Sunday, July 24, 2005 

Jangan Bermain-main dengan Flu Burung

Mungkin karena virus ini mematikan. Dan sesuatu yang berhubungan dengan kematian, apalagi yang cepat seperti ini, selalu menimbulkan misteri. Belum lagi mempertimbangkan faktor bahwa korban-korbannya berkeluarga; ayah dan kedua anaknya yang masih kecil. Dan dalam waktu yang berurutan; tiap orang hanya selang dua hari. Sehingga ada satu hal yang tidak bisa terhindarkan di sini: kemunculan teori-teori konspirasi.

Teori konspirasi yang muncul (dan sekarang aku yakini, karena berbagai hal) adalah orang ini, Iwan Siswara Rapei dan kedua anaknya, di-Munir-kan.

Oh iya, satu lagi, pria ini bekerja di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mungkinkah kasus yang sedang ia tangani berpengaruh pada penyebab kematiannya?

Semua elemen untuk munculnya teori konspirasi ada di sini.

Alasanku mempercayai teori konspirasi itu, darimana ketiga orang tersebut terkena flu burung? Ini yang aku dapat dari wawancara dengan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan DKI waktu ikut meninjau Rumah Pemotongan Hewan Babi di Jakarta (yes, aku ngeliat babi-babi yang udah mati digantung upside down dengan kepala hampir putus): flu burung itu bisa menular ke manusia yang memiliki jam terbang tinggi dengan unggas. Peternak, misalnya. Yang mungkin bisa menghabiskan 12 jam sehari dengan unggas atau babi. Dan bukan cuma sehari dua hari, tapi terus-menerus.

Sementara Iwan? Berangkat pukul 6.00 pagi dari rumahnya di Tangerang, kembali sampai rumah lagi pukul 21.00 atau 22.00. Bagaimana bisa dia memiliki jam terbang tinggi dengan ayam atau babi, seperti layaknya peternak? Dan bagaimana anak-anaknya bisa terkena, padahal penyakit ini tidak menular antar manusia.

Harus ada jumlah virus AI yang tinggi di tubuh kita agar dapat menimbulkan kematian. Peternak yang waktu itu sempat terkena flu burung aja tidak mati. Gimana orang yang sehari-harinya jarang bersentuhan dengan hewan atau babi bisa terkena?

Dan ini, kalau Iwan dan dua anaknya bisa terekspos pada hal-hal yang menyebabkan mereka terkena flu burung, kenapa istri dan anaknya yang satu lagi, sehat-sehat saja?

Dilihat dari konsumsi, apa yang dikonsumsi Iwan dan kedua anaknya pasti juga dikonsumsi oleh istri dan anak lelakinya. Dan virus AI kan akan mati jika dagingnya dimasak pada suhu 80 derajat celcius.

Belum lagi faktor bahwa ini adalah penyakit epidemi. Kenapa belum ada korban-korban yang lain dan muncul dalam jumlah besar?

Nah ini lagi, di lokasi-lokasi yang dilaporkan muncul flu burung pada ternak. Peternak-peternaknya pada sehat-sehat aja tuh, padahal mereka yang tidak begitu memperhatikan kebersihan. Mana mereka pake masker?

Ada nggak ya, 'pakar' yang bisa menggunakan kekuatannya untuk membentuk opini publik dan mengarahkan kecurigaan ke arah situ.

Hmm...just my two cents.

Monday, July 18, 2005 

Kucing-kucing Kota

Ting.

Aku hanya mendengar suara pintu elevator itu terbuka. Langkah-langkah kaki manusia terdengar bergegas menapak, menuju kotak-kotak tempat mereka akan tertahan beberapa jam lagi, sampai hari itu berakhir. Empat kaki yang berjingkat-jingkat menapak anggun.

Wajah cantiknya celingak-celinguk, melihat ke kiri dan ke kanan. Matanya tampak sendu, bulat penuh, dan cemerlang. Kesannya lembut dan menawan. Sesaat, aku ingin mengikutinya dan bermain-main sebentar. Ada orang-orang bebal di depanku, hanya membuatku tambah kesal.

