Friday, September 30, 2005 

cuman ngetes aja.
akhir-akhir ini jadi rada gaptek oy.

Tuesday, September 13, 2005 

Menemukan Kembali, bagian 2

Re-discovery. Kata yang besar nggak sih sebenernya?

Mungkin bener kali ya, kata-kata yang ditulis di headernya BiruBening, "Seni dan sastra membuat hidup ini lebih gemulai".

Dan karena this new found love for reading and movies, entah kenapa hidup rasanya kok ya jadi lebih...indah, kalo boleh berani bilang. (harus ati-ati bilang 'indah' atau 'bahagia', takutnya besoknya udah langsung ilang).

Anyway, tiba-tiba entah kenapa jadi ngerasa tidak self-conscious; tiba-tiba, pas nyebrang jalan di Kuningan, I caught myself...singing out loud. Tidak benar-benar out loud, tapi intinya nggak nyanyi dalam hati aja gitu...dan hatinya kok rasanya ringan ya?

Di tengah-tengah zebra cross yang catnya pudar dan deretan mobil mewah yang menunggu lampu berganti hijau, aku sempet berenti sejenak dan bertanya, "apa ini artinya aku sudah bahagia?"

Aku sengaja memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu dengan 'iya' atau 'tidak', tapi mencari bukti-bukti yang akan mendukung salah satu pihak. Dan semakin dipikir, kok rasa sakit itu semakin berkurang ya? Apakah ini berarti... ah, enggak ah, masih belum berani berkesimpulan.

Tapi kemudian pas di kantor, aku kok jadi ngerasa ada sesuatu yang beda ketika aku berinteraksi sama orang yang udah aku kenal dengan baik. Contoh: pas mejaku dipake Eko Senin kemarin, dia ninggal koran Minggu sama kertas2 di meja, yang langsung aku taruh di kardus-kardus isinya kertas-kertas bekas. Pas Eko-nya dateng, "Eko, kemarin kamu disini ninggal kertas-kertas ya? Itu udah aku tumpuk disitu semua," dengan nada galak.

Trus pas Sidik bolak-balik dateng nanya, begitu ngeliat bayangannya dia, dengan nada nyinyir ala Yogya, udah langsung, "wonten napa, mas?"

"Kok aku jadi makin cerewet ya? Dan...galak?"

*menahan nafas karena kaget*

Gimana bisa aku jadi cerewet dan galak?

Setelah keterkejutan mereda, lha kok malah tergantikan dengan perasaan...senang? Senang karena aku jadi cerewet dan galak, walaupun itu bukan sifat yang 'ideal'. Dan baru ini tadi aku kepikiran akan kemungkinan jawabannya.

Bahwa aku, udah kembali menemukan siapa aku sebenarnya. Aku yang cerewet dan galak itu adalah aku yang sebenarnya kan, temen-temen? Aku tanpa campur tangan orang lain, aku yang tanpa pretensi untuk memikat seseorang, aku yang nggak ja-im; my natural self is...without a doubt, cerewet dan galak.

:D

Dan aku kok malah bahagia ya dengan fakta itu. Kukukuku.

Cerewet dan galak itu, menurutku, adalah versiku tentang hidup yang lebih gemulai, yang tidak 'dijaga', lebih luwes dan berani, lepas aja tanpa pretensi. Dan nggak tau kenapa, dari tadi ketawa-ketawa terus.

Jadi pas Reva nanya, "Nari, kamu udah nggak broken heart lagi ya? Udah nggak sedih lagi ya?"
Sambil senyum-senyum semi ketawa, aku bilang, "Emm..nggak tau ya, Va." Jawaban itu sih lebih karena kepengecutanku untuk sekedar bilang, 'mungkin iya'.

Dan aku tau pasti jawabannya kenapa, karena aku nemu kecintaan baru, yang mbuat aku nggak sabar buat pulang atau menghabiskan waktu, just for myself, untuk mbaca. (btw, jadi kecintaannya itu apa, mbaca atau diri sendiri? huhuhuhu).

Setidaknya gini, well, aku nggak bilang kalo I will not cry, I still might cry someday (karena aku lagi mencari elemen diriku lagi yang ilang: ekspresif), tapi...from today on, aku akan...tadaaa...lebih Dorothy Parker, semoga dengan begitu, my acidic tongue juga akan semakin terasah, hehehhe. Careful for what you wish for, kata orang, well...moga-moga aja acidic tongue itu bisa digunakan pada orang dan situasi yang tepat :D

 

Menemukan Kembali

Ih, aku enggak tau mulai kapan, tapi terus tiba-tiba kesadar, "kok aku jadi kehilangan kecintaan sama membaca yah?" -walaupun, untungnya, tidak diikuti dengan kehilangan kecintaan akan membeli buku baru, hehe. Otak boleh berenti jalan, tapi snobbery tetep jalan, hahaha.-

Aku menyalahkan waktu yang tidak ada, kondisi di angkutan umum yang tidak kondusif (keseringan berdiri daripada duduk, 'bernafas pun aku sulit, apalagi membaca'), dan...kemalasan. Nggak tau kenapalah, lha kok tiba-tiba endingnya bisa jadi nggak semangat melahap kata demi kata, menafsirkan maknanya, menikmati lezatnya, dan merasakan kedashyatan efeknya.

Dan ternyata, degradasi minat pada membaca ini jadi berefek juga sama mengempesnya minat untuk menulis sebuah buku. Waktu itu mikirnya, 'ah apa pentingnya sih nulis buku, it's not that big kok'. Harusnya kan pas aku mendengar diriku sendiri mengatakan hal itu, aku sudah harus menganggapnya sebagai lampu merah ya? Tapi ya itu, apa mungkin karena jenuh, atau capek, jadi nggak semangat banget mengartikan kata-kata.

Tapi, tapi, aduh, ternyata yang namanya kecintaan, ketika kembali, teteup aja mbuat semangat. Dan sekarang, aku lagi semangat-semangatnya mbaca. Gara-garanya, bisa ditelusuri sebab-sebabnya....

(ini ditulis di sini, biar kalau aku keilangan lagi minat mbaca, bisa jadi pengingat)

1. Mungkin pas rapat ama pemred dan tim metropolitan kali ya awal api-nya. Pas di situ dibahas gimana kita pengen jadi koran yang naik kelas, trus ada encouragement dari Pak Djadjat, "sering-seringlah baca novel, nonton film, denger jazz, blues, etc". Dan nasehat itu tuh dateng pas aku ngerasa apa ya... aku butuh meningkatkan kualitas otak, dan entah kenapa serasa butuh diingetin akan aktivitas itu. Ada sesuatu yang 'hidup' di kata-katanya Pak Djadjat, yang jadi bener-bener menginspirasi. Dan mungkin karena ini juga, dia bilang, wartawan itu dilihat dari jejak karyanya, yaitu...menulis buku. Ya itu, kalau mau nulis buku, ya harus ngisi otak dulu. Dan dari situ, tiba-tiba aja, KLIK, keinginan nulis buku itu muncul lagi. Dan keinginan mbaca itu juga muncul lagi.

Selain itu, well, ada suara kecil di dalam hati yang pengen banget mengasah yang namanya apresiasi, biar nulisnya juga bisa bagus. Dan aku merasa cara mengasah apresiasi adalah dengan lebih banyak mbaca, jadi tau...'oh yang ini indah', 'oh yang ini keren juga, mungkin patut dicoba', 'oh, jangan nyoba yang ini, atau mungkin dicoba..jadi tau sendiri salahnya dimana', etc lah.


2. Well, ini kejadiannya lebih awal sih dari pertemuan dengan pemred, dan kayaknya kipas-kipas api itu malah mulai disini. Ceritanya, pas mbak ica lagi ke Papua, aku nginep di tempat kosnya dia dan teteh intan. Dan, dengan segala macam modus, aku pengen ngeliat kamarnya ica dan koleksi buku yang dibanggakannya itu. Ketika ngeliat lemarinya yang 'oh so cool' itu, aduh...udah jadi pengen punya lemari buku yang lebih gede. hehehhe. (tujuan orang menata bukunya dalam satu deret yang impresif, sepertinya kalau aku boleh curiga, adalah untuk membuat iri orang lain yang melihatnya :D, iya kan mbak ica?) Dan yaaa.. kalo boleh mendangkalkan diri, aku juga pengen tuh mbuat iri orang.

I used to feel very inspired, just by looking at endless rows and stacks of books. Dan kemaren2, aku kehilangan semangat itu. Tapi setelah ngeliat lemari bukunya Mbak Ica, semangat itu kembali. Pengen ke toko buku, nambah koleksi, milih satu, dan duduk dengan nyaman di pojok yang cozy, dan mendapat immense joy dari mengamati barisan huruf demi huruf.

Dan jadilah, pada suatu Jumat yang libur setelah piket (10/9) malem, aku pergi ke Gramedia dan memborong buku. Dan mungkin karena udah lama juga nggak mbaca, aku jadinya lebih less prejudiced ketika milih apa yang mau aku beli. Atau mungkin karena laper juga yah, jadinya apa pun masuk. Akhirnya beli 'Genom' buku popular science gitu deh, 'Imperia'-nya Akmal Nasery Basral--karena pengen tau, gimana sih tulisannya wartawan majalah Tempo--, 'Fiesta'-nya Ernest Hemingway--karena ada yang pernah bilang, Hemingway wrote the best dialogues, dan cover bukunya keren banget--, sama 'Hikayat Batu-batu'-nya Taufik Ikram Jamil--karena penasaran, gimana batu bisa jadi subyek dan obyek cerita-cerita pendek--

Sampai sekarang, aku masih selalu nggak sabar menunggu, aduh...mbok ya cepet agak maleman, biar aku bisa mbaca. Ada rasa 'giddy', excitement, pengen cepet-cepet sempet mbaca.

3. Faktor lain, mungkin karena aku nemu website baru yang membuatku terinspirasi untuk mbaca. Dulu sempet ke Rory's Book List, tapi beberapa waktu ini, pas kembali ke situ nggak nemu sesuatu yang mendorong aku untuk lebih baik dalam daftar bacaan. Terus, amazon.com juga sekarang enggak punya kekuatan yang sama lagi untuk aku. Guardian.co.uk juga, walaupun masih tetep as good as it was dalam merangkai kata dan sebagai acuan pop culture, intensitasnya jadi kurang teresap sama aku. Anyway, ketemu website ini.

Ada sesuatu di website itu yang membuat aku tergerak, dan bersemangat. Mungkin karena pilihan bukunya yang tanpa prejudice dan nggak aku banget (jadi membuka perspektif gitu...), mungkin karena pendekatannya yang cuma meresensi tanpa mengkritisi/menilai dengan penilaian yang sombong, jadi intinya cuma informasi aja. Atau mungkin karena ia melakukannya dari hati. Apa pun itu, aku jadi tergerak melakukan hal yang sama, mendaftar dan meresensi apa-apa yang udah aku baca dan tonton. "Iya ya, kan ada blog satu lagi, buat apa kalo nggak diaktifin?"

Anyway, kemaren lagi mbaca Imperia dengan penuh semangat, udah lama rasanya nggak senikmat itu mbaca buku (walopun masih tetep bisa cerewet mengkritik di sana-sini). Tapi sayangnya terpaksa terhenti karena ada 6 halaman bukunya yang kosong dari cetakannya. Akhirnya pindah ke Fiesta.

Dan pas beberes buku-buku yang tersebar di rumah, ditumpuk di deket lemari. Well, lemarinya udah nggak nyukupin sih, tapi still..masih belum cukup untuk start a small revolution within. cieh cieh cieh.

Ajaibnya, dari kembali cinta baca, lha kok tiba-tiba jadi kangen nonton film lagi, yang juga udah rada lama aku tinggalin. Aduh....tiba-tiba jadi cintaaaaaaaaaaaaa lagi sama buku. Hhmm..seperti menjilat es krim cokelat yang rasanya kayak heaven on earth.

Semoga this feeling stays longer.

Wednesday, September 07, 2005 

"Walk on By": Menjalani Semuanya Sampai Habis

Tadi malem sempet ngomong-ngomong sama Kang Asep, favorit para cr23 (kok jadi nggosip gini sih?), aku mulai bercerita, out of the blue, tentang Eternal Sunshine of the Spotless Mind.

"Udah pernah nonton, Kang?" tanyaku.

"Belum, baru sekali denger," jawabnya sambil mencet-mencet tuts hp di depan tukang nasgor Metro. Aku langsung maklum, memang dia bukan movie addict.

Lalu kuceritakanlah intinya, atau lebih tepatnya, prosedur yang menjadi penggerak plot utamanya: penghilangan kenangan akan pasangan dari sebuah hubungan yang mengecewakan, atau parah-parahnya, menyakitkan.

"Kenapa sih, prosedur kayak gitu nggak bener-bener ada?" keluhku.

Bayangkan, betapa mudahnya hidup kita dengan alat penghilang memori seperti itu. Menghilangkan 'kesalahan-kesalahan' yang pernah mampir; say hello dengan manis dan akhirnya bites us in the ass, terus mengacaukan tatanan dan langit-langit hati yang sebelumnya kokoh. Seperti tokoh Rubah dan Pangeran Kecil, karena kita, Rubah, menyerah untuk dijinakkan, dan Pangeran Kecil itu (hmm... Pangeran Kecil, mau aku singkat dengan PK, tapi kenapa Pangeran Kecil dan Penjahat Kelamin punya singkatan yang sama? Apakah ini tanda-tanda?), tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dijinakkannya.

Di antara curhatan panjang, akhirnya yang aku inget cuman ini: "Just live life to the fullest, lakukan terus sampai akhirnya kamu mentok. Kalau masih mau sedih, ya sedih terus aja atuh. Sampai bosen, baru terus nggak sedih lagi."

Menurut Kang Asep lagi, kenapa sih manusia selalu mengira kesedihan itu sesuatu yang tidak ideal, tidak boleh dirasakan terus menerus? "Aku malah lebih bingung sama kebahagiaan, apa yang mau aku lakuin dengan kebahagiaan?"

Tentang kesedihan, bukankah lagu-lagu yang populer itu justru yang sedih? Dan tiba-tiba sesuatu terlintas, mungkin nggak sih, sebenarnya kesedihan itu malah justru kondisi yang ideal, bukan kebahagiaan?

Anyway, intinya ini. Mungkin emang masa berkabungku belum selesai ya? Dan aku harusnya nggak usah malu dengan lamanya waktu yang aku butuhkan untuk bersedih. Tiba-tiba, pas dengerin Divas of Jazz 2, dengerin lagu lamanya Dionne Warwick, karangannya the genius Burt Bacharach: "Walk on By". Rada termehe-mehe, tapi listen to the melody juga. Perfect.

Liriknya:
If you see me walking down the street
And I start to cry each time we meet
Walk on by, walk on by

Make believe
that you don't see the tears
Just let me grieve
in private 'cause each time I see you
I break down and cry
And walk on by (don't stop)
And walk on by (don't stop)
And walk on by

I just can't get over losing you
And so if I seem broken and blue
Walk on by, walk on by

Foolish pride
Is all that I have left
So let me hide
The tears and the sadness you gave me
When you said goodbye
Walk on by
and walk on by
and walk by (don't stop)

Walk on by, walk on by
Foolish pride
Is all that I have left
So let me hide
The tears and the sadness you gave me
When you said goodbye
Walk on by (don't stop)
and walk on by (don't stop)
and walk by (don't stop)

Tuesday, September 06, 2005 

Pelenturan Otot

Vroooom....

Suara dengungan monoton penghisap debu yang sedang bekerja di atas karpet-karpet yang sudah mulai lusuh terdengar lantang. Beberapa jam yang lalu ruangan bernuansa nouveau riche ini penuh dengan orang-orang berseragam biru, berlarian, saling berteriak, tertawa riuh, berpadu dengan bunyi ketukan-ketukan cepat jari tangan di atas tuts-tuts keyboard dan tanda-tanda keacuhan orang yang hanya ingin mengurusi urusannya sendiri.

Sekarang, semuanya sudah pulang.

Menghabiskan sisa hari dengan menonton televisi dalam keadaan setengah sadar, melihat tayangan berita yang membuat mereka seperti berada di mesin waktu. Mengulangi lagi hari yang tadi dijalaninya.

00.15, aku masih duduk di kantor.
Berusaha menyelesaikan hutang tulisan untuk edisi Minggu, dan merasakan betapa beratnya menulis sebuah tulisan bebas, bukan berita langsung.

Data-data, ups...maksudnya bahan-bahan, yang dibutuhkan untuk menuliskan artikel fashion itu sudah ada, berlebih malah. Tapi aku tidak kunjung bisa merangkainya, menjadi sesuatu yang mengalir, ritmis, padat, tapi lentur, dan ekspresif.

Itu sebabnya aku menulis di sini, melenturkan kembali otot-otot yang kaku dari gaya penulisan metropolitan. Mencoba mengalirkan sesuatu yang sudah mampat untuk sekian lama. Dan tidak hanya sekedar mengalirkan, tapi juga mengalirkan cairan yang akan memenuhi sungai cokelat Willy Wonka.

Kenapa menulis feature jadi sesusah ini?

Ada 'Vogue' di samping monitor, tapi tetap tidak memunculkan inspirasi. Ruffle, kitten heels, warna-warna pink dan emas, lipgloss, stilettos, semuanya terasa tanpa warna.

Ada seorang senior yang selalu memuji tulisan dan liputan metropolitan seorang rekan, katanya: "Tulisannya memberi warna di halaman metropolitan koran kita yang beritanya itu-itu saja." Dan tampaknya para redaktur juga menyadari hal itu.

Aku masih ingat, ketika si rekan itu dipanggil untuk diberi tahu akan pujian seorang Duta Besar, atas tulisannya saat seorang pemimpin agama meninggal. Padahal dia sama sekali tidak mengharapkannya. Dan aku masih ingat, beberapa tulisan-tulisannya yang memang terasa kuat, dengan isu-isu yang juga 'membumi', tapi bisa tetap diturunkan oleh para redaktur. Sementara koran kita lebih suka dengan isu-isu spektakuler. Mungkin memang metropolitan dunianya.

Lalu, apa duniaku?
Penulisan metropolitanku juga payah.
Feature, yang sebelumnya aku pikir adalah kekuatanku, sekarang sudah jarang lagi dipertajam. Dan ternyata, tulisanku juga sucks big time. Kalau boleh menyalahkan, ritme kerja metropolitan yang serba cepat, rasa bahasa pun aku babat terus.

Dan, pandangan tiba-tiba jatuh ke sebuah guideline untuk penulisan artikel gabungan. Seorang rekan dipercaya untuk menulis sebuah feature. Si rekan ini tampaknya tak terpengaruh dengan ritme metropolitan. Rasa bahasa pun masih bisa dikompromikannya, dimasukkannya dengan indah, tanpa terasa berlebihan, dan tepat pada tulisan-tulisan featurenya.

Kata-kata sang senior pun terngiang lagi, "Dia nulisnya bagus." Sementara aku terjebak dengan penulisan feature yang memasukkan kata 'menunjukkan bahwa'. Aduh.

Nggak salah kalau si senior bilang, "Kenapa bahasamu sekarang jadi harian banget sih?"

Hmm, mencari siapa kita dan apa yang tepat kita lakukan itu memang susah ya. Sampai sekarang, aku kerasa masih tersesat, belum tahu, bagusnya di mana atau apa. Pengen menyaingi si rekan, tapi dia sudah menulis (dan membaca) jauh lebih lama dari aku, dan aku rasa ada masalah karakter juga. Ada sensitivitas lebih pada detil, dan juga empati, yang selalu ia tunjukkan di tulisan-tulisannya.

Sepertinya, dia benar-benar tahu caranya menjadi manusia. Kemudian ia bisa membahasakan bahasa manusia itu, baik yang verbal maupun non verbal, yang biasanya sulit dituliskan kembali dengan cara yang paling natural dan nyata. Salut, teman.

Pernah aku bertanya, bagaimana caranya dia menulis seperti itu. Jawabnya: "Temukan nada dasarnya, mulailah dari situ, lalu sesuaikan semua dengan nada dasar itu. Tulislah seperti apa yang kamu suka. Dan jangan pernah mengharapkan pujian dari orang lain." Salut lagi. Kerendahan hatinya itu lho. Atau malah kecuekannya ya?

Sepertinya, ia melakukannya dengan begitu mudah, hampir terlihat dilakukannya secara tidak sengaja, tapi ya pastinya aku tidak melihat usahanya, gimana dia bisa jadi sebagus itu tho?

Igauanku sudah hampir selesai. Teteup aja, masih terasa belum lentur sepenuhnya. Dan sekarang yang tersisa cuma pertanyaan: gimana sih tulisanku bisa bagus kayak tulisannya?

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates