Friday, June 24, 2005 

Back to Same Old Me

Ternyata, enggak lama setelah aku tidak merasa iri, aku kembali juga ke 'diriku yang dulu' (aku lagi tidak dalam mood yang cukup bersemangat untuk membahas Covey-ism dan Habits of Effective People-nya, yang bilang kalau gimana kita itu sebenarnya tergantung sama paradigma kita ngeliat diri sendiri).

Ternyata ketidakirianku itu cuman a fluke aja, suatu deviasi dari ritme yang sebenarnya.

Setelah blogwalking, kesan yang muncul malah: kenapa ya, kok aku iri sama hidup orang lain?
Iri sama komentar-komentar di blog orang, bukan masalah kuantitasnya (dengan tegas mengakui: I am not a comment whore), tapi masalah kualitasnya.

Komentar dari teman-teman dekat si blogmaker yang affectionate; nadanya intim, tanpa harus menyingkap banyak rahasia yang eksplosif, tapi tetap menunjukkan bahwa di antara mereka ada keminiman jarak. Sehingga yang muncul adalah hasil pengamatan yang teliti dari sebuah hubungan antar manusia, dari satu teman ke teman lainnya.

Hmmm...aku?
Punya sih temen-temen yang deket, tapi mereka nggak di sini. Dan somehow, aku merasa kehilangan komentar atas pengamatan mereka yang biasanya aku denger langsung. Aku rasa jarak yang jauh berperan mengurangi intimacy.

(On a second thought,
kayaknya aku lagi kangen ama temen-temen baruku yang mulai deket deh.)

Tapi, tapi, ini tadi juga sempet aku rasain.
Ngeliat blog orang lain, aku jadi bertanya-tanya, kenapa sih hidup orang lain terasa lebih rumit dan lebih menarik?
Sementara, hidupku, akhir-akhir ini kerasa dangkal banget.
Problem-problemku kerasa simpeel banget.
Some people mungkin bakal ngira enak kali ya, hidup yang simpel, nggak mikir macem-macem.
Tapi aku rada pengen juga sih punya sejenis kompleksitas dalam hidup.

Dan lewat apa yang diceritain orang-orang di blog mereka...
Aku enggak tahu, apakah mereka emang menulis untuk membuat orang lain terkesan atau...
Itulah yang benar-benar ada di benak mereka, dan terjadi dalam kehidupan mereka.
Ada sejenis misteri di hidup mereka.
Sementara hidupku cuman...datar aja.

Tapi,
kenapa sih aku enggak bisa nulis kata-kata yang indah, tersambung satu demi satu dengan lezatnya?
Kata-kata hasil imajinasi yang benar-benar tanpa batas (sesuatu yang sekarang lagi enggak bisa aku lakuin, atau malah enggak tahu, apakah suatu saat bisa aku lakuin. Will I ever be good enough?), contohnya kayak blog bapak ini dan ada blog-blog lain.
Atau,
kenapa sih hidupku enggak sedramatis itu?
Kenapa enggak ada masalah temen-temen yang juga ikutan mbuat aku pusing?
Apakah karena aku tidak membuat effort untuk lebih attune ke masalah temen-temenku? (Is that it friends?)

Dan (jatuh-jatuhnya kok ya balik ke ini ya?) enggak ada relationship yang stabil, yang memasukkan unsur balas-balasan rasa sayang yang seimbang kayak mbak yang ini, enggak ada wishful thinking yang penuh dengan nada-nada flirting. (Nggaak, aku lagi nggak bitter kok).

Hmmm...
Envy.
Itu dosa nomer berapa, btw?

Wednesday, June 15, 2005 




Image hosted by Photobucket.com




IRAN WOMEN'S RIGHTS: Iranian women hold

banners during an Iranian Women Movement rally in front of Tehran

University Sunday June 12, 2005. About 300 women took part in the

protest against gender discrimination in the Islamic Republic. (AP

Photo/Arshia Kiani)








***


Bayangkan, sebuah foto tentang protes melawan diskriminasi gender di

Iran, dan aku naruh foto ini di sini, hanya karena: "lihatlah kacamata

hitam-kacamata hitam yang dipake mbak-mbak itu, keren banget yah!"





(Terutama yang frame-nya putih. Shade-nya juga ungu-ungu keren gitu. Hehehe.)



Monday, June 13, 2005 

Me. Love. It.

Image hosted by Photobucket.com

So me (atau setidaknya, the image that I love).
Vintage glamour.
*helaan nafas panjang*

 

Mrs. Robinson

Some time ago, kayaknya setahun lalu menjelang lulus, (OMG! Has it been one year ago?) aku menulis sesuatu tentang 'The Graduate'. Waktu itu mungkin lebih ke arah karena ketakutan pas menjelang lulus sih, takut ngerasa clueless kayak Benjamin Braddock di situ.

Tapi emang, salah satu image yang tidak akan terlupakan, salah satu karakter budaya pop yang muncul dari film itu adalah Mrs. Robinson. Pernah juga mbaca salah satu artikelnya In Style yang mbuat tabel tentang 'style icon', ada yang kategorinya 'Screen Siren', ada yang 'College Girl', dan tentunya 'Mrs. Robinson'.

Sebenernya sih, aku membayangkan, ketika aku berusia 50-an nanti, atau 40 something mungkin, aku pengen grow old kayak Mrs. Robinson; style-wise.

Nggak tau kenapa, semingguan yang lalu sempet teringat ama The Graduate, dan freaky-nya, kebesokannya langsung denger berita tentang Anne Bancroft, si pemeran Mrs.Robinson yang meninggal karena kanker.

Pas mbaca artikelnya di The Guardian, aku baru tau kalo ternyata Ms. Bancroft ini kecewa karena dia tidak pernah bisa terlepas dari karakter Mrs. Robinson. Ini ada quote yang bagus banget dari artikelnya:

The focus on that one role in an acting career that spanned 50 years of work in film, television and the theatre frustrated Bancroft. She told an interviewer in 2003: "I am quite surprised that with all my work, and some of it is very, very good, that nobody talks about The Miracle Worker. We're talking about Mrs Robinson. I understand the world ... I'm just a little dismayed that people aren't beyond it yet."

Despite her disappointment at the focus on The Graduate she nevertheless valued her performance. "Film critics said I gave a voice to the fear we all have," she said in 2003, "that we'll reach a certain point in our lives, look around and realise that all the things we said we'd do and become will never come to be - and that we're ordinary."

Sunday, June 12, 2005 

The Returning of Things

Di salah satu episodenya Sex and the City, yang pas Berger abis putus ama pacarnya, dan ketemuan ama Carrie di the Hamptons, trus mereka duduk-duduk di suatu lapangan rumput yang banyak kupu-kupunya, Carrie cerita tentang masa-masa akhir hubungannya (ama Aidan).

Carrie cerita, di akhir relationshipnya dia, ada fase-fase yang dia sebut: 'the dividing of things', yang sulit karena sebelumnya ada 'the merging of things', karena waktu itu mereka ada dalam konteks mau tinggal bareng, jadi ada barang-barang yang susah dibalikin karena itu satu-satunya yang dia punya setelah di-merge.

Tapi ada satu fase, yang lebih umum kayaknya, mengenai 'things' yang pastinya dialamin ama lebih banyak couples tanpa ngeliat pendek atau panjangnya suatu relationship, yaitu 'returning of things'. Sebenernya sih aku firm believer buat ngembaliin barang-barang yang pernah dikasih ke aku once the thing is over. Tapi adekku bilang, 'janganlah, disimpen aja lagi buat kenang-kenangan.'

(Hehehehe.)

Tapi, oke, nggak usah ngomongin yang itu dulu.
Yang lebih umum aja, barang-barang yang dipinjem.

Ternyata, ada seorang kenalan yang kesusahaaan banget untuk ndapetin barang-barang yang dia pinjemin ke mantannya dulu. Dan pas ditanya barang-barangnya apa aja, lumayan banyak juga yang dibawa, dan putusnya entah udah kapan, sampe sekarang...mungkin 2-3 bulanan (atau malah lebih) masih aja belum balik.

As for me, barang-barangku belum balik.
Tapi aku udah mbalikin barang-barang milik orang.

Lega kali yah.
Karena for the last 2 weeks of the hiatus, aku cuman menunggu-nunggu buat 'returning of things' terjadi. Keesokannya dari hiatus, aku sudah mulai berkabung dan ngumpulin barang-barang yang dipinjemin. Buku, buku, buku, tape recorder.

"Udah selesai dibaca?" dia bertanya.
"Belum."
"Kenapa dibalikin?"
"Karena udah nggak bisa lagi ada di rumahku."

Dan kami sama-sama tersenyum sopan.

"Barang-barangku apa aja?" kali ini aku yang bertanya.
"Buku, Morrie, Renungan di Perantauan, buku apa itu satu, trus..."
"Before Sunrise, Amelie, sama ada cd satu ya kayaknya?"
"Marvin Gaye."
"Oh, iya, bener."

Diam.

"Kapan jadinya?"
"Kapan ya? Senin deh."

Dan selama percakapan itu, aku cuman bisa berpikir tentang kotak sepatu yang mana, yang mau aku pake buat tempat menyimpan 'things I'm allowed to keep'.

'Returning of things' buat aku jadi sebuah finalisasi, titik akhir. Penutup bab sebuah cerita.

Saturday, June 11, 2005 

Malu

Hmm...ok, di titik ini di hidupku (cieh...ini ungkapan yang lumayan sering aku pake deh kayaknya), aku udah sadar, kalo orang-orang tuh punya kemampuan yang berbeda-beda, dan mereka melakukan berbagai hal yang berbeda sesuai keahliannya yang berbeda-beda itu. So, nggak ada alasan untuk iri sama yang dilakukan orang lain kan sebenernya? Karena kita udah ada tempatnya masing-masing di dunia.

Tapi kenapa...
tiap Rabu malem, pas deadline rubrik 'Kulinari' dan aku masih berjibaku ama sejarah tahu, atau wine, atau apa itu saffron, bunga lawang, daun salam, etc, aku masih ngerasa minder setengah mati, dan malu-malu mengarahkan monitorku agak ke kanan, menjauhi pandangan mata tetangga di sebelah kiriku yang kerjaannya nongkronin KPK (and therefore membawa berita-berita yang panasnya kayak peluru)?

Dan kenapa, kalo kiriku kosong, tapi di kananku ada tetangga yang kerjaannya menginvestigasi illegal fishing, korupsi haji, dan judi di Yogyakarta, aku juga menjauhkan monitorku ke kiri?

Dan ketika sisi kanan-kiri sama-sama terisi, aku cuman bisa mengetik sekenceng mungkin, mencoba menyelesaikannya cepat-cepat, sambil dalam hati mengucapkan mantera: this is just a job, do it professionally.

Dan kalo pun mau ditanya, I actually enjoy it, bagian yang aku jalanin. Tapi ketika ada orang lain yang menggugatnya, hmm..aku juga gak bisa ngomong apa-apa tuh, malahan ikut make fun of the position I was put in.

Nggak bener juga kan?
Seharusnya bangga ya bangga aja.

Thursday, June 09, 2005 

Music and Misery

Rob: What came first, the music or the misery? People worry about kids playing with guns, or watching violent videos, that some sort of culture of violence will take them over. Nobody worries about kids listening to thousands, literally thousands of songs about heartbreak, rejection, pain, misery and loss. Did I listen to pop music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to pop music?

"High Fidelity" - 2000

(Sebelumnya: Kenapa aku sekarang lagi kembali dalam mood mengutip film-film favoritku, di saat yang berdekatan?)

(Tambahan: Dan aku menulis cukup banyak untuk seseorang yang mengaku pada diri sendiri kalo aku nggak sesedih itu)

(Anyway...mulai aja)


Kayaknya opening kutipan di atas udah memberikan gambaran tentang inti yang aku pengen sampein. Pop music dan kesengsaraan, mana sih yang dateng lebih dulu? Ini sebenernya hasil kontemplasi beberapa hari yang lalu, seminggu yang lalu malah. Saat aku bener-bener menjauhkan diri dari segala macam bentuk musik, supaya aku tidak merasa apa-apa.

Di filmnya dan di bukunya (High Fidelity), Rob memiliki top 5 records yang bakal dia denger untuk heartbreak, intinya adalah sesuatu yang bisa dia nikmati tanpa harus berpikir.

Dan kenapa sama aku nggak berhasil ya?

Maksudnya, di rumah ada Dangerously in Love-nya Beyonce, atau albumnya Gwen, atau Greatest Hits-nya Britney. Dan ketika aku masang Gwen buat nemenin kerja biar nggak ngatuk, the smallest amount of music membuat aku ngerasa sesuatu yang tajam, kosong, dan hampa. Langsung cepet-cepet aku matiin. Bahaya kalo dilanjutin. Udah tua euy aku, nggak punya energi lagi untuk mendramatisasi rasa sakit kemudian menikmatinya. Segitu ya segitu aja.

Hmm...berarti aku over-sensitive banget ya ama musik?

Mungkin bener ya orang-orang di agamaku yang ngelarang kesenian-kesenian sekuler. Karena pengaruhnya gede banget sama perasaan orang. Tapi bukankah kita harusnya tahu bedanya antara emosi nyata (yang benar-benar terjadi sama kita) dan emosi sugesti (dari sesuatu yang kita dengar dan bayangkan, tapi sebenarnya tidak terjadi sama kita, tapi terjadi pada kita di dalam pikiran kita). Tapi lagi, bukannya emosi 'nyata' dan emosi sugesti itu keduanya adalah bagian dari pengalaman kita? Yang akhirnya punya kekuatan untuk mempengaruhi kita juga? Dan sama-sama berhak untuk mempengaruhi kita?

Kayak katanya Rob tadi. Bayangin nggak sih tumpukan rasa sakit dari ribuan lagu tentang heartbreak, rejection, pain, misery and loss? Yang menggemakan rasa sakit itu beberapa kali lebih besar dari yang seharusnya dirasakan. Bahaya lho buat perasaan.

Dan aku bisa berada dalam kondisi tanpa musik sampe semingguan lebih dikitlah. Sampai akhirnya ke Tarra Megastore karena mo nyari kaset grup musik yang aku wawancara buat Tamu Kita. Gak ketemu, akhirnya malah menggila dengan beli Sunshine Barrato, Manu Chao, ama Hot Hot Heat.

Aku nggak gitu familiar ama semuanya, tapi aku memang mengharapkan itu. Familiaritas cuman bakal ngasih pengharapan akan nuansa yang bakal aku denger, dan aku males ndengerin sesuatu bernuansa emosi yang sudah aku harapkan, karena ujung-ujungnya, emosi itu akan membuatku merasa sejenis kehampaan. Nggak gitu besar, tapi tetep aja, hampa.

Aku lagi menginginkan masa-masa itu euy.
Mendengarkan melankoli-nya John Mayer tanpa harus merenung lebih jauh.
Mendengarkan Billie Holiday tanpa harus teringat akan keputusasaan.

(Btw, mereka kan performer-performer yang kuat, apakah yang aku inginkan itu mungkin? Dan bukankah inti mendengarkan musisi-musisi kayak mereka itu untuk meng-enhance perasaan?)

Intinya mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku lagi mencoba menjauhkan semua bentuk emosi dan drama. Aku lagi enggak pengen merasa.

 

Makanan Otak

Browsing-browsing nggak jelas, malah justru ngasih akses ke artikel-artikel yang keren dan thought provoking. Ah,kayaknya emang ini yang harus aku lakuin. Kembali ke banyak mbaca, biar setidaknya otak tuh punya makanan yang bisa dicerna.

Anyway...

Ini ada artikel-artikel yang hopefully bisa ngasih nutrisi dan sumber pemikiran:

1. Udah ada yang nonton filmnya Spike Lee yang 'X' belum? Katanya di situ ada hint-hint kalo orientasi seksual Malcolm itu ternyata tidak se-straight itu ya? (Bisa mendengar orangmenahan nafas dan bertanya: Malcolm X? Gay? Dengan identitas agama dan bagian dari kelompok budaya yang keduanya terkenal amat homofobik?) . Baca, baca artikel di sini .

2. Semenjak tetanggaan meja sama bapak ini (dan akhirnya menginspirasi untuk memunculkan istilah 'cowok-cowok Sartre) dan kemaren2 nulis tentang sesuatu yang berhubungan ama tinjauan feminis, nama Sartre dan Simone de Beauvoir jadi lebih sering kedengeran. Dan ini, ini, yang membuat aku jadi bertanya-tanya, mungkin nggak sih open relationship-nya 'Bogart dan Bacall-nya eksistensialisme' itu bisa beneran berjalan? Apalagi untuk de Beauvoir yang perempuan, apa dia bisa bener-bener merasionalisasi semuanya dan tidak melibatkan emosi? Sumbernya bisa dilihat di sini.

3. Dan ini, ada sebuah buku yang baru keluar, tentang sebuah ide yang dulunya aku senengin banget: counter culture. Dan ternyata sekarang aku realistis aja, kalo counter culture pun bisa jadi sebuah komoditi. Resensi bukunya ada di sini. Judulnya: The Rebel Sell: How the Counter Culture Became Consumer Culture.