Bulu lembut si cantik itu tentu akan menggelitik ujung jariku dan mencairkan kekesalan.

Tapi, sesaat kemudian, aku berpikir: "Ah, kurang kerjaan banget sih."

Jadi aku membiarkan si cantik itu pergi.

Beberapa waktu berlalu, sampai akhirnya ada suara bernada tinggi melengking. Berulang-ulang, seperti memanggil-manggil. "Miauw, miauw, miauw." Lama-kelamaan makin keras dan menusuk.

"Ah, ada anak kucing rupanya di lantai ini."

Suara itu membuat penasaran. Dan bayangan bayi-bayi kucing yang lucu bermain-main di kepalaku. Cukup untuk membuatku mengikuti arah suara yang sekarang menjurus ke arah teriakan. Sementara orang-orang bebal di sekitarku tetap saja berdiam dan berjalan. Bahkan di tengah basa-basi mereka ke satu sama lain tidak ada yang menyebutkan tentang teriakan si anak kucing.

Pikirku, ah...si cantik tadi pasti ibunya.

Berjalanlah aku ke suatu sudut yang gelap, dan aku menemukan kardus bekas mie instan, tempat suara teriakan itu makin terdengar memekakkan telinga.

Aku mengharapkan tiga atau empat kepala-kepala kecil penuh bulu, sedang mencoba mencari induknya lewat mata-mata mereka yang masih tertutup, dan telinga mereka yang masih belum berdiri tegak.

Tapi aku hanya melihat kepala si cantik sedang tertunduk, bergerak ritmis, seakan menjilati si bayi. Pikiranku: ah, ibu ini sedang memandikan anaknya.

Tapi ada sesuatu yang aneh. Kenapa si bayi berteriak-teriak melengking seperti itu? Dan kenapa tengkuk si cantik tampak semakin lama bergerak semakin cepat dan penuh tenaga?

Aku lupa, apakah aku melihat kaki-kaki kecil si bayi yang meregang-regang, atau aku hanya membayangkan melihat kaki-kaki itu.

Aku tersadar akan apa yang sedang terjadi.
Dan aku langsung meninggalkan tempat itu.

Aku tidak mau mengetahui apa yang sedang terjadi.
Walaupun aku sebenarnya tahu sesuatu sedang terjadi.

Aku ingin memanggil orang bebal berseragam hijau daun di depan kantor tadi. Tapi apa yang bisa ia lakukan dalam waktu cepat? Dan jika yang aku takutkan sedang terjadi, bagaimana nasib si bayi nanti, ditinggal dengan kepala hampir putus, berada dalam kesakitan antara hidup dan mati, tanpa aku bisa berbuat apa-apa, selain menunggu waktunya tiba?

Akhirnya aku pergi sejauh mungkin. Melindungi diri dari teriakan yang sekarang jelas; itu teriakan kesakitan, teriakan permintaan tolong, teriakan mahluk hidup lemah yang menghadapi rasa sakit dimakan hidup-hidup.

Tapi , tetap saja. Suara itu terus mengikuti. Bertambah keras, keras, keras. Sampai aku merasa, ini waktunya.

Erangan itu kemudian melemah. Sampai hanya terdengar sesekali, dalam tempo yang tidak beraturan.

Sampai akhirnya waktu yang aku tunggu, datang. Keheningan. Semua sudah selesai. Dan aku berharap perasaanku kembali normal.

Tapi ternyata tidak.
Keheningan itu hanya membenarkan perkiraanku tentang apa yang tadi terjadi.
Keheningan itu membuktikan ketidakmampuanku menolong.
Keheningan itu membuktikan ketakutanku.

Dan sekarang keheningan itu malah terasa lebih menyeramkan.

Tengkukku tiba-tiba terasa dingin.
Dan aku ingin muntah.
Membayangkan si cantik itu sekarang sedang menjilat-jilati dasar kardus, menjilati sisa-sisa yang digigitinya sedikit demi sedikit.

Baru sekarang aku mengerti, kenapa Clarice Starling takut pada diamnya domba-domba itu, the silence of the lambs.

