Ih, aku enggak tau mulai kapan, tapi terus tiba-tiba kesadar, "kok aku jadi kehilangan kecintaan sama membaca yah?" -walaupun, untungnya, tidak diikuti dengan kehilangan kecintaan akan membeli buku baru, hehe. Otak boleh berenti jalan, tapi snobbery tetep jalan, hahaha.-
Aku menyalahkan waktu yang tidak ada, kondisi di angkutan umum yang tidak kondusif (keseringan berdiri daripada duduk, 'bernafas pun aku sulit, apalagi membaca'), dan...kemalasan. Nggak tau kenapalah, lha kok tiba-tiba endingnya bisa jadi nggak semangat melahap kata demi kata, menafsirkan maknanya, menikmati lezatnya, dan merasakan kedashyatan efeknya.
Dan ternyata, degradasi minat pada membaca ini jadi berefek juga sama mengempesnya minat untuk menulis sebuah buku. Waktu itu mikirnya, 'ah apa pentingnya sih nulis buku, it's not that big kok'. Harusnya kan pas aku mendengar diriku sendiri mengatakan hal itu, aku sudah harus menganggapnya sebagai lampu merah ya? Tapi ya itu, apa mungkin karena jenuh, atau capek, jadi nggak semangat banget mengartikan kata-kata.
Tapi, tapi, aduh, ternyata yang namanya kecintaan, ketika kembali, teteup aja mbuat semangat. Dan sekarang, aku lagi semangat-semangatnya mbaca. Gara-garanya, bisa ditelusuri sebab-sebabnya....
(ini ditulis di sini, biar kalau aku keilangan lagi minat mbaca, bisa jadi pengingat)
1. Mungkin pas rapat ama pemred dan tim metropolitan kali ya awal api-nya. Pas di situ dibahas gimana kita pengen jadi koran yang naik kelas, trus ada encouragement dari Pak Djadjat, "sering-seringlah baca novel, nonton film, denger jazz, blues, etc". Dan nasehat itu tuh dateng pas aku ngerasa apa ya... aku butuh meningkatkan kualitas otak, dan entah kenapa serasa butuh diingetin akan aktivitas itu. Ada sesuatu yang 'hidup' di kata-katanya Pak Djadjat, yang jadi bener-bener menginspirasi. Dan mungkin karena ini juga, dia bilang, wartawan itu dilihat dari jejak karyanya, yaitu...menulis buku. Ya itu, kalau mau nulis buku, ya harus ngisi otak dulu. Dan dari situ, tiba-tiba aja, KLIK, keinginan nulis buku itu muncul lagi. Dan keinginan mbaca itu juga muncul lagi.
Selain itu, well, ada suara kecil di dalam hati yang pengen banget mengasah yang namanya apresiasi, biar nulisnya juga bisa bagus. Dan aku merasa cara mengasah apresiasi adalah dengan lebih banyak mbaca, jadi tau...'oh yang ini indah', 'oh yang ini keren juga, mungkin patut dicoba', 'oh, jangan nyoba yang ini, atau mungkin dicoba..jadi tau sendiri salahnya dimana', etc lah.
2. Well, ini kejadiannya lebih awal sih dari pertemuan dengan pemred, dan kayaknya kipas-kipas api itu malah mulai disini. Ceritanya, pas mbak ica lagi ke Papua, aku nginep di tempat kosnya dia dan teteh intan. Dan, dengan segala macam modus, aku pengen ngeliat kamarnya ica dan koleksi buku yang dibanggakannya itu. Ketika ngeliat lemarinya yang 'oh so cool' itu, aduh...udah jadi pengen punya lemari buku yang lebih gede. hehehhe. (tujuan orang menata bukunya dalam satu deret yang impresif, sepertinya kalau aku boleh curiga, adalah untuk membuat iri orang lain yang melihatnya :D, iya kan mbak ica?) Dan yaaa.. kalo boleh mendangkalkan diri, aku juga pengen tuh mbuat iri orang.
I used to feel very inspired, just by looking at endless rows and stacks of books. Dan kemaren2, aku kehilangan semangat itu. Tapi setelah ngeliat lemari bukunya Mbak Ica, semangat itu kembali. Pengen ke toko buku, nambah koleksi, milih satu, dan duduk dengan nyaman di pojok yang cozy, dan mendapat immense joy dari mengamati barisan huruf demi huruf.
Dan jadilah, pada suatu Jumat yang libur setelah piket (10/9) malem, aku pergi ke Gramedia dan memborong buku. Dan mungkin karena udah lama juga nggak mbaca, aku jadinya lebih less prejudiced ketika milih apa yang mau aku beli. Atau mungkin karena laper juga yah, jadinya apa pun masuk. Akhirnya beli 'Genom' buku popular science gitu deh, 'Imperia'-nya Akmal Nasery Basral--karena pengen tau, gimana sih tulisannya wartawan majalah Tempo--, 'Fiesta'-nya Ernest Hemingway--karena ada yang pernah bilang, Hemingway wrote the best dialogues, dan cover bukunya keren banget--, sama 'Hikayat Batu-batu'-nya Taufik Ikram Jamil--karena penasaran, gimana batu bisa jadi subyek dan obyek cerita-cerita pendek--
Sampai sekarang, aku masih selalu nggak sabar menunggu, aduh...mbok ya cepet agak maleman, biar aku bisa mbaca. Ada rasa 'giddy', excitement, pengen cepet-cepet sempet mbaca.
3. Faktor lain, mungkin karena aku nemu website baru yang membuatku terinspirasi untuk mbaca. Dulu sempet ke Rory's Book List, tapi beberapa waktu ini, pas kembali ke situ nggak nemu sesuatu yang mendorong aku untuk lebih baik dalam daftar bacaan. Terus, amazon.com juga sekarang enggak punya kekuatan yang sama lagi untuk aku. Guardian.co.uk juga, walaupun masih tetep as good as it was dalam merangkai kata dan sebagai acuan pop culture, intensitasnya jadi kurang teresap sama aku. Anyway, ketemu website
ini.
Ada sesuatu di website itu yang membuat aku tergerak, dan bersemangat. Mungkin karena pilihan bukunya yang tanpa prejudice dan nggak aku banget (jadi membuka perspektif gitu...), mungkin karena pendekatannya yang cuma meresensi tanpa mengkritisi/menilai dengan penilaian yang sombong, jadi intinya cuma informasi aja. Atau mungkin karena ia melakukannya dari hati. Apa pun itu, aku jadi tergerak melakukan hal yang sama, mendaftar dan meresensi apa-apa yang udah aku baca dan tonton. "Iya ya, kan ada blog satu lagi, buat apa kalo nggak diaktifin?"
Anyway, kemaren lagi mbaca Imperia dengan penuh semangat, udah lama rasanya nggak senikmat itu mbaca buku (walopun masih tetep bisa cerewet mengkritik di sana-sini). Tapi sayangnya terpaksa terhenti karena ada 6 halaman bukunya yang kosong dari cetakannya. Akhirnya pindah ke Fiesta.
Dan pas beberes buku-buku yang tersebar di rumah, ditumpuk di deket lemari. Well, lemarinya udah nggak nyukupin sih, tapi still..masih belum cukup untuk start a small revolution within. cieh cieh cieh.
Ajaibnya, dari kembali cinta baca, lha kok tiba-tiba jadi kangen nonton film lagi, yang juga udah rada lama aku tinggalin. Aduh....tiba-tiba jadi cintaaaaaaaaaaaaa lagi sama buku. Hhmm..seperti menjilat es krim cokelat yang rasanya kayak heaven on earth.
Semoga this feeling stays longer.