Back to Same Old Me
Ternyata, enggak lama setelah aku tidak merasa iri, aku kembali juga ke 'diriku yang dulu' (aku lagi tidak dalam mood yang cukup bersemangat untuk membahas Covey-ism dan Habits of Effective People-nya, yang bilang kalau gimana kita itu sebenarnya tergantung sama paradigma kita ngeliat diri sendiri).
Ternyata ketidakirianku itu cuman a fluke aja, suatu deviasi dari ritme yang sebenarnya.
Setelah blogwalking, kesan yang muncul malah: kenapa ya, kok aku iri sama hidup orang lain?
Iri sama komentar-komentar di blog orang, bukan masalah kuantitasnya (dengan tegas mengakui: I am not a comment whore), tapi masalah kualitasnya.
Komentar dari teman-teman dekat si blogmaker yang affectionate; nadanya intim, tanpa harus menyingkap banyak rahasia yang eksplosif, tapi tetap menunjukkan bahwa di antara mereka ada keminiman jarak. Sehingga yang muncul adalah hasil pengamatan yang teliti dari sebuah hubungan antar manusia, dari satu teman ke teman lainnya.
Hmmm...aku?
Punya sih temen-temen yang deket, tapi mereka nggak di sini. Dan somehow, aku merasa kehilangan komentar atas pengamatan mereka yang biasanya aku denger langsung. Aku rasa jarak yang jauh berperan mengurangi intimacy.
(On a second thought,
kayaknya aku lagi kangen ama temen-temen baruku yang mulai deket deh.)
Tapi, tapi, ini tadi juga sempet aku rasain.
Ngeliat blog orang lain, aku jadi bertanya-tanya, kenapa sih hidup orang lain terasa lebih rumit dan lebih menarik?
Sementara, hidupku, akhir-akhir ini kerasa dangkal banget.
Problem-problemku kerasa simpeel banget.
Some people mungkin bakal ngira enak kali ya, hidup yang simpel, nggak mikir macem-macem.
Tapi aku rada pengen juga sih punya sejenis kompleksitas dalam hidup.
Dan lewat apa yang diceritain orang-orang di blog mereka...
Aku enggak tahu, apakah mereka emang menulis untuk membuat orang lain terkesan atau...
Itulah yang benar-benar ada di benak mereka, dan terjadi dalam kehidupan mereka.
Ada sejenis misteri di hidup mereka.
Sementara hidupku cuman...datar aja.
Tapi,
kenapa sih aku enggak bisa nulis kata-kata yang indah, tersambung satu demi satu dengan lezatnya?
Kata-kata hasil imajinasi yang benar-benar tanpa batas (sesuatu yang sekarang lagi enggak bisa aku lakuin, atau malah enggak tahu, apakah suatu saat bisa aku lakuin. Will I ever be good enough?), contohnya kayak blog bapak ini dan ada blog-blog lain.
Atau,
kenapa sih hidupku enggak sedramatis itu?
Kenapa enggak ada masalah temen-temen yang juga ikutan mbuat aku pusing?
Apakah karena aku tidak membuat effort untuk lebih attune ke masalah temen-temenku? (Is that it friends?)
Dan (jatuh-jatuhnya kok ya balik ke ini ya?) enggak ada relationship yang stabil, yang memasukkan unsur balas-balasan rasa sayang yang seimbang kayak mbak yang ini, enggak ada wishful thinking yang penuh dengan nada-nada flirting. (Nggaak, aku lagi nggak bitter kok).
Hmmm...
Envy.
Itu dosa nomer berapa, btw?
Ternyata ketidakirianku itu cuman a fluke aja, suatu deviasi dari ritme yang sebenarnya.
Setelah blogwalking, kesan yang muncul malah: kenapa ya, kok aku iri sama hidup orang lain?
Iri sama komentar-komentar di blog orang, bukan masalah kuantitasnya (dengan tegas mengakui: I am not a comment whore), tapi masalah kualitasnya.
Komentar dari teman-teman dekat si blogmaker yang affectionate; nadanya intim, tanpa harus menyingkap banyak rahasia yang eksplosif, tapi tetap menunjukkan bahwa di antara mereka ada keminiman jarak. Sehingga yang muncul adalah hasil pengamatan yang teliti dari sebuah hubungan antar manusia, dari satu teman ke teman lainnya.
Hmmm...aku?
Punya sih temen-temen yang deket, tapi mereka nggak di sini. Dan somehow, aku merasa kehilangan komentar atas pengamatan mereka yang biasanya aku denger langsung. Aku rasa jarak yang jauh berperan mengurangi intimacy.
(On a second thought,
kayaknya aku lagi kangen ama temen-temen baruku yang mulai deket deh.)
Tapi, tapi, ini tadi juga sempet aku rasain.
Ngeliat blog orang lain, aku jadi bertanya-tanya, kenapa sih hidup orang lain terasa lebih rumit dan lebih menarik?
Sementara, hidupku, akhir-akhir ini kerasa dangkal banget.
Problem-problemku kerasa simpeel banget.
Some people mungkin bakal ngira enak kali ya, hidup yang simpel, nggak mikir macem-macem.
Tapi aku rada pengen juga sih punya sejenis kompleksitas dalam hidup.
Dan lewat apa yang diceritain orang-orang di blog mereka...
Aku enggak tahu, apakah mereka emang menulis untuk membuat orang lain terkesan atau...
Itulah yang benar-benar ada di benak mereka, dan terjadi dalam kehidupan mereka.
Ada sejenis misteri di hidup mereka.
Sementara hidupku cuman...datar aja.
Tapi,
kenapa sih aku enggak bisa nulis kata-kata yang indah, tersambung satu demi satu dengan lezatnya?
Kata-kata hasil imajinasi yang benar-benar tanpa batas (sesuatu yang sekarang lagi enggak bisa aku lakuin, atau malah enggak tahu, apakah suatu saat bisa aku lakuin. Will I ever be good enough?), contohnya kayak blog bapak ini dan ada blog-blog lain.
Atau,
kenapa sih hidupku enggak sedramatis itu?
Kenapa enggak ada masalah temen-temen yang juga ikutan mbuat aku pusing?
Apakah karena aku tidak membuat effort untuk lebih attune ke masalah temen-temenku? (Is that it friends?)
Dan (jatuh-jatuhnya kok ya balik ke ini ya?) enggak ada relationship yang stabil, yang memasukkan unsur balas-balasan rasa sayang yang seimbang kayak mbak yang ini, enggak ada wishful thinking yang penuh dengan nada-nada flirting. (Nggaak, aku lagi nggak bitter kok).
Hmmm...
Envy.
Itu dosa nomer berapa, btw?