Sampai sekarang pun aku masih ingin muntah; mencoba membayangkan apa yang baru tadi terjadi.

Friday, July 15, 2005 

Oufff....

Oufff...

Aku sebenernya lagi membatasi diri untuk tidak mengeluh, tapi hari ini kerasanya udah too much. Hmm, mungkin daya tahanku yang rada enggak kuat. Tapi...

Oke, biar yang mbaca deh yang menilai.

Selasa, 12/7
Fiiuh, hari itu ke Walikota, mencoba mencari sesuatu tentang hemat energi. Ternyata nggak sadar kalo hari yang sama, tema itu udah dikerjain. Padahal pake ke Puri segala, ngecek gimana tempat usaha berhemat. Well, ok, kesalahanku, enggak ngecek2 dulu.

Pas di Puri, sempet ngintip koran tentang liputan Mulyana-ku, yang kemaren rasanya udah total. Aih... kecewa euy. Ternyata masih ada kode 'Ant' sebelum nomerku. Maksudnya, kemaren kan aku nunggu sampe rada lama di warnet, dengan harapan kalo masih ada yang nggak jelas atau kurang, aku masih bisa langsung ol. Ternyata....ditelpon juga enggak, eh tiba2 cuman 'ant' aja ditambahin.

Dari situ, ke Pengadilan Negeri Jakbar, dan dengan cepat-cepat dari Citraland naik ojek dengan harga yang cukup meng-haegh-kan (udah ditawar! udah ditawar!) karena udah telat. Pas sampe sana, lho...jaksanya kok malah mau sidang kasus lain, jangan-jangan...

Ternyata, "ditunda minggu depan, hakimnya lagi libur."

Fiuh, lega.

Tapi, tegang lagi...lah beritanya apa dong jadinya?

Telpon2, ternyata lagi pada ngurusin kasus SMP 271. Tapi karena gk kedengeran jelas, akhirnya aku meluncur ke 271, dan dari Kantor Camat Kebon Jeruk, kembali naik ojek dengan harga yang haegh lagi. (Walopun katanya temen yang tau daerah situ dan ngasih tau rutenya, harga segitu standar sih).

Pas sampe sana, eh malah sepi. (Which, I later know, mereka ternyata di rumah salah satu gurunya di Ciledug). Haegh.

Dari situ akhirnya balik ke kantor, jalan kaki, trus ganti sampe...4 kali baru sampe kantor. Sebenernya gak sejauh itu, cuman aku nelusurin rute angkutan umum yang lewat rute tadi pas naik ojek. Dan, aku sampe di kantor with...nothing.

Aduh, ngerasa gagaaaal banget. Dengan semua energi yang dihabiskan itu, tetep gk ada hasilnya. Maksudnya, efisiensinya gimana? Kerja kok gak direncanain sih?

Nah dari situ geger lagi. Aku ngecewain orang lagi. Aku mbuat orang nunggu sampe sekitar satu jam. Dan dia marah besar. (Aih, padahal kalo mo diitung-itung...well, ok, sebenernya bisa impas sih. Tapi, anyway, aku mbuat orang marah). Ah, kenapa kenapa kenapa harus terjadi di hari ini?

Abis gitu, sampe rumah udah jam 1-an deh kayaknya. Udah terlalu capek untuk naik ke kamar, jadi tidurlah aku lengkap dengan baju seharian di sofa ruang tamu. Dan, aduh, aku lagi-lagi mbuat kesalahan dengan ngecewain ortuku. (Btw, kenapa hidupku kerasa out of control gini sih?).

Belajar dari pengalaman hari itu, besoknya aku rencanain..

Rabu, 13/7
Ketemu Ketua BPLHD DKI yang bener-bener inspiring. Dan aku menghabiskan pagi hari dengan cukup optimis. Terus ke PN Jakbar, karena ada pembacaan tuntutan Kasudin Pertamanan. Karena gak mulai-mulai, akhirnya yang lain pada pindah ke Walikota, karena katanya ada konpers tentang orang-orang keturunan etnis Tionghoa di Tegal Alur yang nggak punya surat-surat resmi sampe sekarang. Karena semuanya pada pindah ke WalKot, ikutlah aku. Ternyata itu yang asalnya jam 3, ternyata mulai baru jam 4! Di saat bersamaan, sidang yang udah ditunggu-tunggu sejak semingguan yang lalu aku lepasin. Stupid, stupid, stupid. Hanya karena power of the people.

Another day, another mistake.

Kamis, 14/7
Ini bener-bener hari yang penuh ketelatan. Sebenernya mo mantau tentang penerimaan siswa baru. Akhirnya malah ke daerah Mangga Besar, liat tempat-tempat judi, karena malem sebelumnya disuruh mantau2 disitu juga. Anyway, bareng kenalan baru berjalan-jalan di daerah yang juga baru. Kita keliatan amat sangat mencurigakan. Me, with my appearance, dan si kenalan baru, yang gayanya anak kuliahan.

Dari situ ketauan klo bakal ada razia jam 2, tapi di saat yang bersamaan, dikasih tau secara mendadak ada konpers pengacaranya ketua kpud yang mo ngajuin penangguhan penahanan, di Kuningan. Oke, jam 1 berangkat dari MB menuju ke Kuningan, sampe di Kuningan (lagi-lagi dengan bantuan tukang ojek dengan harga yang haegh...), dan sampe jam 2.15, dan menemukan kalo tempatnya....sepi, dan terlihat normal.

Ternyata konpers yang mnrt redakturku itu jam2, ternyata udah berlangsung jam 1.30 dan selesai jam 2. Di situ aku malah nerima marah2an dari orang-orang yang menyesalkan keterlambatanku. Aduh.

Untungnya, masih ada anak Koran Tempo yang bisa ditanya2in.

Dari situ mo ngejar razia, tapi gak tau tepatnya dimana. Oke, dari Kuningan ke Polres Jakbar, tapi juga gk ada yang tau. Akhirnya telpon2 ke yang lain sampe 2 kali, clue-nya hanya: Taman Sari dan Glodok masuk. Okelah coba kesana. Dari situ ke Slipi, trus naik M11 ke Museum Tekstil, dari situ oper M08 ke Kota. Di Glodok, telpon temen yang lain, dan katanya: "wah udah selesai, udah bubar." Ough.

Tapi, ternyata: "tapi pak puji-nya ada kalo mo tanya2 infonya."

Oke, jadinya ke Polsek Taman Sari. Dari situ: "wah, pak puji-nya baru 15 menit yang lalu pergi. tadi rame mbak di sini, kok mbak nggak ke sini sih?"

Fucking hell.

Itu pas rasanya pengeeeen banget nangis. Kesel, kesel, kesel, kesel.

Pas gitu, akhirnya dapet sms dari kenalan baru yang udah aku gangguin terus dan bilang: kita ada di jalan mangga besar, rm padang sederhana.

Dan, dapet tumpangan motor dari 2 wartawan lain yang telat. Akhirnya. Dari situ, nyalin lagi. Duh, kerjaanku kok hari ini nyalin terus sih? Tapi okelah, dapet apa yang ditugasin. Walopun aku masih rada nggak sreg sama caraku ngedapetin bahan.


Jumat, 15/7
Hari ini, tadi pagi berawal dengan buruk. Kartu atm yang sedianya jadi hari ini (dan akan menjadi sumber finansialku untuk girls day out besok dan mbayar utang ke orang malem ini dan ternyata aku ada janji main bowling juga sama orang lain selain Rani, dan mbayar utang to my dad), belum jadi. Well, udah, tapi kurirnya belum sampe. Duh, gimana sih? Rencana jadi kacau semua gini.

Trus pergi ke Kalibata, ke ICW, dan things are getting better; gak tersesat, langsung nemu jalan, orang-orangnya juga oke. Dari situ trus menuju ke WalKot Jakbar yang rencananya jam 2 mau ada pemeriksaan guru-guru pelapor penyelewengan dana. Dan believe it or not, Kalibata sampe Walkot Jakbar bisa sampe 3 jam!

Gara-garanya siang itu hujan besar, dan belum apa-apa, udah banjir dimana-mana, macet dimana-mana. Orang Jakarta tuh onani semua sama mobil. Jalan gak seberapa, mobil ditambah terus. Udah gitu, cara mengatasi jalan yang banjir ala orang Jakarta? Naik Panther. Mobil solar gitu kok dibilang: 'Naik Panther, Pinter!' sih? Nambah beban lagi sama pencemaran udara. Haeghhhhhhhhhhhhh.

Kembali ke narasi....

Naik B14 dari Citraland sampe Mal Puri bisa sampe 1,5 jam! Dan itu pun sempet ganti angkot 2 kali! Yang pertama mesinnya meledak, trus yang kedua bannya kempes. Biasanya harus mbayar 2 ribu, sekarang jadi total 4500. Pas sampe sana, dibilangin satpam klo guru2nya udah pada pergi.

Tapi trus nelpon orang ICW yang sedianya ndampingin mereka, katanya..."masih disana kok mbak, di lantai 3 di Bawasko," setelah nelpon si guru. Dan si satpam tetep bersikeras si guru2 udah pulang. Orang-orang ditanyain pada nggak tau semua. Bukan cuma tentang keberadaan mereka, guru yang posisinya sebagai tamu, tapi juga nggak tau siapa bawahan Kepala Seksi Pengawasan yang harusnya nerima mereka, etc etc. Bukan cuma si satpam, orang-orang lainnya juga enggak tau dan semuanya tetep berkeras guru2 itu udah pulang. Sementara antara pegawai negeri ama orang ICW, aku lebih milih percaya orang ICW. (Sadis? Judgmental?)

3 jam perjalanan nggak nyampe-nyampe udah cukup mbuat aku sinis dan gak sabaran, dan berbatasan dengan ketidakramahan. Tapi aku paling sebel sama orang yang ignorant gitu. Dia satpam, kerja di sana, tugasnya nerima tamu, kalo nggak tau ya gimana dong dia bisa ngarahin tamu ke orang yang benar? Public service! Public service!

Setelah itu, bener, keempat gurunya masih ada di sana. Dan keluar dari Bawasko. Aku ngikutin mereka sampe ke bawah, wawancara bentar. Trus balik lagi ke atas. Mencari orang yang nerima, dan oke..kebodohanku juga, kok lupa nanya siapa yang nerima mereka. Dan si satpam, eh salah ding.. hansip, udah kembali ke ignorant mode.

Setelah itu, ada bapak-bapak Bawasko yang nanya, mo nyari siapa. Aku bilang mo nyari yang nerima guru2 smp 271. dan si bapak bilang: nggak ada tuh dari smp yang dateng, ada dari sd.

Itu panasnya darah yang mendidih udah kerasa kayak mata mo meledak.

"Pak, saya tadi ngeliat mereka keluar, saya ikut turun sama mereka, saya wawancara mereka di bawah, gimana bisa nggak ada?"

Dan si bapak yang dengan keukeuh sambil nyisir rambut di depan kaca ndengerin aku ngomong kembali ngomong, "nggak ada dari tadi guru smp yang dateng, adanya sd. Yang nerima guru sd-nya udah pulang."(Dan emang ada guru SD yang dateng, cuman ini yang dicari guru SMP).

Si bapak melenggang masuk, dan aku cuman bisa ber-aduh, haduh, mendecak tidak sabar, dan tampak amat tidak ramah.

Akhirnya ke Balai Wartawan dan dapet 3 rilis, satunya tentang operasi judi 3 hari terakhir.

-----

Epilog:

Jadi, what do you call this?
Minggu yang buruk?
Hidup?
Kekagetan akan ritme kerja wartawan yang sebenarnya?
Atau, awal dari sebuah kehidupan yang terus seperti ini, yang sekarang belum aku rasa biasa, tapi nantinya menjadi sebuah bagian rutinitas, dan aku akan mengangeni rasa-rasa frustasi seperti ini?

Minggu ini hampir selesai. Lagi nunggu keputusan aku masuk hari apa. Trus pulang, naik anteran, menembus banjir. I'm off.

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates