Otakku, Memasukkan 'Kehilangan' Dalam Akal
Benar.
Satu lagi posting yang menunjukkan kekalahanku. Menunjukkan kemenangan emosi atas rasio. Sebenarnya kemenangan emosi bukan sesuatu yang menakjubkan, karena memang aku orang yang emosional. Walaupun seseorang pernah secara mengejutkan bilang kalau aku orang yang rasional.
Anyway...
Aku bener-bener nggak ngertiin cara otakku bekerja, terutama dalam membuat rasa kehilangan itu lebih masuk akal. (Wait, apa itu berarti aku bener orang yang rasional?)
Kronologis, ketika pertama suka, aku bener-bener ngira that he's all that. Dia punya nilai-nilai yang lebih. Trus, pas ngejalanin, aku ngerti kalo dia ternyata bukan all that, dia tetep manusia biasa. Yang punya kekurangan. Banyak, malah. Dan dia ternyata enggak lebih baik dari aku. Dan aku mulai menyukai kekurangan-kekurangan itu. Well, menerima kali tepatnya.
Dan ketika datang kehilangan, aku melebih-lebihkan kekurangan-kekurangannya itu untuk mengompensasi kerugian. Biar rasa sakit karena kehilangannya itu jadi agak terkurangi. "Ah, dia nggak se-spesial itu. Tapi gayanya itu lho, yang kayak dia lebih baik dari kita semua," sebagai salah satu contoh.
Tapi terus lama-kelamaan, kok aku malah denger so many good things about him ya dari mutual friends? Aku jadi meragukan penilaianku. Aku jadi enggak percaya sama diriku sendiri, karena...gimana bisa segitu banyak orang salah?
Dan sekarang, jatuh-jatuhnya, aku jadi berpikir lagi. Apakah dia bener-bener enggak sehebat itu? Karena dari apa yang aku denger, ini orang baik yang sedang dibicarakan. Seseorang yang memenuhi kualitas 'a good human being'.
Jadi bertanya, apakah aku sebenernya udah sadar sama apa yang hilang?
Jangan-jangan, ini adalah suatu kegagalan yang lebih besar dari yang aku sadari sebelumnya. Karena it turns out, dia orang yang baik-baik aja, nggak ada yang 'salah'. Dan I screw up much worse than I thought before. Karena dia just okay the way he is, dia nggak kurang apa pun, sementara aku....menuntut banyak.
Ouff.
Hatinya rasanya langsung jatuh ke perut. Karena ternyata, setelah diinget-inget lagi, dia memang bener-bener 'all that'. And I screw up. Big time.
Dan alasan kenapa 'teori' ini lebih masuk akal; karena aku mengenal elemen-elemen diriku di sini. Aku yang aku kenal: Aku bener-bener not good at human relationships.
Tapi bukannya itu cuman masalah paradigma ya?
Kalo misalnya kita berpikir bahwa diri kita adalah suatu kegagalan, kita akan terus mencari-cari bukti yang mensupport teori 'I am a failure' itu.
Apa pun itu, aku sekarang masih nggak bisa berenti berpikir, kalo aku sudah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari yang aku pikir sebelumnya.
:(
Satu lagi posting yang menunjukkan kekalahanku. Menunjukkan kemenangan emosi atas rasio. Sebenarnya kemenangan emosi bukan sesuatu yang menakjubkan, karena memang aku orang yang emosional. Walaupun seseorang pernah secara mengejutkan bilang kalau aku orang yang rasional.
Anyway...
Aku bener-bener nggak ngertiin cara otakku bekerja, terutama dalam membuat rasa kehilangan itu lebih masuk akal. (Wait, apa itu berarti aku bener orang yang rasional?)
Kronologis, ketika pertama suka, aku bener-bener ngira that he's all that. Dia punya nilai-nilai yang lebih. Trus, pas ngejalanin, aku ngerti kalo dia ternyata bukan all that, dia tetep manusia biasa. Yang punya kekurangan. Banyak, malah. Dan dia ternyata enggak lebih baik dari aku. Dan aku mulai menyukai kekurangan-kekurangan itu. Well, menerima kali tepatnya.
Dan ketika datang kehilangan, aku melebih-lebihkan kekurangan-kekurangannya itu untuk mengompensasi kerugian. Biar rasa sakit karena kehilangannya itu jadi agak terkurangi. "Ah, dia nggak se-spesial itu. Tapi gayanya itu lho, yang kayak dia lebih baik dari kita semua," sebagai salah satu contoh.
Tapi terus lama-kelamaan, kok aku malah denger so many good things about him ya dari mutual friends? Aku jadi meragukan penilaianku. Aku jadi enggak percaya sama diriku sendiri, karena...gimana bisa segitu banyak orang salah?
Dan sekarang, jatuh-jatuhnya, aku jadi berpikir lagi. Apakah dia bener-bener enggak sehebat itu? Karena dari apa yang aku denger, ini orang baik yang sedang dibicarakan. Seseorang yang memenuhi kualitas 'a good human being'.
Jadi bertanya, apakah aku sebenernya udah sadar sama apa yang hilang?
Jangan-jangan, ini adalah suatu kegagalan yang lebih besar dari yang aku sadari sebelumnya. Karena it turns out, dia orang yang baik-baik aja, nggak ada yang 'salah'. Dan I screw up much worse than I thought before. Karena dia just okay the way he is, dia nggak kurang apa pun, sementara aku....menuntut banyak.
Ouff.
Hatinya rasanya langsung jatuh ke perut. Karena ternyata, setelah diinget-inget lagi, dia memang bener-bener 'all that'. And I screw up. Big time.
Dan alasan kenapa 'teori' ini lebih masuk akal; karena aku mengenal elemen-elemen diriku di sini. Aku yang aku kenal: Aku bener-bener not good at human relationships.
Tapi bukannya itu cuman masalah paradigma ya?
Kalo misalnya kita berpikir bahwa diri kita adalah suatu kegagalan, kita akan terus mencari-cari bukti yang mensupport teori 'I am a failure' itu.
Apa pun itu, aku sekarang masih nggak bisa berenti berpikir, kalo aku sudah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari yang aku pikir sebelumnya.
:(
