Sunday, August 21, 2005 

Otakku, Memasukkan 'Kehilangan' Dalam Akal

Benar.

Satu lagi posting yang menunjukkan kekalahanku. Menunjukkan kemenangan emosi atas rasio. Sebenarnya kemenangan emosi bukan sesuatu yang menakjubkan, karena memang aku orang yang emosional. Walaupun seseorang pernah secara mengejutkan bilang kalau aku orang yang rasional.

Anyway...

Aku bener-bener nggak ngertiin cara otakku bekerja, terutama dalam membuat rasa kehilangan itu lebih masuk akal. (Wait, apa itu berarti aku bener orang yang rasional?)

Kronologis, ketika pertama suka, aku bener-bener ngira that he's all that. Dia punya nilai-nilai yang lebih. Trus, pas ngejalanin, aku ngerti kalo dia ternyata bukan all that, dia tetep manusia biasa. Yang punya kekurangan. Banyak, malah. Dan dia ternyata enggak lebih baik dari aku. Dan aku mulai menyukai kekurangan-kekurangan itu. Well, menerima kali tepatnya.

Dan ketika datang kehilangan, aku melebih-lebihkan kekurangan-kekurangannya itu untuk mengompensasi kerugian. Biar rasa sakit karena kehilangannya itu jadi agak terkurangi. "Ah, dia nggak se-spesial itu. Tapi gayanya itu lho, yang kayak dia lebih baik dari kita semua," sebagai salah satu contoh.

Tapi terus lama-kelamaan, kok aku malah denger so many good things about him ya dari mutual friends? Aku jadi meragukan penilaianku. Aku jadi enggak percaya sama diriku sendiri, karena...gimana bisa segitu banyak orang salah?

Dan sekarang, jatuh-jatuhnya, aku jadi berpikir lagi. Apakah dia bener-bener enggak sehebat itu? Karena dari apa yang aku denger, ini orang baik yang sedang dibicarakan. Seseorang yang memenuhi kualitas 'a good human being'.

Jadi bertanya, apakah aku sebenernya udah sadar sama apa yang hilang?

Jangan-jangan, ini adalah suatu kegagalan yang lebih besar dari yang aku sadari sebelumnya. Karena it turns out, dia orang yang baik-baik aja, nggak ada yang 'salah'. Dan I screw up much worse than I thought before. Karena dia just okay the way he is, dia nggak kurang apa pun, sementara aku....menuntut banyak.

Ouff.

Hatinya rasanya langsung jatuh ke perut. Karena ternyata, setelah diinget-inget lagi, dia memang bener-bener 'all that'. And I screw up. Big time.

Dan alasan kenapa 'teori' ini lebih masuk akal; karena aku mengenal elemen-elemen diriku di sini. Aku yang aku kenal: Aku bener-bener not good at human relationships.

Tapi bukannya itu cuman masalah paradigma ya?
Kalo misalnya kita berpikir bahwa diri kita adalah suatu kegagalan, kita akan terus mencari-cari bukti yang mensupport teori 'I am a failure' itu.

Apa pun itu, aku sekarang masih nggak bisa berenti berpikir, kalo aku sudah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari yang aku pikir sebelumnya.

:(

Tuesday, August 09, 2005 

Kesal, kesal, kesal.

Argh, gila.

Ini udah D-Day+5, kenapa ya aku masih sedih?
Masih berharap kalau dia sama sakitnya kayak aku, which is impossible, dan itu malah mbuat aku lebih kesal lagi. Nggak efektif banget kan?
Aku masih ngerasa kesepian, tiap kali rumah kosong kayak hari Sabtu kemarin, dan di kantor juga nggak ada siapa-siapa yang bisa mbuat aku ngerasa nyaman, kayak hari Sabtu kemarin juga. Terus jalan-jalan di Kota, dan kesan yang sama lagi-lagi terulang. Kosong, sepi, sedih.

Dan, whhhyyyyy, kenapaaa, kenapaaa aku harus ketemu dia hari Minggu?
Dan yang mbuat aku kesal lagi, aku jadi terprovokasi untuk drink and dial. Ironically, aku enggak butuh 'drink' untuk terprovokasi dan 'dial'--dalam hal ini nge-sms--

Stupid, stupid, stupid.

Aku enggak pengen jadi Miles Raymond di 'Sideways', yang berada dalam kondisi depresi terus menerus. Pokoknya, secara umum, aku enggak pengen ngerasa sedih. Why can't I forget?

Kenapa, kenapa, kenapa, aku enggak bisa ngelupain rasa kehilangan dari pertemuan yang singkat itu?

Dan kenapa aku nggak bisa nerima gitu aja, kalo yaa.. kita nggak cocok? Kenapa aku masih yakin kalo ada sesuatu di diriku yang rusak dan perlu diperbaiki?

AAAAAAAAAAAAAAAAARGGGGHHHHHH.

*pengen nimpuk sesuatu*

Thursday, August 04, 2005 

Manifesto Patah Hati

Today I feel like shit. And I look like shit. Aku enggak mau jalan, ke kantor, dan ngejalanin tugasku. Aku cuman pengen tidur seharian di kamar, terbungkus selimut, dan menangis. Sendirian. Nggak pengen ditemui dengan yang namanya tanggung jawab, atau profesionalitas.

Setiap pekerja perempuan berhak mendapat cuti ketika datang bulan. Tapi kenapa tidak ada cuti bagi pekerja perempuan ketika mereka habis patah hati? (dalam konteks dating) Here's what every woman should fight for. Hak untuk berlibur dan berkubang dalam kesedihan mereka, setelah some asshole broke their heart. Atau hatiku, tepatnya.

Aku baru aja keilangan my 12 year-old pet, mahluk yang sudah ada sejak aku kelas 6 SD. Dan siklus bulananku baru saja datang. Dan I just got my heart immensely broken, by a guy that I really like. Yang ternyata menganggap setiap pertanyaanku seperti teror. Teror.

Teror.

Dia benar-benar menggunakan kata itu.

Dan malam ini aku menangis. Entah karena yang mana. Semua kesedihan bercampur baur menjadi satu. Tidak jelas penyebabnya yang mana. Faktor hormonal, faktor sedih karena kehilangan binatang peliharaan yang sudah ikut berpindah ke tiga kota, dan selalu menjadi penghibur di kala manusia membuatku kesal, atau karena itu tadi, faktor patah hati.

Menangisi bibir yang belum dan tidak akan pernah dikecupnya.

Menangisi tangan dengan rasa hangat yang nyaman dan kental aroma manis rokok yang tidak pernah lagi akan kupegang.

Menangisi kebodohanku, membiarkan sesuatu yang begitu absurd dan tidak jelas memasuki kehidupanku, mempercayakan hati yang mudah pecah kepada seorang yang tidak tahu caranya menghargai orang lain. Yang memperlakukan orang lain seperti batang-batang rokok yang tak henti-hentinya ia hisap habis, sebelum ia jejalkan melawan tanah.

Menangisi hilangnya diskusi-diskusi, yang mulai aku nikmati dan bisa aku ikuti dibanding sebelumnya.

Menangisi panggilan yang dia berikan, dan menangisi lamanya waktu untuk menghilangkan kenangan akan nada logat kentalnya saat ia mengucapkan kata yang bukan berasal dari bahasa ibunya itu.

Dan menangisi pikiran di masa depan nanti, saat dia memiliki seorang baru yang membuatnya bahagia, dan membuatku bertanya-tanya, ‘ada apa yang salah denganku, sehingga dia tidak bahagia?'

Dan aku akan tersenyum kecut mengingat jawabannya, ‘karena setiap pertanyaan yang kamu tanyakan terasa seperti teror bagiku.'

Fiuh.

Betapa egoisnya aku, menangisi seseorang yang baru aku kenal dalam hitungan bulan. Sementara keluargaku sedang bersedih tentang Buntel, yang sudah ada 12 tahun dalam kehidupan kami. Dan di bawah, bunyi bel kecil tak henti-hentinya terdengar, menandakan si kecil putih yang bingung mencari kawannya dalam 4 tahun terakhir ini. Aku tidak tahu apa si bayi itu mengerti tentang konsep hilang dan tak akan kembali.

Dan kalau aku boleh lebih egois, aku bersyukur pada Tuhan, karena memberikan waktu yang tepat untuk semuanya. Sehingga, jika pagi ini mataku membengkak, dan ibuku bertanya kenapa, aku dapat menjawab: menangisi Buntel. Paling-paling mereka akan mengecapku sebagai ‘yang paling perasa', dan mereka tidak akan pernah tahu, aku menangis tentang seseorang.

Aku menggendong si kecil, dan memasukkannya ke kamarku, agar dia tidak kesepian. Tetapi dia memohon-mohon agar dikeluarkan. Kubuka pintu geser putih untuk membiarkannya keluar. Dan dia langsung melesat ke bawah, kembali berputar-putar di sekeliling rumah, mengendus-ngendus setiap sudut, mencari pejantannya.

Sayang, pejantanmu tak akan kembali.
Begitu pula dengan pejantanku.

Aku harap kamu bisa mengerti itu, kecil. Agar kau dapat menghentikan pencarianmu dan beristirahat tenang malam ini.

Tapi aku juga tidak menginginkanmu merasakan sakitnya kehilangan. Kamu terlalu lembut dan naif untuk mengerti rasa itu.

Jadi mungkin di antara kita berdua, kaulah yang lebih beruntung. Mungkin kau hanya akan kelelahan esok, dan bertanya-tanya, tetapi lambat laun kau akan melupakan keberadaan kawanmu itu.

Sementara aku, yang sehari-harinya akan menerima segala bentuk dramatisasi akan konsep kehilangan dalam budaya pop, akan kembali teringat lagi dan lagi. Sampai mungkin suatu hari, aku juga akan melupakannya.

Tapi, manis, anjing adalah hewan yang setia. Aku khawatir, bisakah kau melupakan kawanmu itu, tanpa kau mengerti akan konsep kehilangan?

Bunyi belmu masih terdengar di bawah sana. Mataku sekarang terasa sakit dan kering. Kepalaku pusing. Dan esok, mau tak mau, tanggung jawab menanti.

So, there you have it, Drama Queen. Kamu kan yang selalu meminta hidupmu dipenuhi dengan drama? Dan sekarang kau mendapatkannya. How about it, eh?

Wednesday, August 03, 2005 

Unhealthy Obsession

Ada masanya seseorang kembali menjadi anak kecil. Atau setidaknya kembali berada di masa puber. Buat seorang pria berumur 50 tahunan, saat itulah midlife crisis datang menyerang, dan mereka kembali menjadi lelaki yang dipenuhi dengan testosteron meledak-ledak tanpa kendali. Tapi sebentar, kenapa bentuk midlife crisis pada perempuan tidak menjadikan mereka menjadi lebih genit, seperti waktu mereka muda dulu, tetapi malah didera berbagai macam keluhan menopausal syndrome?

Hmm...atau malah mungkin dalam hal temperamen, perempuan menjadi kembali remaja? Meledak-ledak, tidak bisa ditebak, labil; intinya, drama queen.

Sekarang, aku lagi kembali menjadi adolescent teen girl. Dalam hal, insekuritas (apakah itu bahasa Indonesia yang tepat?).

Aku mengira pada usia 22 aku sudah menjadi seseorang yang menerima siapa diri aku sebenarnya. Tapi ada masa-masa seperti beberapa hari ini.

Saat aku kembali ingin menjadi seseorang yang lebih mungil, lebih lembut, terlihat lebih fragile, lebih manis, dan baik. Lebih....perempuan. (perempuan dalam artian yang sering didengung-dengungkan oleh ibuku, dan yang sering aku lihat dan kagumi di masa-masa SMA).

Seseorang yang anggun dan tidak canggung, tidak sering jatuh terpeleset ketika berjalan, atau melakukan kesalahan-kesalahan bodoh.

Fiuh.
Kenapa ya?
Kok bisa kembali lagi ke sini?

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates