Friday, April 22, 2005 

Untuk Temen-temen Terbaik

Ah, girls.
Aku nggak tau apa aku bisa bener-bener ngejelasin apa yang aku rasain.
Kalau ditulis dalam satu kata, intinya cuma kangen.
Tapi kangennya itu lho.
Ada hal-hal kecil, the daily everyday things yang kalian lakuin yang mbuat aku kangen.
*hiks...I got tears swelled up in my eyes right now*

Aku kangen...
Ngobrol-ngobrol bergaya sok tau sama Nat, I think we're both smart-asses, no?
Dan aku kangen apasia-mu Nat.
Believe me, I meant only the greatest compliment when I say your apasia bring the best in my day, weeks even.
Aku juga kangen ngomong tentang mimpi-mimpi, ketika kita lagi berada di negeri antah berantah dan tidak melihat apa yang terjadi di sini.
Aku kangen waktu-waktu kita ngomong tentang orangtua kita, tentang keluarga kita, tentang diri kita di masa depan nanti.
Aku lebih kangen lagi ama percakapan kita yang selalu aja lancar, I feel like I'm on default mode, without thinking when talking with you, and still we have the best of conversations.
Don't you think?
Aku juga kangen ama caramu menikmati hari-hari di musim panas, encourage me to be more agile and enjoy the sun. Dan sama jari-jari pisangmu, heheh.

Aku juga kangen ama matahari itu.
Bukan matahari itu yang aku dapetin di sini.
Di sini matahari bersinar terus tiap hari, dan ketika muncul entah kenapa tidak terlihat kuning indah, tapi oranye gelap. Selalu saja oranye gelap.

Museumplein, Waterlooplein, jalan-jalan sepanjang kanal-kanal, Tuchinski, bioskop-bioskop Pathe dan bioskop-bioskop kecil di sana, trem-trem dengan bunyi klining-klining yang dulu used to drive me crazy, museum-museum yang gonta-ganti exhibition, dan Von-del-park.

Vondelpark.
Vondelpark.
Vondelpark.

Dan Nina, I really miss talking to you.
Franz Ferdinand, Damien Rice, Jack Johnson, John Mayer, Scissor Sisters.
Aku kehilangan hal-hal itu di sini, dan aku belum nemuin orang yang bisa aku ajakin ngomong tentang itu.
Udah pernah denger 'The Libertines'? atau 'Le Tigre'?
Le Tigre keren lho, liat deh websitenya.
I miss being comforted by you, or seeing the way you comfort others.
Aku kangen ngeliat kamarmu yang teratur secara sempurna, buku-bukumu yang alphabetically ordered, cd-cd burn2anmu yang diatur dengan cara sama.
Aku kangen juga denger ceritamu tentang cowok-cowok keren yang kamu temuin di jalan, dan diam-diam kamu lihat dari jauh, and your helplessness for feeling not being able to do anything about it.
Aku juga kangen masa-masa kita duduk di depan tivi, males-malesan on weekends, mengagumi apapun yang dipakai Beyonce.

Dan, Pras.
Aku kangen banget denger diskusi-diskusi dan cerita-cerita kacaumu.
The way you know everything about anything keep amazes me.
Your views of the biggest issues in life has challenged me over the years. They help shaped me into who I am right now.

Titin juga.
Kapan kita bisa ketemu lagi ya, Tin?
Kayaknya kita sekarang udah so far apart, aku nggak tau gimana Indonesia bisa fit into your plan, dan aku belum tau kapan New York bisa fit into my plan.

Vitria juga, hiks.
Gak tau kenapa, tapi kok aku paling kangen denger your flirtatiousness ya?
Well ok, mungkin cerita-cerita para secret admirer yang selalu saja kacau itu.
Kayaknya kalo kita telpon-telponan, kita selalu mengakhiri kalimat satu sama lain dengan ketawa. Just talking to you is really fun.

Atas, still the sweetest girl that I have ever met, and I think that I will ever meet.
Gimana kabarmu sekarang?
Wish I could do more than that,
kayaknya kamu sendirian aja di sana menghadapi masalahmu?
Punyakah kamu teman berbagi?
Be tough ok.

Denny,
Aku sering mbayangin percakapan imajiner kita kalo kita ketemu deket-deket ini.
Or was it the old conversations that we had, and I rewind it again and again in my head?
That's how much I missed you, the reality and delusion melt into one.
I no longer know which is which.

Ina, Sandra, Dina, Dimas, Kuro juga. Kalian lagi pada ngapain sekarang?

Kapan ya kita semua bisa kumpul-kumpul lagi? Makan-makan pasta hasil urunan? Hasil masak gontok-gontokannya Prasma-Nina, dan pada menghindari tugas cuci piring afterwards :)

Atau menikmati the hazy summer afternoons di De Jaren.
Melihat serombongan turis.
Berbicara tentang hidup.
Terus keluar sampai tengah malam, or maybe more.
Baru bisa tidur jam 3 karena kepanasan.
Ternyata aku kangen juga ama summer, sama hari-harinya yang panjang, sore-sorenya yang indah waktu angin akhirnya datang, dan kita jadi kedinginan.

Entah kenapa aku lagi ngerasa tanpa teman sekarang.
Ngerasa young, inexperienced, ketinggalan, dan foolish.

Hiks.
Pada pulang dong :)

Saturday, April 16, 2005 

Masih Tentang 'Sunrise/Sunset'

Ini ada lagu keren lagi dari 'Sunrise', adegannya yang pas Jesse & Celine lagi di listening booth, cuman ada lagu ini aja, trus yang mereka saling ngeliat tapi sembunyi-sembunyi, gak ngomong apa-apa, wah itu scene yang lip-biting banget.

Sama kayak yang sebelumnya, liriknya sebenarnya biasa aja, cuman musiknya dan vokal si penyanyi (plus adegan yang memakai lagu ini sih) yang membuatnya penuh dengan emosi.


'Come Here' - Kath Bloom

There's wind that blows in from the north.
And it says that loving takes this course.
Come here. Come here.

No I'm not impossible to touch
I have never wanted you so much.
Come here. Come here.

Have I never laid down by your side.
Baby, let's forget about this pride.
Come here. Come here.

Well I'm in no hurry.
Don't have to run away this time.
I know you're timid.
But it's gonna be all right this time.


Satu lagi, yang ini dari 'Sunset', ceritanya di ending-nya si Celine nyanyiin lagu ini. Sums up her whole feeling.


'A Waltz For a Night' - Julie Delpy

Let me sing you a waltz
Out of nowhere, out of my thoughts
Let me sing you a waltz
About this one night stand

You were for me that night
Everything I always dreamt of in life
But now you're gone
You are far gone
All the way to your island of rain

It was for you just a one night thing
But you were much more to me
Just so you know I hear rumors about you
About all the bad things you do

But when we were together alone
You didn't seem like a player at all
I don't care what they say
I know what you meant for me that day

I just wanted another try
I just wanted another night
Even if it doesn't seem quite right
You meant for me much more
Than anyone I've met before

One single night with you little Jesse
Is worth a thousand with anybody
I have no bitterness, my sweet
I'll never forget this one night thing

Even tomorrow, another arms
My heart will stay yours until I die
Let me sing you a waltz
Out of nowhere, out of my blues
Let me sing you a waltz
About this lovely one night stand

(Huks. Mau ngelanjutin dengan nonton 'Before Sunset' untuk kesekian kalinya. VCD Originalnya dua-duanya udah keluar lho..)

 

Before Sunrise/Before Sunset

HAKS.

Aku seneng banget ama dua film itu. Dan tadi abis nonton 'Sunrise' untuk kedua kalinya, hampir-hampir nangis gitu deh. Ada lagu di endingnya 'Sunrise' yang aku senengin, nge-search di Google rada susah nyari liriknya. Nemunya di blog orang.

Liriknya ternyata biasa aja, cuman musiknya aja yang kayaknya memberi emosi. Tapi daripada ilang, aku taruh disini aja.

Living Life - Kathy McCarty

Hold me like a mother would
Like I always knew somebody should
though tomorrow don't look that good
Well, it just goes to show

Though people say we're an unlikely couple
I'm seeing double of you
Oh.
This is life This is life
And everything's all right
Living living living living living living living living life

Oh I'm hoping though because
I'm learning to cope with the emotion-less mediocrity
Oh.
Day-to-day living
Oh
I can't help being restless
When everything's so tasteless
And all the colors seem to have faded away.
Oh.
This is life This is life
And everything's all right
Living living living living living living living living life

Hold me like a mother would
Like I always knew somebody should, yeah.
though tomorrow don't look that good
Well, just goes to show
Though people say we're an unlikely couple
Doris Day, and Mott the Hoople

Ohhh,..
Ahh...
Life!

(Huks. Before Sunrise.)

Friday, April 08, 2005 

An Accomplished Woman

Aku baru sadar, selama ini ternyata aku jarang ketemu seorang sosok perempuan yang bisa menceritakan proses dirinya mencapai suatu kematangan, suatu kemantapan.

