Jangan Bermain-main dengan Flu Burung
Mungkin karena virus ini mematikan. Dan sesuatu yang berhubungan dengan kematian, apalagi yang cepat seperti ini, selalu menimbulkan misteri. Belum lagi mempertimbangkan faktor bahwa korban-korbannya berkeluarga; ayah dan kedua anaknya yang masih kecil. Dan dalam waktu yang berurutan; tiap orang hanya selang dua hari. Sehingga ada satu hal yang tidak bisa terhindarkan di sini: kemunculan teori-teori konspirasi.
Teori konspirasi yang muncul (dan sekarang aku yakini, karena berbagai hal) adalah orang ini, Iwan Siswara Rapei dan kedua anaknya, di-Munir-kan.
Oh iya, satu lagi, pria ini bekerja di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mungkinkah kasus yang sedang ia tangani berpengaruh pada penyebab kematiannya?
Semua elemen untuk munculnya teori konspirasi ada di sini.
Alasanku mempercayai teori konspirasi itu, darimana ketiga orang tersebut terkena flu burung? Ini yang aku dapat dari wawancara dengan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan DKI waktu ikut meninjau Rumah Pemotongan Hewan Babi di Jakarta (yes, aku ngeliat babi-babi yang udah mati digantung upside down dengan kepala hampir putus): flu burung itu bisa menular ke manusia yang memiliki jam terbang tinggi dengan unggas. Peternak, misalnya. Yang mungkin bisa menghabiskan 12 jam sehari dengan unggas atau babi. Dan bukan cuma sehari dua hari, tapi terus-menerus.
Sementara Iwan? Berangkat pukul 6.00 pagi dari rumahnya di Tangerang, kembali sampai rumah lagi pukul 21.00 atau 22.00. Bagaimana bisa dia memiliki jam terbang tinggi dengan ayam atau babi, seperti layaknya peternak? Dan bagaimana anak-anaknya bisa terkena, padahal penyakit ini tidak menular antar manusia.
Harus ada jumlah virus AI yang tinggi di tubuh kita agar dapat menimbulkan kematian. Peternak yang waktu itu sempat terkena flu burung aja tidak mati. Gimana orang yang sehari-harinya jarang bersentuhan dengan hewan atau babi bisa terkena?
Dan ini, kalau Iwan dan dua anaknya bisa terekspos pada hal-hal yang menyebabkan mereka terkena flu burung, kenapa istri dan anaknya yang satu lagi, sehat-sehat saja?
Dilihat dari konsumsi, apa yang dikonsumsi Iwan dan kedua anaknya pasti juga dikonsumsi oleh istri dan anak lelakinya. Dan virus AI kan akan mati jika dagingnya dimasak pada suhu 80 derajat celcius.
Belum lagi faktor bahwa ini adalah penyakit epidemi. Kenapa belum ada korban-korban yang lain dan muncul dalam jumlah besar?
Nah ini lagi, di lokasi-lokasi yang dilaporkan muncul flu burung pada ternak. Peternak-peternaknya pada sehat-sehat aja tuh, padahal mereka yang tidak begitu memperhatikan kebersihan. Mana mereka pake masker?
Ada nggak ya, 'pakar' yang bisa menggunakan kekuatannya untuk membentuk opini publik dan mengarahkan kecurigaan ke arah situ.
Hmm...just my two cents.
Teori konspirasi yang muncul (dan sekarang aku yakini, karena berbagai hal) adalah orang ini, Iwan Siswara Rapei dan kedua anaknya, di-Munir-kan.
Oh iya, satu lagi, pria ini bekerja di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mungkinkah kasus yang sedang ia tangani berpengaruh pada penyebab kematiannya?
Semua elemen untuk munculnya teori konspirasi ada di sini.
Alasanku mempercayai teori konspirasi itu, darimana ketiga orang tersebut terkena flu burung? Ini yang aku dapat dari wawancara dengan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan DKI waktu ikut meninjau Rumah Pemotongan Hewan Babi di Jakarta (yes, aku ngeliat babi-babi yang udah mati digantung upside down dengan kepala hampir putus): flu burung itu bisa menular ke manusia yang memiliki jam terbang tinggi dengan unggas. Peternak, misalnya. Yang mungkin bisa menghabiskan 12 jam sehari dengan unggas atau babi. Dan bukan cuma sehari dua hari, tapi terus-menerus.
Sementara Iwan? Berangkat pukul 6.00 pagi dari rumahnya di Tangerang, kembali sampai rumah lagi pukul 21.00 atau 22.00. Bagaimana bisa dia memiliki jam terbang tinggi dengan ayam atau babi, seperti layaknya peternak? Dan bagaimana anak-anaknya bisa terkena, padahal penyakit ini tidak menular antar manusia.
Harus ada jumlah virus AI yang tinggi di tubuh kita agar dapat menimbulkan kematian. Peternak yang waktu itu sempat terkena flu burung aja tidak mati. Gimana orang yang sehari-harinya jarang bersentuhan dengan hewan atau babi bisa terkena?
Dan ini, kalau Iwan dan dua anaknya bisa terekspos pada hal-hal yang menyebabkan mereka terkena flu burung, kenapa istri dan anaknya yang satu lagi, sehat-sehat saja?
Dilihat dari konsumsi, apa yang dikonsumsi Iwan dan kedua anaknya pasti juga dikonsumsi oleh istri dan anak lelakinya. Dan virus AI kan akan mati jika dagingnya dimasak pada suhu 80 derajat celcius.
Belum lagi faktor bahwa ini adalah penyakit epidemi. Kenapa belum ada korban-korban yang lain dan muncul dalam jumlah besar?
Nah ini lagi, di lokasi-lokasi yang dilaporkan muncul flu burung pada ternak. Peternak-peternaknya pada sehat-sehat aja tuh, padahal mereka yang tidak begitu memperhatikan kebersihan. Mana mereka pake masker?
Ada nggak ya, 'pakar' yang bisa menggunakan kekuatannya untuk membentuk opini publik dan mengarahkan kecurigaan ke arah situ.
Hmm...just my two cents.