 

Mungkin Nggak Sih?

Ceritanya gini, hari Minggu (5/6) lagi naik M44 menuju ke Mal Ambassador. Di dalam mikrolet, aku ngeliat, tidak hanya satu, tapi dua (DUA!) pasangan yang saling berconverse satu sama lain. Sebenernya itu juga aku nggak langsung sadar akan keberadaan unit biner tersebut (baca: couples, couples, coupleeess). Baru pas setelah 10 menitan jalan deh kayaknya, dan karena ngeliat salah satunya melakukan lightweight PDA, alias pegangan tangan. Barulah tersadar, oh, ada non singletons tho....

Pasangan pertama, usianya mungkin sekitar 28-30-an, kalo pun mereka pacaran, sepertinya udah in a long term relationship. Sementara yang satunya lagi di pojok, mungkin sekitar 19-20, atau mungkin seusia aku. Tapi nggak tau ya, kerasanya lebih muda aja. Ada some kind of innocent sweetness yang keluar dari mereka. Dan jujur aja, aku kagum.

Kagum karena:
- Biasanya kalo aku ngeliat para pasangan-pasangan, apalagi yang ber-PDA, apalagi pas aku single (or on the verge of being one), aku bakalan sebel setengah mati sama mereka. Dan kata-kata seperti: "Duh, can't they do it somewhere else?", "Duh, smug banget sih!", "Duh, pamer banget sih!", dan bermacam-macam 'duh', 'duh' yang lain, yang intinya berujung ke rasa iri kali ya sebenernya. Tapi kemaren itu, aku ngerasa...nothing. Well, lebih ke arah dalam hati ada kata-kata: "so sweet" pas ngeliat si pasangan yang lebih muda. So itu, satu, terkagum-kagum karena aku nggak ngerasa iri, malah congratulating them.

- Si pasangan muda ini ternyata PDA-nya masih bisa menjaga kesopanan, euy. Dan dari mereka, yang terpancar itu bukan adolescent lust, tapi compassion. Rasa sayang, simpati, kebahagiaan berada di samping satu sama lain. Kaget nggak? Biasanya soalnya yang memancarkan aura kayak gitu kan pasangan yang udah rada sepuh. Tapi rasa sayang itu juga nggak terlihat tua di mereka, tapi keliatan pas aja. Mereka pegangan tangan terus selama perjalanan, dan ngobrol dengan amat sangat lancar. Diem kalo emang udah abis pembicaraan, tapi mulai ngomongnya juga enggak kerasa dipaksa. Keliatan banget kalo si cowok tuh seneng bisa megang tangannya yang cewek; dia mempelajari detil tangan ceweknya, menyentuh kuku dan buku-buku jarinya, terus nyiumin jarinya satu-satu dengan cara yang tidak njijiki. (Kenapa aku jadi ngintip gini ya?). Pokoknya ada rasa sayang yang 'normal', pas, cocok, befitting, nggak neko-neko ngeliat mereka. Tapi juga bukan sesuatu yang menandakan "we're made for each other" atau kata-kata romantis yang klise gitu.

Yang ada di antara mereka sih kerasanya ke aku cuman 'aku seneng, ada di sini, sekarang, sama kamu.' Nggak tentang ke depannya nanti gimana, besok gimana, harapan-harapan. Pokoknya cuman nikmatin saat itu, the moment.

Dan aku jadi senyum-senyum sendiri ngeliat itu.

Senyumnya sih, gak tau, apa karena ikut bahagia ngeliat mereka yang clearly sayang ama satu sama lain, atau karena lega ngeliat orang PDA yang nggak njijiki atau karena bahagia aku enggak ngerasa iri sama yang aku enggak punya.

Could it be? Mungkinkah aku bisa ngerasa enggak iri? Karena kayaknya aku tuh orang yang gampaaang banget iri.

Nggak percaya aja sih, gimana bisa satu-satunya reaksi yang muncul cuman rasa 'berdamai' ketika melihat sesuatu yang aku impi-impikan ada di depanku (nyata lho, nyata! bukan mimpi!) dan terjadi sama orang lain, sementara kegagalanku ngedapetin yang aku pengenin itu masih belum lama kelewatan (well..mungkin udah rada lama juga sih).

Apa itu artinya aku enggak lagi pengen apa yang dulu aku pengenin?
Atau mungkin karena (dengan nada seperti aku sudah menjual jiwaku ke setan dan menyesalinya), aku udah nggak gampang iri kayak dulu?

Monday, June 06, 2005 

Mantra Abadi

Charlotte: I just don't know what I'm supposed to be.
Bob: You'll figure that out. The more you know who you are, and what you want, the less you let things upset you.

("Lost in Translation" - 2003)

Buat orang-orang yang used to spend a lot of time di sekitarku, atau lebih tepatnya aku hang out di sekitar mreka, pasti udah hafal ama kebiasaanku yang tanpa malu memaksakan nonton 'Lost in Translation'. Sudah lama juga aku enggak nonton film, apalagi film satu ini. Dan, dengan rada sombong, aku ngerasa udah bisa terlepas dari film ini, karena enggak lagi ngerasain kegelisahan twenty-something tentang ketidakpastian masa depan, cita-cita, harapan, dan tentang sikap terhadap dunia.

Aku pikir suatu pekerjaan adalah jawaban dari kegelisahan itu.

Dan untuk sesaat, iya, aku ngerasa bahwa pekerjaan adalah jawaban kegelisahan itu. Tapi ternyata enggak juga, setelah sekarang aku bisa kembali fokus ke diri sendiri, aku ngerasa pertanyaan-pertanyaan gelisah itu muncul lagi. Ternyata sampai sekarang, pertanyaan-pertanyan itu masih belum kejawab lho. Setidaknya tidak terjawab secara mendasar.

Tentang apa yang aku pengenin dari hidup, tentang hidupku yang mau dibawa ke mana, dua tahun ke depan, tiga tahun ke depan, lima tahun ke depan. Dan cakupan pertanyaan itu sebenernya kan luas juga.

"Apa sih yang aku inginkan?"

Dan ternyata, *gasp* aku baru sadar kalo untuk hal-hal yang simpel aja aku kadang masih belum tahu jawabannya, apalagi buat hal-hal yang berat. Tapi juga kalo misalnya terus berusaha mencari tahu semua jawabannya, gak bakal jalan kayaknya hidup. Jadi ya mungkin kayak si Charlotte itu, eh salah, kayak yang dibilangin Bob ke Charlotte, sambil jalan nemuin jawabannya.

Dan sekarang, lagi ngulang kata-kata itu di kepalaku: cari tahu dulu siapa aku dan apa yang aku pengenin, biar kita nggak jadi sedih.

(Pertanyaan untuk diri sendiri: apakah kamu masih menikmati proses pendewasaan, Nari?)

Friday, June 03, 2005 

"The Rest" - Picasso


Image hosted by Photobucket.com


Gara-gara liat Irma lagi browsing-browsing gambar di allposters.com,

aku juga jadi iseng-iseng ke sana; ngeliat poster-poster vintage apa

aja yang ada. Lagian kayaknya blog ini butuh sedikit suntikan-suntikan

visual (yang ini karena ngiri liat gambar-gambar di blog ini).





Pertamanya ngeliat poster-poster film, tapi gak tau kenapa akhirnya

settle for this one. Ah, growing up is a difficult to do full-time job,

PLUS extra shifts. 

Wednesday, June 01, 2005 

Puisinya Dorothy Parker

Dorothy Parker.

Inilah 'my kind of woman', yang bisa sarkastik, cerdas, dan pe-de aja ama ke-sarkastik-annya itu. Ples, sarkastiknya entah gimana, bisa berjalan antara batas kejam dan lucu di saat bersamaan, tapi yang lebih pasti: jujur.

Men

They hail you as their morning star
Because you are the way you are.
If you return the sentiment
They'll try to make you different;
And once they have you, safe and sound,
They want to change you all around.
Your moods and ways they put a curse on;
They'd make of you another person.
They cannot let you go your gait;
They influence and educate.
They'd alter all that they admired.
They make me sick, they make me tired.


On Being a Woman

Why is it, when I am in Rome,
I'd give an eye to be at home,
But when on native earth I be,
My soul is sick for Italy?

And why with you, my love, my lord,
Am I spectacularly bored,
Yet do you up and leave me- then
I scream to have you back again?

*ah, kata hati kayaknya ngomong satu hal, tapi perasaan pengennya yang lain. Fiuh, nanti sakit hati baru kerasa deh kayaknya. I hate this situation.

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates