make small but nevertheless life-altering changes. She joined a gym in
the next town. She took up yoga. She changed her look with a short
haircut and new black T-shirts. Eventually, Maura gathered the courage
to quit her job and devote herself full time to her fledgling catering
business.

Here's a challenge: If it's something you wouldn't ordinarily do, do
it. Try a cuisine you've never eaten. Drive home via a different,
scenic route. Listen to music you'd ordinarily tune out. You'll
discover that small gestures pack a powerful emotional energy punch.

2. Reclaim life's meaning.

So many of the patients in my psychotherapy practice tell me that
their lives used to have meaning, but that somewhere along the line
things went stale. The foundation is there, but the urgency is
missing.

The first step in solving this meaning shortage is to figure out what
you really care about, then do something about it. That's what meaning
is: a heartfelt concern that is woven into your everyday life. A case
in point is Ivy, 57, a pioneer in investment banking. "I mistakenly
believed that all the money I made would mean something," she says.
"But I feel rudderless, like a 22-year-old wondering what to do with
her life." Ivy's solution? She started a program that shows Wall
Streeters how to donate time and money to underprivileged children. In
the process, Ivy infused meaning into her own life.

3. Put yourself in the fun zone.

Most of us grown-ups are seriously fun-deprived, and it shows in our
flagging energy levels. High-energy people have the same day-to-day
grinds as the rest of us, but they manage to find something enjoyable
in every situation. A real-estate broker I know, whose work load is
enormous, keeps herself amused -- and energized -- on the job by
mentally redecorating the houses she shows to clients. "I love
imagining what even the most dilapidated fixer-upper could look like
with a little TLC," she says. "It's a challenge -- and the least
desirable properties are usually the most fun."

We all define fun differently, of course, but I can vouch for this: If
you lighten up and inject just a bit of it into your day, your energy
will zoom.

4. Bid farewell to guilt and regret.

Everyone's past is filled with regrets, mistakes, and missed
opportunities that still cause pain. These feelings are an index of
our humanity, evidence that we have a heart and a conscience. But from
an emotional energy point of view, they are deadweights that keep us
from moving forward. While they can't merely be willed away, I do
recommend you give yourself a good talking-to. Remind yourself that
everyone has negative experiences. But whatever happened is in the
past, and nothing can change that. Holding on to the memory only
allows the damage to continue into the present.

5. Keep your flywheel spinning.

People always talk about finding a passion, but something that exalted
can end up being more draining than energizing. That's why I talk
about flywheels, mechanical devices that store energy, then give it
back to you as needed. High-energy people always have a flywheel -- an
interest they connect with, no matter how eccentric. For Leslie, 29,
that flywheel is collecting antique recipes. She loves to browse
secondhand bookstores for old cookbooks. "I feel like an archaeologist
who finds a rare dinosaur bone, only I bring the dinosaur back to
life," she says.

If you don't have a flywheel, find one. Anything fun and absorbing
will do, from bike riding to gardening. Anticipating the activity can
get you up in the morning and get you through an otherwise blah day.

6. Make up your mind.

Say you've been thinking about cutting your hair short. Will it look
stylish -- or too extreme? You endlessly mull it over, debate the
matter with friends. Having the decision hanging over your head is a
huge energy drain. High-energy people make a choice and don't look
back. The emotionally exhausted stay stuck, forever vacillating. Every
time you can't decide, you burden yourself with alternatives. How to
break the impasse? Quit thinking that you have to make the right
decision; instead, make a good-enough decision. Any decision. Decide
what you're going to eat tonight. Then decide about the haircut. That
will get you in the ballpark of deciding about your future. In
emotional energy land, what matters is ending your ambivalence.

7. Give to get.

Emotional energy has a kind of magical quality: The more you give, the
more you get back. This underscores the fundamental difference between
emotional energy and physical energy. With the latter, you have to get
it to be able to give it. With emotional energy, however, you get it
by giving it.

But you have to take specific action. Start by asking everyone you
meet, "How are you?" as if you really want to know, then listen to the
reply. Be the one who hears. Most of us also need to smile more often.
If you don't smile at the person you love first thing in the morning,
you're sucking energy out of your relationship. Finally, help another
person -- and make the help real, concrete. Give a massage to someone
you love, run an errand for him, or cook her dinner. Then, expand the
circle to work. Try going through an entire day asking yourself what
you'd do if your goal were to be helpful rather than efficient.

After all, if it's true that what goes around comes around, why not
make sure that what's circulating around you is the good stuff?

Sunday, October 16, 2005 

Pertemuan Pertama yang Sempurna

Ada nggak sih sebenarnya itu? Aku (mungkin karena emang hopeless romantic ya) punya beberapa skenario tentang pertemuan pertama yang sempurna itu. Contoh salah satunya: di sebuah toko buku, aku lagi ngambil "High Fidelity"-nya Nick Hornby dan mengambil-ngambilnya, dan cowok di sebelahku ngeliat apa yang aku ambil. Lalu dia tersenyum dan berkomentar, "buku yang bagus. Rugi kalau nggak baca," lalu tersenyum lagi dengan ramah.

"Oh, aku udah mbaca berkali-kali kok. Cuman lagi refresh my memory aja, dulu sering mbaca, pinjem temen, tapi sekarang kita udah pisah," kataku sambil membalas tersenyum ramah. (Btw, hey you Nina, pemilik "High Fidelity" yang rela bukunya nginep lebih sering di tempatku, daripada tertata secara alfabetis di lemari putih di kamarnya, how are you girl?).

Lalu si cowok akan menaikkan alisnya, tanda ber-oh. Tapi terus menambahkan, "Hmm..top 5 favoritmu yang mana?"

Dan keningku akan berkerut, mencoba mengingat yang mana yang aku sukai. Sementara di bawah kening berkerut itu, secara frantic otakku bekerja cepat, mengolah informasi dari apa yang sudah pernah dibaca sebelumnya, tapi jawaban tak kunjung didapat.

"Ermm..ermm," dalam keadaan cemas, otak percuma disuruh bekerja, tapi dengan sigap, entah dari mana, sebuah ide muncul, "can we talk about this over coffee?" Dan si cowok akan tertawa lepas sebelum akhirnya mengiyakan. Skenario itu terasa makin sempurna, karena dalam percakapan terungkap, si cowok ramah itu masih single, dan alur tukar kata kami mengalir dalam nada yang "Before-Sunrise-Before-Sunset-esque". Hehehe.

Anyway, entry ini sebenarnya diinspirasi dari Sabtu malam lalu, saat aku bersama seorang teman menaiki tangga menuju ke lantai atas. Aku, menunggu antaran jam 10, sementara si teman pria, si investigator di ambang 30, akan bertugas piket malam itu. (Lame, I know, me and him, malam minggu di kantor, *sigh*). Saat menaiki tangga, telepon genggam sang investigator andalan itu berbunyi. Dan otakku sedang berkutat dalam 'autis-mode', sehingga aku tak mengikuti arah pembicaraannya.

Sakelar 'connect-to-earth' baru menyala ketika si teman mengatakan: "Lagi di mana? Apa sudah siap-siap mau tidur?"

Dan dari analisa cepat akan gestur, intonasi, dan bahasan, bisa disimpulkan, bahwa si lawan bicara adalah the (future) significant other. Cara mereka mengucapkan selamat tinggal pun menguatkan asumsi itu.

"Lho, dia lagi di mana sih?" tanyaku. Sebenarnya aku pernah menanyakan ini sebelumnya, dan si teman pernah beberapa kali menceritakan, tapi aku selalu lupa.
"Di Jakarta," jawabnya singkat.
"Lho, lagi di Jakarta?" tanyaku lagi, kali ini kaget, pantas saja dari minggu-minggu kemarin ia mengeluh karena malam minggunya selalu dihabiskan di kantor.
"Enggak, aku udah putus sama yang di Surabaya. Ini yang baru di Jakarta," jawabnya datar, tanpa emosi.
"LHO? UDAH PUTUS? KAPAN?" tanyaku, kali ini terasa berlebihan, karena si teman ternyata tidak menunjukkan penyesalan atau kesedihan atau apa pun. (Huh, cowok dimana-mana sama aja).
"Jangan tanya," katanya berdalih.
"Lho, aku cuman mo survey aja," kataku berusaha mengambil beberapa langkah mundur untuk menembus batu. "Kok udah bisa cepat ketemu lagi itu lho," kali ini taktik yang berbicara.
"Ya sekitar sebulan dua bulanlah," jawabnya, lagi-lagi dengan acuh tak acuh.
"Ketemunya ama yang baru gimana?" cecarku.
"Ya, aku nggak nyari yang aneh-aneh, cuma nyari temen ngobrol, kalau kenyamanan muncul, ya sudahlah," jelasnya, tapi tetap saja tidak gamblang. Dan akhirnya dia malah menguliahiku tentang betapa cewek selalu tidak menggunakan otaknya ketika mengatasi kehilangan, sehingga dia menemukan orang baru dalam satu, dua bulan adalah sesuatu yang wajar dan sehat, sementara aku yang terlalu lama berada dalam periode berkabung, adalah sesuatu yang...terbalik menurut logikanya.Dan ketika mencoba mendebatnya, aku merasa suaraku mulai bergetar, sehingga aku melihat ke arah lain. Ergh menyebalkan. Kuliahnya tentang logika dalam kehilangan dan suara bergetarku.

"Ketemunya dimana?" aku benar-benar penasaran. Dan aku ingin segera mengalihkan pembicaraan.
"Ya pas sama-sama nyari dvd. Kita mulai ngobrol, trus tukeran kartu nama, trus dua hari kemudian dia nge-sms, terus ya sudah," jawabnya.

Reaksi pertamaku: "IHHHHH! KOK BISA SIIHH? Itu kan salah satu skenario impianku, which means, tidak aku harapkan terjadi di dunia nyata. Dan ternyata ketika kejadian, dialami orang lain!"

Heiigghh. Mengesalkan.
Btw, aku juga kesel ama sek-red yang tidak mau nyetakin kartu nama sampe sekarang.

Selain skenario itu, dan yang di atas, masih ada skenario-skenario lain, seperti:
1. ketemu di konser jazz, but please don't let him be a jamiroquai fan.
2. ketemu di peluncuran buku, atau diskusi buku, festival film, pameran lukisan atau benda seni lainnya, tapi kayaknya cuma aku ya yang menjadikan hal-hal ini sebagai aktivitas soliter.
3. pas lagi nyari cd atau buku
4. kayaknya harus dicari lagi skenario lain, biar bisa dipraktekkan, hehehe.

Tapi anyway, ada yang punya skenario pertemuan pertama yang sempurna? Atau malah skenario pertemuan pertamanya kejadian beneran di dunia nyata? Let me know.

 

A Mighty Fall

Ruangan gelap itu sudah sedari tadi terasa sejuk. Permainan lampu dan bunyi di panggung bawah sana bercampur dengan tawa keras dibuat-buat seorang gadis muda usia kuliah di sisi kanan, yang tampaknya terlalu senang melihat teman-temannya berakting di bawah sorotan warna-warna. Tapi tontonan yang diberikan teman-temannya terasa cukup menghibur. Tapi aku tidak benar-benar mengerti, apakah memang para aktor di bawah sana melakukan sesuatu dengan benar atau tidak. Tapi balkon yang aku pilih sepertinya terlalu jauh untuk mengapresiasi secara detil.

Tiba-tiba, kantung depan tas buatan Bali berwarna oranye mulai bergetar. Tidak sekedar bergetar, kantung depan itu mulai menyala terang, asalnya dari lampu LCD sebuah layar mini ukuran 4x4 cm.

"Ah, mungkin cuma sms," harapku. Tapi getaran terus berlanjut. Perlahan aku keluarkan telepon genggam putih itu. Nomornya terlihat asing. +62411xxxxxx. "Dari mana ya?" kataku lagi. Tapi aku tidak langsung menekan 'yes' dan mengakhiri getarannya. Aku mengamati nomor itu lagi, mencoba mencari tahu siapa yang akan aku hadapi.

Akhirnya,

"Halo?" bisikku.
"Mbak Nari?" kata suara seorang adam di seberang sana.
Terkaget, otakku mencoba mencocokkan suara itu dengan karakter-karakter adam yang pernah mampir di hidupku, tapi rol film yang berputar tak kunjung memberikan sebuah jawaban. "Sebentar, sebentar," kataku meminta si penelepon bersabar.

Dalam gelap, aku mencoba mencari jalan keluar, agar tak mengganggu yang lain. Tak sulit sebenarnya menentukan arah, karena pintu-pintu masuk ke arah balkon tetap dibiarkan terbuka, sehingga cahaya terang dari ruang luar terpancar jelas. Dengan gerakan menyelinap, aku berbalik ke kiri, menaiki satu anak tangga, melewati satu barisan kursi di belakangku. Aku berusaha bergerak cepat, agar si penelepon tak segera menutup atau menghabiskan terlalu banyak biaya untuk waktu yang tidak efektif. Mataku sudah langsung tertuju ke arah pintu yang memendarkan cahaya kuning, sedangkan di dalam ruang pertunjukan itu benar-benar gelap. Dan ketika yang terjadi selanjutnya adalah debuman keras, seharusnya aku sudah tahu, itu adalah badanku yang terjatuh karena tidak menyadari ada satu anak tangga yang harus aku turuni di belakang deret kedua. Untuk beberapa saat lagi aku tetap dalam posisi itu, tertidur tengkurap penuh, dengan rasa ngilu mulai terasa di bahu, pergelangan tangan kiri yang tertiban berat badan, dan kaki kiri yang nyeri sedikit karena terpelintir.

Aku benar-benar tertelungkup di atas karpet merah itu, tepatnya terhisap, karena sepertinya gravitasi tiba-tiba dalam sekejap menjadi berkekuatan mega dan di perutku tiba-tiba tertempel sebuah lempengan magnet raksasa.

Aku bisa mendengar seseorang mengatakan, "Waduh." Dan ketika aku mengangkat kepalaku ke kiri, aku melihat seseorang itu melihat ke arahku. Dan aku bisa mendengar seorang perempuan mengeluarkan bunyi kekagetan. Tetapi suara-suara dari panggung tetap terdengar meriah. Dan, "aduh, aduh" pelanlah yang cuma bisa aku keluarkan.

Berjalan dengan badan yang condong ke kiri menahan sakit, aku kembali berjalan menuju cahaya kuning.

"Hah-loh?" kataku akhirnya, masih menahan dada kiri yang sakit karena jatuh dan dipaksa berbicara.
"Nari?" suara ramah itu lagi-lagi memanggil.
"Iyaa..." nada suaraku terdengar menggantung, belum mengenali siapa yang memanggil-manggil namaku.
"Ini Denny," kata suara ramah itu.
"Denny? Denny Dhanio?" tanyaku meyakinkan.

(Aku tahu kok Denny, itu memang kamu yang menelepon. Tapi akhir-akhir ini aku mengenal beberapa Denny, dan walaupun wajah-wajah mereka tidak muncul dalam ingatan, entah kenapa aku masih butuh waktu untuk meyakinkan kalau itu benar kamu. Mungkin, sahabat, karena sekarang kita terlalu jauh. Aku cuma ingin meyakinkan, kalau itu benar-benar kamu yang menelepon, dan teleponmu bukan cuma mimpi.)

"Iyaa," nada suaranya kini terdengar lega dan lebih hangat. Tapi, tanyanya, "Did I call in a bad time?"
"Errm... sebenarnya aku lagi nonton teater sih..tapi..."
"Oh, oh ya udah, nggak pa-pa, I call another time. Besok yaaa," (herannya, nada suaranya terdengar tetap ramah. Kalau itu aku, hmm.. aku kayaknya bakal bete deh..but then again, am not as mature as he is).
"Oke, oke, thank you. Makasih yaa," kataku otomatis.
"Oke, sampai besok deh," tutupnya, masih dengan nada simpatik.

Akhirnya, aku menggunakan kesempatan jatuh itu untuk berpindah tempat. Lebih untuk menghindari tawa hyena si mahasiswi overacting itu (apakah dia seorang mahasiswi jurusan teater? Kalau iya, aduh...berarti masih banyak yang harus dipelajarinya tentang akting, karena gayanya malam itu...overacting), daripada untuk menghindari rasa malu.

----

Setelah dipikir-pikir lagi, kenapa coba aku tidak menyuruh Denny terus cerita aja? Huks, sampe Sunday morning jam 6.47, dia belum nelpon lagi. Terus, pengalaman lain yang aku dapet dari nonton "Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek" malah lebih ke komentar si mbak hyena di sebelahku sih. Salah satu karakternya, seorang...(apa ya tepatnya?) pengamen tradisional mungkin? diperankan seorang mbak-mbak berpakaian penari Jawa tradisional, tapi dalam versi yang tidak ribet. Tapi tetep, kembennya diikat ketat, dengan baju berbelahan dada yang agak rendah. So indeed, the cleavage terlihat.

Si mbak-mbak tawa palsu di sebelahku tak henti berkomentar: "Ih, si ini toketnya boleh juga ya?"
Dalam hatiku: Iri ya mbak?

Tapi yang mbuat aku iri sama mbak toket oke itu malah lebih kemampuannya menari dengan amat sangat luwes. Gila, man. Menari tuh ada jiwanya, ketika badannya digerakkan, luwesnya tuh ada jiwanya, lenturnya juga. Haduh, iriiii banget. Pengen banget aku bisa menari dengan luwes dan penuh jiwa. Belum lagi pas dia nyanyi/nembang. Eh, itu tapi suara benerannya nggak ya? Kethoke sih beneran. Baguuuus banget. Poll, keren.

 

Fun Trash

Sabtu malem, baru sampai rumah jam 11, naik anteran, cuma sendirian aja. Dan, nggak bisa tidur, ngerasa lagi kelebihan energi aja. Wajar sih, sehariannya Sabtu itu, sebelum ke kantor isinya bener-bener cuma tidur. Akhirnya, dari 'kerjaan' yang tersedia, milih untuk nge-update playlistnya mp3 player. Lame, I know, on a Saturday night.

Tapi, anyway, dari kemarin-kemarin di jalan pengen denger John Mayer, belum masuk, Best of Aretha juga belum, akhirnya sekalian dicari semuanya yang belum masuk. Dan lumayan ada setumpuk, termasuk cd mp3 yang isinya lagu pop semua, trashy pop, seperti contohnya: Britney. Yes, that Britney. Setidaknya, 'Toxic', 'I'm a Slave for You', atau.. apalah yang lain, cukup untuk sesuatu yang bisa dikunyah tanpa perlu penghayatan dalam, kalau sudah terlalu lelah untuk merasa.

Lanjut, Aretha udah masuk semua, Marvin Gaye juga, John Mayer, dua album udah masuk, Kerispatih yang 'Kejujuran Hati' (hehehe), juga udah masuk. Dan, akhirnya, masuk jugalah 17 lagu dari Best of Britney Spears. Ok, that's done.

Masalah baru datang, ketika aku sadar, ternyata track-nya Britney semua cuma bertuliskan 01, 02, 03 gitu, dan bukan judulnya, terus juga nggak ada nama 'artist'nya dan albumnya. Padahal, biar mudah mengoperasikan, aku rada obsessed sama pengaturan dan pengarsipan yang rapi di mp3 player. Terpaksalah, ngetik satu-satu judul lagunya.

1. My Prerogative
2. I'm a Slave for You
3. You Drive Me Crazy
4. Boys
5. .....hihihihihi, kenapa jadi geli sendiri ya?

-pause mengetik, dan berpikir-

Britney mah emang lagunya lebih mudah dikunyah dibanding permen karet, lebih ringan dari popcorn, dan overall...pardon the pun, trashy. Dan aku jadi geli sendiri pas ngetik, menyadari betapa konyolnya judul-judul itu. Dan yang lebih mbuat aku geli lagi, aku tidak bisa membiarkan lagu-lagu itu tetep bertuliskan track 01, 02, 03 dst, karena nggak keliatan rapi.

Ya sudahlah, dengan tetap ketawa-ketawa geli karena kekonyolan yang 'harus' aku lakukan, tetep ngetik sampe judul terakhir, 'Everytime', selesai diketik. Fiuh, lega. Dulu aku pernah punya 'pembelaan', "ya kita harus dengerin dong yang sampah, biar bisa tahu yang mana yang emas". Tapi sekarang setelah dilihat-lihat lagi di playlist, lha kok yang sampah malah lebih banyak ya daripada yang emas? Ah, tapi tak pa-pa lah, trashy fun. Trash is fun. Yay!

*btw, aku membuang semua 'My Chemical Romance' dari playlist. I'm getting old, man. Don't understand that kind of extravagance anymore. Walopun sekarang lagi seneng Bloc Party, somehow...mereka lebih bisa...dimaklumi.*

Tuesday, October 11, 2005 

Tulisan Kedua, Cerita Romantis untuk Para Realis

Jika ada sesuatu yang dijaga kuat oleh sutradara "Before Sunrise" dan
"Before Sunset", Richard Linklater, itu adalah sisi realistis dari dua
cerita romantis itu. Dari mulai membuminya adegan-adegan yang dibangun
oleh Linklater untuk Jesse dan Celine, isi percakapan antara kedua
tokoh tersebut, sampai ke akhir-akhir cerita mereka yang selalu
bernada ambigu pun terasa nyata dan jujur.

Seperti yang dikatakan oleh Jesse, karakter yang diperankan Ethan
Hawke, pada bagian awal "Before Sunset", "Aku tidak pernah berada di
tengah-tengah adu tembak, aku tidak pernah mengalami kecelakaan
helikopter." Dan Hawke sendiri, lewat wawancara dengan harian LA Times
terbitan 20 Juni 2004, menambahkan, inti dari dua cerita ini hanya
sesuatu yang sederhana, "(intinya) adalah tentang ketersambungan
dengan manusia lain."

Kefanatikan Linklater pada kealamian percakapan antara Jesse dan
Celine terlihat sejak pembuatan "Sunrise". Linklater bertanya padanya,
"Bagaimana caranya kau mengajak gadis ini turun dari kereta dan ikut
denganmu berkeliling Vienna?" Hawke kemudian mencoba berbagai kalimat
pembuka pada Julie Delpy, pemeran Celine, dan Delpy akan terus memberi
komentar, sampai ia menemukan kalimat pembuka yang menurutnya berhasil
meyakinkannya untuk turun dari kereta.

Menghasilkan suatu karya yang realistis, natural, tapi tetap nikmat
ditonton dan menghibur adalah suatu tantangan, menurut Linklater.
"Kami harus menulisnya dan melatihnya seperti sebuah drama panggung.
Dan kebanyakan, kami hanya mengandalkan intuisi," tambahnya.

Sementara menurut Hawke, tantangan terbesarnya adalah menjaga dialog
antara Jesse dan Celine agar tetap menarik dan membawa 'plot'
ceritanya berjalan terus. "Sulit, karena percakapan antara keduanya
harus terus berubah bentuk dan bergerak maju, semakin mendalam, tapi
tidak membosankan," katanya. Idenya adalah membuat dua karakter
tersebut saling jatuh cinta secara alami hanya lewat berbicara. Ada
perhitungan matematis dalam percakapan keduanya, dan percakapan
mereka, menurut Hawke, adalah sebuah metafora dari tahap-tahap dalam
sebuah hubungan. "Pertamanya, mereka mencoba saling membuat terkesan,
lalu mereka mencoba berbicara lebih dalam, dan akhirnya mereka
ketakutan," ujarnya.

Kefanatikan Linklater pada sisi realistis juga terlihat dari setting
waktu "Before Sunset". Diambil 9 tahun setelah "Before Sunrise"
keluar, dan di dalam film, Jesse dan Celine juga tidak bertemu selama
9 tahun. Tentang pembuatan "Sunset", Linklater mengatakan, pada
awalnya ia tidak berencana untuk membuat sekuel. "Keputusan (membuat
sekuel) bukan karena permintaan orang lain, tapi karena keinginan kami
sendiri," kata Linklater.

Setiap kali mereka bertiga berada di satu kota, mereka selalu
membicarakan kemungkinan itu. "Baru pada saat kami bertiga bekerjasama
untuk 'Waking Life' (film Linklater lain yang dibuat pada 2001), kami
sadar bahwa kami harus melakukannya," ujar Linklater lagi. Kali ini,
Delpy dan Hawke terlibat jauh dalam penulisan skenarionya. "Tidak ada
motif ekonomi dalam pembuatan sekuel ini, sepertinya kami adalah film
berpenghasilan terendah yang memiliki sekuel," kata Linklater. "Before
Sunrise" 'hanya' menghasilkan US$ 5,5 juta, kecil dibandingkan "School
of Rock", film Linklater lain yang menghasilkan US$ 81 juta.

"Dua film ini adalah dua film terbaik yang saya kerjakan, dan yang
paling saya sukai," tambah Hawke. "Aku bermimpi untuk membuat yang
ketiga, karena aku melihat cerita Jesse dan Celine sebagai sebuah
magnum opus," ujarnya lagi. (dari berbagai sumber/cr55)

 

Tulisan Pertama, Tentang 'Sunrise' dan 'Sunset'

(masih tanpa judul)
Ini cuma cerita sederhana tentang 'boy meets girl'. 'Boy', Jesse,
seorang pemuda Amerika yang sedang menghabiskan musim panasnya
berkeliling Eropa menaiki kereta, bertemu 'girl', Celine, mahasiswi
Perancis yang sedang mengambil kuliah Ilmu Politik di Sorbonne, di
sebuah kereta yang sedang menuju Vienna.

Awalnya hanya sebuah percakapan basa-basi--"kau tahu apa yang sedang
mereka perdebatkan?" ketika melihat pasangan suami istri Austria yang
sedang bertengkar, ke "apa yang sedang kau baca?"--berlanjut ke
perbincangan yang mengalir lancar di gerbong makan, sampai akhirnya
Jesse berhasil meyakinkan Celine, yang akan kembali ke Paris, untuk
ikut turun bersamanya di Vienna. "Aku tidak tahu apa situasimu, tapi
aku merasa percakapan kita nyambung, dan aku ingin terus berbicara
denganmu," kata Jesse. Ketika Celine mengiyakan, dan kedua karakter
berusia 20-an itu merambah setiap sudut Vienna sejak senja sampai
keesokan paginya saat Jesse harus terbang kembali ke Amerika, "Before
Sunrise" pun mulai terisi padat dengan dialog-dialog cerdas.

Tak banyak lagi yang terjadi sesudahnya karena film berdurasi 105
menit keluaran 1995 ini nyaris tanpa cerita yang jelas, hanya tentang
melihat dan mendengar percakapan cerdas yang keluar dari hati kedua
karakternya.

Dan sambil menaiki trem berkeliling kota, menyusuri pemakaman bagi
orang-orang tak dikenal, berjalan di tengah keramaian pasar malam,
bertemu dengan peramal Gypsi dan penyair jalanan, Jesse dan Celine
nyaris tak terputus terus bertukar kata tentang pelajaran kehidupan,
percintaan, spiritualitas, masa kecil, orangtua, dan tentang
idealisme.

Cerita mereka berdua bukan tentang cinta, tapi tentang pertemuan unik
dua manusia, dengan ketersambungan pikiran dan hati yang menakjubkan.
"Before Sunrise" garapan sutradara Richard Linklater ini tidak hanya
menceritakan, tapi juga berhasil menunjukkan esensi usia 20an. Tentang
spontanitas, tentang tindakan-tindakan 'tanpa tujuan', tentang menjadi
sinis, tentang kata-kata besar dan harapan-harapan besar, dan tentang
kebutuhan untuk berjuang melawan sesuatu, walaupun bentuknya kasat
mata. Kata Celine, "itu sebabnya aku memilih untuk terus kuliah,
karena lebih mudah untuk mengetahui apa yang kita perjuangkan ketika
kita di sekolah."

Kisah keduanya juga tentang menjadi romantis, percaya pada ide-ide
romantis tidak dengan cara Cinderella, tapi dengan cara yang realis.
Keesokan paginya mereka berpisah, dengan janji untuk bertemu enam
bulan lagi di kota yang sama. Tapi Jesse dan Celine tak bertukar
alamat atau nomor telepon, karena menurut mereka, apa pun yang terjadi
di antara mereka setelah malam itu pasti tak akan sebanding.
"Menyurati sesekali, menelepon sekali dua kali, kita tidak mau itu
kan?" tanya Celine, dan Jesse menambahkan, "benar, menurutmu kenapa
orang berpikir hubungan selalu harus untuk selama-lamanya?"

Keesokannya kalian berpisah dengan janji yang menyisakan nada ambigu,
akankah kalian bertemu atau tidak dalam enam bulan lagi? Penonton yang
optimis akan yakin kalian bertemu lagi, sementara yang pesimis tidak,
tapi butuh sembilan tahun kemudian, pada 2004 lewat "Before Sunset"
untuk mengetahui kalian tak bertemu lagi seperti dijanjikan.

Tapi pertemuan terjadi saat kalian berdua menjejak usia 32. Lagi-lagi
musim panas di kota indah Eropa menjadi titik pertemuan. Jesse, kini
sudah menikah dengan satu anak dan berada di Paris untuk mempromosikan
buku yang ditulisnya tentang satu malam itu di Vienna, Celine kini
sebagai aktivis lingkungan, menjalin hubungan dengan orang yang tidak
pernah hadir di sisinya.

Film berdurasi 80 menit yang kembali dibesut Richard Linklater kembali
meluncurkan dialog-dialog cerdas antara Jesse dan Celine, sekarang
dengan permasalahan-permasalahan 'orang dewasa'. Ketersambungan antara
keduanya masih tetap ada, tapi kini cerita mereka adalah tentang
menjadi 30, saat mereka berhadapan dengan realita dan konsekuensi dari
pilihan-pilihan mereka di masa muda.

Dan tentang penyesalan dari pihak Jesse, tentang kenapa mereka
memutuskan untuk tidak bertukar nomor telepon atau alamat. "Karena
kita masih muda dan bodoh. Pada usia muda, kita selalu merasa akan ada
banyak orang yang akan cocok dengan kita. Saat kita semakin menua,
kita tersadar, pertemuan dengan orang itu hanya terjadi sesekali,"
jawab Celine.

Pertemuan kedua mereka juga berakhir ambigu, apakah mereka akan terus
bersama atau tidak. Tapi mencoba memberikan sebuah akhir yang definit
pada cerita mereka hanya akan mengurangi nilai-nilai realis dua film
tersebut. Cerita mereka bukan tentang akhir atau awal, tapi tentang
momen-momen di antara dua titik itu.

Dan cerita mereka di dua film itu adalah tentang kata-kata Celine di
"Before Sunrise", jika keajaiban memang ada di dunia ini, pasti itu
terletak pada usaha kita mencoba mengerti seseorang, berbagi sesuatu:
"Aku tahu, itu butuh usaha yang keras, tapi siapa yang peduli. Yang
penting adalah usahanya."

 

Strictly Platonic

Aduh.

(Ungkapan pertama cuma itu)

Platonis. Aku punya platonis.
Sosok yang hanya dikagumi dari jauh,
hanya dari apa yang terlihat sekilas.
Caranya berjalan yang memiliki ritme perlahan tapi menapak pasti,
berat suaranya yang memiliki getaran ketika ia menyanyi,
caranya tersenyum hanya dengan satu sudut bibir,
caranya menyapa dan mengingatku,
kerutan berbentuk kaki gagak di kedua ujung matanya,
dan atas apa yang ia lakukan dengan kata-kata.

Aku tidak butuh tahu keseluruhan ceritanya,
karena apa yang sekilas itu sudah cukup membuatku bermimpi,
bukan tentang apa-apa,
cuma tentang sosoknya,
dan aura yang membentuknya

-hmm, kenapa kayaknya jadi puisi yah? Padahal maksudnya bukan.-

Monday, October 10, 2005 

Cerita Lutut

Dentuman keras dari My Chemical Romance meledak-ledak di telinga orang
yang lapar, sementara jam masih menunjukkan pukul 12.00. Entah karena
drum dan bass yang menyemangati, atau karena kebiasaan, langkah menuju
KWK B14 terasa cepat.

Dengan mudah aku menemukan angkutan yang akan berangkat, baru ada satu
orang yang duduk di dalamnya. Tempat duduk paling belakang masih
kosong, aku malas berpindah-pindah lagi ketika ada penumpang baru yang
masuk, langsung aku duduk paling belakang.

Bagian Internasional Koran Tempo masih belum selesai dibaca, bagian
ekonomi apa lagi, tapi aku hanya membacanya sekilas ketika lamat-lamat
terdengar seseorang di depanku berbicara. Ketika melihatnya, bibir
orang berkaus putih dan bercelana jins belel itu memang bergerak-gerak
berulang-ulang, tapi aku tidak mengerti apa yang ia katakan.

"Sebentar," kataku, sebelum akhirnya memencet tombol pause di remote
control mp3 player. "Ya?" tanyaku.

"Ini lewat tol Kebon Jeruk kan?" tanya pria yang juga memakai topi
yang aku tidak tahu pasti namanya, tapi aku sebut topi aktivis, karena
sering dipakai para aktivis yang berdemo di lapangan. Bentuknya
seperti topi memancing, tapi bertali dan diikat longgar di bawah
dagunya, warnanya hijau tua.

"Pintu tol Kebon Jeruk? Iya," jawabku sebelum akhirnya kembali
menyalakan mp3 player dan menyimak kembali halaman Internasional.
Ketika tak ada lagi yang menarik untuk dibaca dan dipahami, aku
beralih ke 'Fiesta' tulisan Ernest Hemingway. Si lelaki bertopi
aktivis itu sempat melirik sebentar, dan aku melihat lirikannya.

Bahaya menjadi seorang hopeless romantic, lirikan sekecil apa pun
dapat membuat imajinasi membuncah. Dan aku pun mulai memanjakan diri
dengan khayalan di tengah terik siang. Membayangkan bertukar nomor
telepon, lalu mengamati karakter-karakter wajahnya, kemudian
membayangkan tujuan kepergiannya, dan untuk apa. Kampanye apa lagi
yang sedang direncanakannya. Mungkin benar katanya Asep, kalau aku
groupies-nya aktivis. Jejejejejej.

Dan beberapa detik kemudian, karena gerakan KWK yang tanpa aturan,
lutut-lutut kami beradu. Langsung, aku tersenyum sendiri, entah
kenapa. Tapi akhirnya tersadar, aduh, jiwa flirtingnya tiba-tiba jadi
hidup lagi. Kapan ya itu terakhir kali terjadi?

Dan adu lutut itu terjadi lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.

Sampai aku tak berhenti tersenyum.

Hmm, flirting dan daydreaming is fun. Harus mulai sering flirting lagi nih.

Tapi, LHO...sekarang kan...PUASA!

Gimana sih kok bisa lupa? Haduh, haduh, haduh. Bahaya, man. Bahaya.

Terpaksa, setelah itu, aku menarik badanku untuk duduk menegak,
menjauhkan lututku dari tempurung lutut telanjang si pemakai topi
aktivis karena celana jins-nya yang belel. Tapi aku masih tidak bisa
tidak mencuri-curi lirikan ke arahnya, sampai akhirnya di pintu tol
Kebon Jeruk, lelaki dengan lutut yang lembut hangat itu turun. *Sigh*

Friday, October 07, 2005 

Heart or Mind

The saddest part of a broken heart
isn't the ending so much as the start
The tragedy starts from the very first spark
Losing your mind for the sake of your heart

(Feist - "Let it Die")

Ada bola lampu yang tiba-tiba menyala di kepala waktu aku denger
suaranya Feist nyanyiin bagian itu. 'Losing your mind, for the sake of
your heart'. Tiba-tiba pertanyaan muncul, kenapa sih, kalo udah urusan
mind dan heart, kesannya kita harus selalu memilih, tidak bisa
keduanya berjalan bersamaan?

Dan dari stigma (haduh) yang ada selama ini, memilih mind selalu lebih
baik dari heart. Yang rasional selalu lebih baik dari yang emosional.
Mungkin ini ada juga hubungannya sama betapa patriarkisnya dunia kita,
bahwa yang rasional, yang tipikal male, lebih baik dari yang
emosional, tipikal female.

Padahal, aku pernah mbaca di awal buku 'Menulis Skenario dalam 21
Hari'-nya Viki King, yang bilang kalau kita selama ini terlalu sering
meremehkan hati kita. Padahal hati kita itu, tanpa diduga, punya
kecerdasan tersendiri. Jadi, ketika menulis pertama, biarkan hati yang
berbicara dulu. Baru setelah itu menulis dengan pikiran. Itu, aku juga
belajar dari kelas menulis dulu di Jakarta School. Dan sempet juga
tahu sebelumnya pas nonton Finding Forrester.

Katanya si tokoh, William Forrester-nya (Sean Connery), ke si penulis muda-nya,

"No thinking - that comes later. You must write your first draft with
your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is...
to write, not to think!"

Aku sendiri, selama ini, kayaknya lebih mentingin hati, sementara
logika ketinggalan jauh. Yang 'tepat', kayaknya sih memang harus
seimbang, antara hati dan pikiran. Tapi kalau urusannya sama human
relationship gimana?

'Eternal Sunshine of a Spotless Mind?'

Pikiran tokohnya Jim Carrey boleh bilang, "ayo, let's get this surgery
over with, sehingga aku bisa melupakan Clementine". Sementara hatinya
memutuskan untuk menyimpan kenangan akan Clementine. Endingnya? Ada
'change of heart' (kata judul chapternya). Clementine memang akhirnya
berhasil terlupakan, walaupun hati tetap menyimpan petunjuk-petunjuk
kecil agar karakter Carrey bisa menemukan kembali Clementine, walaupun
pikirannya tidak ingat kenapa dan bagaimana. Dan ya akhirnya hatinya
memang membantu menemukan Clementine.

Tapi akhirnya, untuk urusan yang satu itu, aku masih belum menemukan
jawaban, apakah kita selalu harus memilih antara heart atau mind?

*sepertinya aku kembali ke 'asking-too-many-questions-mode'*

Thursday, October 06, 2005 

Kotak Sepatu

Note to Self:

Sudahlah, Nari.
Jangan ngoyo, ngotot, maksain.
Cerita itu memang sudah seharusnya selesai.
Dan nggak ada lanjutan-lanjutannya lagi.
Sudah waktunya di-kotaksepatu-kan.
Bahkan temanmu yang paling sabar mendengar cerita tentangnya pun tak mengerti jalan pikiranmu.
Biarkan dia mencari yang lain,
walaupun kamu belum menemukan pengganti.

---

Pada akhirnya, kenangan kita tentang seseorang hanya akan di-reduce menjadi memento ya? Atau pada satu saat nanti, memento-lah yang fungsinya untuk membantu kita mengingat, ketika kita tidak rela saat ingatan mulai melepaskan kenangan-kenangan?

Hmm...mungkin harus mbaca lagi 'Everything is Illuminated'-nya Jonathan Safran Foer. Tentang kenangan dan memento.

---

Note to Self again:

Segera cari kotak sepatu yang bisa menampung that larger-than-your-life character, Nari.

 

Produktivitas Ngeblog

Ternyata, itu cuman masalah aksesibilitas aja. Sejak tau caranya nge-blog lewat imil, nggak harus log in ke blogger dulu yang leletnya minta ampun, tuh...tiba-tiba jadi banyak kan postingnya? Huehehehe.

(Atau malah udah kebiasaan jadi wartawan ya? Beritanya dipecah-pecah. Kikkikkik.)

Hmm, jadi gaptek euy sekarang.

 

Ramadhan

Aduh, baru sadar. Ramadhan udah berjalan dua hari, menjelang hari ketiga, nggak ada posting ya tentang bulan suci yang satu ini. Apakah itu berarti keberadaannya tidak ada di dalam daftar prioritasku?

Mungkin nggak segitu dramatisnya.

Walopun kalo dipikir-pikir, iya ya.. kayaknya emang gitu deh kenyataannya di aku. Sedih. Kurang ada persiapan psikologis tentang: ini lho bulan yang khusus buat ibadah udah dateng lagi, dan Nari, kamu masih dikasih kesempatan untuk ngejalaninnya lagi.

Alasannya tahun ini nggak greget? (Baca: alasan untuk membela diri)

1. Baru rolling ke suatu kompartemen yang nggak disangka-sangka.
2. Pas mulai Ramadhan, pas lagi nggak puasa, padahal pas minggu pertama kan katanya yang terberat. Therefore, romantisme dan semangatnya terpompa di situ.
3. Ada bom Bali lagi kali ya? Jadi kayaknya perhatian lebih teralih ke situ.
4. Belum lagi harga BBM, ongkos angkot, dan barang-barang yang makin naik, dan dana kompensasi yang nggak beres-beres (waduh, kok kayaknya sok care banget ya? Tapi bener lho, di Jakarta Barat, penyaluran KKB-nya ancur banget). Dunia in general, atau tepatnya Indonesia, jadi kerasa gonjang-ganjing.

Padahal, jadi inget pas dulu-dulu masih kuliah, kangen banget sama yang namanya Ramadhan di sini. Dengan adzan maghrib yang kedengeran syahdu banget di tivi, program-program tivi yang mendukung, kenangan makan sahur dengan mata tertutup, kepanasan seharian, dan gluk gluk gluk, es kelapa buat buka, trus...tarawih. Mbayanginnya, ada jiwa di Ramadhan.

Tapi kayaknya dengan kesibukan sekarang, duh...pengajian di Haarlem sama di Reigersbos aja kayaknya masih punya semangat dan aura yang lebih kuat dibandingin aku sekarang. Apalagi dulu ditambah menembus dingin.

Tapi pas balik ke sini, kenapa yang bisa terbaca dari Ramadhan jadinya cuma: komersialisme, komersialisme, komersialisme? Dari mulai acara tivi yang sekarang dilihat lagi customised mengikuti selera pasar aja, pertokoan yang isinya tiba-tiba jadi baju koko dan tunik-tunik semua, sampe seragamnya mbak-mbak dan mas-masnya yang jadi menyesuaikan (mungkin maksudnya menghormati, tapi please deh... kalo bulan-bulan lainnya nggak gitu, kan berarti itu cuma 'memenuhi permintaan' pengunjung, jatuh-jatuhnya...cuma sebagai keputusan yang mendukung lakunya itu pertokoan), terus belum lagi orang yang belanja atau makannya lebih mewah pas buka.

Hmm..for the record, aku nggak bakal make alasan-alasan itu untuk melewatkan Ramadhan gitu aja. Ya, yang ini tadi cuma Rp 50-ku kok.

 

Nonton Corpse Bride

Hmm... di investigasi kayak santai banget gini ya? Atau mungkin karena
lagi masanya, karena salah satunya lagi berlarian di Tokyo traffic
seperti Scarlett Johansson. Tapi, kerasa santai banget, asli. Bahkan
udah hampir nyelesein 2 buku kumpulan cerpen (Hurrah. Little
achievements)

Tadi siang-siangnya udah jalan ke Pondok Gede, tugas ngeliat sebuah
yayasan. Dari situ, trus ke Mal Taman Anggrek (dan udah rada
direncanain) buat nonton 'Corpse Bride'. Sendiri. Due to some recent
stupidity, lagi merasa butuh wallow. Ya sudahlah, beli tiket, trus
turun lagi nyari kopi (dengan enaknya di tengah Ramadhan. Positifnya,
tempat-tempat makan sepi, hehehe), ngopi dingin bentar, trus sambil
mbaca-mbaca. Nikmat juga.

(Tapi, waduh, masa kalau mau nyantai mbaca kayak di Vondelpark gitu,
di sininya harus ke kafe sih? Mahal euy).

Terus nontonlah aku.

Hmm, udah rada lama juga aku nggak nonton. Terakhir kali, nonton
'Stealth', yaiks. Karena cuman pengen mau nonton aja, does not matter
what is the movie. Dan, lama tidak menjalankan ritual nonton ternyata
ngangeni juga ya.

Dan pas itu, bioskopnya kosong. Jadi serasa nonton di Pathe lagi.

Pas ngeliat trailer-trailer film, ruangannya menggelap, tirainya
sedikit dilebarin, suaranya makin surround, indera-nya tiba-tiba jadi
kepake semua.

Intermezzo, trailer pertama yang diputer kan Harry Potter yang Goblet
of Fire, di situ diliatin retrospektifnya Harry, Hermione, ama Ron,
dari film pertama sampe yang nanti keluar. Dan dari situ langsung
keinget, eh iya...ini nanti Harry Potter yang pertama yang nggak aku
tonton di Amsterdam. Dan tiap Harry Potter kan yang selalu mendengar
Nina gushing about Ron atau Harry, kemarin2 juga, lewat MSN Messenger
masih denger Nina menghisteriskan Ron yang katanya makin lucu.

Waduh. One more thing I miss from you, girls.

Yang pertama, nonton sama Atas di Bellevue Cinerama.
Yang kedua, sama siapa aja ya? Oh, ini kayaknya sendirian deh, di
bioskop di Den Bosch, waktu lagi placement.
Yang ketiga, sama Nina sama adeknya, Wita. Trus di tengah-tengah, aku
inget banget, ditelpon Titin yang sedih banget karena nilai TA-nya.

Tapi, dari semuanya, aku inget membahasnya sama-sama kalian, denger
komentarnya Ina, Nat, Dina yang tiba-tiba ngefans ama Hermione, Titin
juga.

Kangen, kangen, kangen.

Kembali ke nonton, ternyata itu ritual yang aku kangenin juga.
Dengan rasa excited itu waktu nunggu filmnya mau mulai, nonton
trailernya, ruangan yang menggelap dan dingin, bioskop yang kosong,
melatih apresiasi sendiri, yang mungkin bisa dilakuin di rumah, tapi
nggak se-intens kayak di bioskop.

Dan sesudahnya, seperti reel film itu masih terus berputar di otak.
Tapi yang selalu muncul adegan yang kita senengin, bisa fast forward
dan rewind seenaknya. Dan jalan kaki sesudahnya yang rasanya...kosong,
dan ringan, dan out of this world, karena masih keinget filmnya.

Mungkin emang ada hikmahnya kali ya di investigasi, lebih memungkinkan
untuk melakukan hal-hal seperti itu. Well, mungkin karena sekarang
lagi lucky aja, karena lagi rada kosong waktunya.

But for sure, harus dilakuin lebih sering. Preferably, alone deh kayaknya.

p.s.: tentang filmnya, ceritanya agak standar sih, tapi animasinya
keren banget. Khas Tim Burton. Btw, Helena Bonham Carter suaranya
bagus ya, even buat ngomong.

 

Diingat

Kemarin Minggu, di Koran Tempo ada wawancaranya Ananda Sukarlan. Kalau
nggak salah, judul besarnya "Saya Tidak Ingin Diingat". Hmm, mungkin
posting ini terdengar bodoh, karena...saya belum membaca isi wawancara
tersebut (d'oh!), dan saya tidak begitu ingat, apa benar judulnya
seperti itu. Tapi kalau tidak salah sih, iya. Atau mungkin 'Saya Tidak
Ingin Dikenang', saya agak lupa. (Tapi nanti pulang saya akan
mengecek, dan memastikan judulny. Kalau salah, ya tinggal di-delete
bagian awal ini).

Intinya, yang pasti tadi sore, kalimat 'Saya Tidak Ingin Diingat'
memunculkan pertanyaan: masak sih?

Saya belum kenal sepertinya sama orang yang tidak ingin diingat atau
dikenang. Karena dari pengalaman selama ini, apa pun yang kita lakukan
di hidup kita, adalah tentang meninggalkan jejak. Tentang diingat,
tentang dikenang, dan tentang...pembuktian diri, kalau saya nggak
salah, akarnya.

Contohnya, memiliki anak.

Oke, mungkin tidak semua mau mengakui 'beranak' sebagai salah satu
cara meninggalkan jejak. Tapi pernah denger nggak, keluhan-keluhan
dari (calon) orangtua atau (calon) kakek-nenek yang tidak kunjung
mendapat anak atau cucu? "Nanti siapa yang meneruskan keturunan kami?"
sepertinya sudah menjadi sesuatu yang klise. Ada apa sih dengan
meneruskan keturunan, bukankah itu berarti meninggalkan jejak? Untuk
diingat?

Begitu juga dengan orang menulis suatu buku, misalnya. Pasti ada
(aduh, patronizing banget yah?) satu elemen dari si penulis yang ingin
menjadikan itu buku sebagai testimoni dari hidupnya, karya yang
menunjukkan siapa dia dan apa yang sudah dikerjakan dengan hidupnya
selama ini. Lagi-lagi meninggalkan jejak, agar ia diingat.

Dan jenjang kebutuhan-nya Maslow tentang self-actualization, bukankah
itu juga tentang meninggalkan jejak? Pembuktian diri?

Oke oke oke.
Aku ngaku.
Emang egois. Muter-muter sampe segitu, cuman buat sampe ke kesimpulan:

Kenapa ya saya mudah dilupakan, dan mudah digantikan, sementara susah
buat saya melupakan dan menggantikan. Rugi di saya memang. Tapi tidak
semudah itu buat saya ketemu orang baru, dan mendekat pada orang baru.
Kalau mudah buat saya ketemu orang baru, saya mungkin sudah berusaha
bergerak maju. Dan melupakan.

Salah juga kali ya, untuk memberi sepenuh hati, sementara dari sisi
lain play nothing to lose. Jadi lain kali gimana dong? Setengah hati
terus?

Tapi apa itu sebenarnya hidup, setengah-setengah?

*sedang merasa jadi paling bodoh sedunia*

Wednesday, October 05, 2005 

Temuan Baru

Gara-gara abis-abisan nimbun buku, aku jadi ngerasa bersalah kalau
misalnya mau spend money untuk beli barang-barang yang berpengaruh
pada kesehatan spiritual-ku. Semisal, kaset (yes, i still bought
those), cd bajakan, cd mp3 bajakan, atau dvd bajakan. Jadi, berusaha
sejauh mungkin deh dari yang namanya ambassador, tempat-tempat cd/dvd
bajakan, dan toko-toko kaset.

Tapi, pas Sabtu (1/10) kemarin, ortuku pengen ngajak ke Avenue A di
Plaza Semanggi (jarang-jarang banget mereka ngajaknya ke tempat makan
yang 'kapitalis' gitu, biasanya kan franchise2 lokal. Kapitalis juga
sih, tapi karena lokal jadi nggak kerasa kali ya? heheh). Di
sebelahnya ada toko kaset/cd Soho Music itu kan?

Nah, pas nunggu makanan, kaburlah aku untuk sementara ke toko sebelah,
apalagi ada connecting door-nya. Di situ, secara nggak sengaja ngeliat
sebuah kaset, bercover merah, dengan wajah seorang perempuan, close
up, ditempelin bibir di bawah matanya. Tulisannya: Feist, dan Let it
Die. Dan ada stiker yang bertuliskan: "A mix between Sade, PJ Harvey,
Astrud Gilberto"

Langsung aku ambil, dan aku yakin kalau aku bakalan seneng.

Sade, iya.
Astrud Gilberto, iya.
PJ Harvey, well selalu nyoba pengen denger sih.

Dan ternyata pas ndengerin, keren bangeeeddd.

Duh, udah rada lama nggak nemuin sesuatu yang bisa bener-bener perfect
for me, music wise. Musiknya sih ya.. ada yang Astrud2 gitu, ada juga
yang rada creepy2, suaranya Feistnya juga yang rada lazy-sexy gitu.

Liriknya juga banyak yang keren. Salah satunya,

"the saddest part of a broken heart, is not the ending so much as the
start, the tragedy starts from the very first spark."

Huks.
(kenapa jatuh2nya lagi2 ke situ ya?)

Btw, kayaknya aku rada telat ya nemu 'Feist'?
Tapi sumpah, keren banget.

 

Ketika Aku Mencoba Membahasakan Kenyamanan

Suatu siang, di bus AC menuju Grogol yang kosong, dan AC-nya
bener-bener kerasa dingin, waktu aku masih nganggur, aku ngeliat
sepasang mahasiswa. Cowok-cewek. Mereka milih duduk di kursi yang 3
tempat duduk, tentu aja.

Aku inget hari itu hari Senin. Dan aku sempet ngelewatin tempat duduk
yang nantinya akan mereka pilih untuk duduk, ada Kompas Minggu, bagian
budaya tergeletak di situ. Mau aku ambil asalnya, tapi nggak tau
kenapa, aku urung. Padahal kemarinnya aku belum sempet baca Kompas
Minggu bagian budaya.

Pasangan itu, entah kenapa, menarik perhatianku dari pas pertama
mereka naik. Dari depan Arion, si cowoknya udah care banget,
menyilakan si cewek naik duluan. Sesuatu yang wajar sebenarnya. Tapi
ada sesuatu, gestur kecil, yang sayangnya sekarang enggak bisa aku
inget lagi, yang membuatku suka ngeliat perasaan mereka, dan cara si
cowok memperhatikan ceweknya.

Pas mereka duduk, di tempat duduk yang ada korannya itu, tentu aja si
cewek yang masuk duluan ngambil itu koran, karena mau duduk di
kursinya. Waktu mereka berdua udah duduk, eh mereka trus langsung
sharing mbaca. Huaaaa... my dream date banget!

Enggak, tepatnya bukan date, tapi... apa ya?
The thing that I would like to do most with my boyfriend and/or
husband, mungkin tepatnya. (Hmm..most? Kayaknya ada yang lebih topping
the priority, hehehhe. Tapi, you know lah, adegan tadi impian banget.)

Jadi, salah satu versi kenyamanan, buatku, ya itu tadi.

Di bus AC juga nggak pa-pa, pada suatu pagi di salah satu hari weekend
yang bermandikan matahari, kita mau pergi ke suatu tempat, terus
sharing koran minggu bagian budaya (preferable, Kompas atau Koran
Tempo. Tapi lebih milih Kompas, hehehe). Aku mbaca bagian cerpen dulu,
trus dia mbaca bagian puisi. Atau oke, kebalik juga nggak pa-pa
daripada menimbulkan persepsi yang tidak-tidak. Trus saling
berkomentar tentang apa yang dibaca, saling membahas. Terus tukeran
halaman, sambil mbaca bahasan-bahasan rumit para ahli kesenian itu,
dan aku akan bertanya, 'ini maksudnya apa sih?' Dan dia akan
menjelaskan, atau malah ikut bingung. Terus kita ngeliat jadwal agenda
kesenian hari ini, memilih satu tempat, pergi ke sebuah pameran
lukisan.

Hmmm....

Atau, sarapan barengan di suatu tempat, dan sama-sama sharing koran
minggu bagian budaya. Terus abis gitu membahas, kita mau kemana yah
hari ini?

Duh. Aku mbayanginnya, rasanya nyamaaan banget.

 

Tentang Usia

Huks, huks,
apakah karena aku udah mulai punya kerutan di bawah mata?
atau postur tubuh yang udah meng-ibu-ibu?
atau cara berpakaian yang lagi-lagi, ibu-ibu?

baru tau, kalo ternyata carep-carep juli agustus di kantor kebanyakan
pada ngira aku berusia...27, 28, atau *gasp* 29!

Glodak.

Pantesan pada manggilnya mbak, mbak semua.
dan pantesan para reporter baru berwajah bapak-bapak itu langsung pada
ngajak ngomong aku, padahal biasanya kan aku yang selalu dianggap
kanak-kanak gitu.

haduh haduh,
padahal masih 22 lhoo, 22.
(dan langsung pada pasang wajah setengah pingsan pas tau aku 22. hiks,
sedih euy)
padahal masih kinyis kinyis kan,
dan relatively wrinkle free juga kok setelah dicek pake cerminnya bedak compact.

kenapa ya? kok bisa?
mengerikan.

kayaknya bener deh, masalah postur yang sudah meng-ibu-ibu. mumpung
sekarang mo puasa lagi, ya sudahlah, sekalian dipake buat kesempatan
menguruskan kali yaa.

*btw, my first ramadhan when i'm officially a smoker, tak ada nicotin
shot in the morning nih...*