Cukup sering sih sebenarnya aku ketemu perempuan-perempuan yang sudah matang, sudah tahu apa yang diinginkannya dalam hidup, percaya diri. Dan bener lho, ada kok sebuah poin dalam kehidupan seorang perempuan, dia bisa tahu apa yang dia inginkan (compare to the old jokes, 'perempuan aja bingung sama apa yang mereka mauin', atau pertanyaannya Sigmund Freud: apa sebenarnya yang diinginkan perempuan?).

Aku percaya, perempuan itu tahu apa yang dia inginkan. Asal dia harus tahu prioritasnya dulu.

Nah, ini, aku mendengar suatu cerita yang cukup menggetarkan hati *cieh*. Bermula dari kemaren Mbak Ica ditugasin ke Bandung untuk ngewawancara Dewi Lestari (huks, dan aku tidak diajak, padahal di memo rapat disuruh Isyana diajak biar belajar wawancara panjang !_!)

Anyway, mbak Ica udah cerita-cerita tentang pertanyaan yang akan diajukan. Kalo aku yang disuruh, aku baru bisa nemu satu: gimana sih rasanya dapet pujian bagus dari seorang Leila S.Chudori-nya Tempo. Dangkal yah?

Tapi pertanyaan mbak Ica, yang bener-bener membuatku terhenyak dan semakin kagum sama mbak itu adalah: "Dewi, elo kok mau sih jadi ibu rumah tangga, padahal isi kepala lo tuh dari Jimi Hendrix sampe Aristoteles ada semua. Jatuh-jatuhnya kok jadi ibu rumah tangga juga?"

Haks haks haks.
Membayangkan, kapaaan aku bisa munculin pertanyaan keren kayak gitu.

Anyway, tadi pagi dicerita-ceritain tentang wawancara ama Dewi itu. Dan wah, keren banget deh ternyata si Dewi itu. Aku salut karena dia adalah seorang perempuan yang udah tahu banget prioritasnya dalam hidup itu apa, jadi dia enggak pusing-pusing mikirin hal-hal yang di luar prioritas dia.

Kepuasan buat dia itu cuman menulis ama menyanyi. Udah.

Dan ini ada quote bagus: kita itu terlalu terburu-buru ama waktu. Dunia tuh udah menjadi tempat yang maskulin, dalam artian kita harus punya pencapaian, prestasi, jabatan, etc, untuk dihargai. Padahal kalau kita berhasil mbuat rumah kita bersih dan rapi aja, kita udah menyumbang sesuatu yang berarti buat alam semesta kok.

Keren banget enggak sih?

Terus ada lagi nih quote bagus: dunia bisa menunggu.

Dewi Lestari ngomong kayak gitu sehubungan dengan prioritasnya dalam hidup, yaitu anaknya dan keluarga. Lengkapnya sih: "dunia bisa menunggu, tapi Keenan-ku tidak."

Mantap banget nggak sih jawabannya?

Bukan suatu hal yang istimewa, cenderung standar, tapi kemantapannya itu lho yang membuat kata-kata itu terdengar begitu wah.

Beneran deh, mbak yang satu ini emang udah tahu apa yang dia inginkan dari hidup dan apa prioritasnya dalam hidup. Dan dia udah mantap ama pilihannya itu.

Dan ada sesuatu lagi tentang gimana ketika dia melihat si anaknya tersenyum, it's all worth it deh. (Kata-kata lengkapnya lupa, baca MI edisi Minggu 10 April aja kali yaa...)

Jawaban-jawaban yang diberikan sih sebenernya, katanya, standar aja. Tapi dia mantap dengan jawabannya itu. Kemantapan dan keyakinannya tuh kerasa.

Bener kali ya katanya Leila S.Chudori itu pas nge-resensi buku Supernova 'Petir' (dan aku kemakan banget ama resensi itu sampe akhirnya beli, padahal sebelumnya gak gitu terkesan ama dia mbuat sekuel.), kalau seorang Dewi Lestari yang menulis 'Petir' adalah seorang Dewi yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri, merasa nyaman dengan statusnya sebagai ibu, merasa nyaman dengan posisinya dalam keluarga.

Dan aku sendiri, sekarang, melihat dia sebagai "a complete woman, an accomplished one."

Aku paling terkagum-kagum ama proses ini, gimana kita yang merasa nyaman dan jujur dengan diri kita jadi ikut mempengaruhi kualitas sebuah karya. Berarti, kejujuran dalam berkarya itu selalu kerasa ya?

Hal lain yang aku pelajarin, prioritas dalam hidup itu ternyata enggak usah yang terobosan baru dan besar ya? Hal-hal yang dibilang konvensional dan sederhana oleh perempuan modern, seperti 'membangun keluarga', masih tetep bisa ngasih sense of great fulfillment in life buat orang yang isi kepalanya dari Aristoteles sampe Jimi Hendrix.

Wow.

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates