Sunday, January 23, 2005 

Groupies?

Walaupun aku akan bilang kalau so-called resensi ini cuman berdasar aja ama apa yang aku liat, dan enggak ada hubungannya ama yang sedang hangat belakangan ini, aku bakal tetep ngakuin, kalau apa yang sedang hangat belakangan ini turut berpengaruh untuk memicu poin yang mau aku tulis disini.

Ceritanya gini, seharian ini aku udah ngeliat dua kali video klipnya peterpan yang baru, “Katakan Dengan Indah”. Elemen-elemen paling menonjol dalam video klip itu, selain anggota band-nya tentu aja; ada bis, yang kemudian diketahui sebagai bis untuk tur; kamar hotel, yang belakangan diketahui sebagai tempat istirahat dalam tur; dan cewek-cewek yang ngikut dengan para anggota band. Tiga elemen ini mengendapkan suatu imej di kepalaku, yang sepertinya, terangkum dalam satu kata: groupies.

Groupie sendiri, menurut thesaurus-nya word (males nyari kamus sih…) berarti supporter, follower, dan fan. Tapi istilah ini sendiri lebih dikenal untuk cewek-cewek yang ngikut-ngikut para pemain band dalam tur gitu deh. Nama mereka sering aneh-aneh dan biasanya berasal dari judul lagu (Sexy Sadie, Pennie Lane, etc), and they would do anything to sleep with the band members. And I am not making this up. Kayaknya, most memorable time for groupies itu ada di 70s rock scene. Soalnya dari situ nama-nama groupies dan cerita mereka ada banyak yang dikenal orang, walaupun kadar dikenalnya juga terbatas, but at least…their name is quite remembered by a larger group of people than today’s groupies.

Sekarang, fenomena groupies sih masih ada. Eminem, Kid Rock, Limp Bizkit, Velvet Revolver katanya sih termasuk yang sering party hard ama mereka.

Tapi, yang menarik tentang videoklip ini, aku jadi nanya-nanya sendiri: groupies tuh ada beneran ya di Indonesia? Dan ‘aktivitas’ mereka tuh juga, lewat videoklip itu, digambarin plus minus sama ama Pennie Lane dan kawan-kawan di Almost Famous. Sambil ngetik ini, aku jadi rada mikir, mungkin gak sih kalo sebenernya si cewek di storyboard videoklipnya di-istilahin pacar? Mungkin aja kan? Tapi kenapa istilah ‘groupie’ lebih cepet nempel ya?

And what I consider interesting is, aku sebenernya yakin-yakin aja kalo band-band di Indonesia punya groupies masing-masing. Tapi mereka pernah gak sih memasukkan konsep groupies di videoklip-videoklip mereka? Seingetku sih, belum ada band yang pernah ngelakuin itu (bener gak?). Berarti peterpan kreatif dong? Iya sih, emang. Konsepnya menarik dan baru. Tapi, dengan mereka memperlihatkan apa yang mereka alamin itu, kalo mereka punya groupies, doesn’t that show the massiveness of their ego?

Dan videoklipnya sendiri could not have a more perfect timing than this. Aku sama sekali enggak bilang kalau siapapun itu groupie, karena aku cuman mo ngetawain storyline-nya videoklip itu. Ada sebuah ‘YEAH! RIGHT’ yang kedengeran keras dan sinis di kepalaku sepanjang ngeliat klip itu. Ariel got his heart broken by a girl? Yeah, right. Despite what truly happens, fokusku cuman ke klip ini aja, lucu aja ngeliat gimana si vokalis yang memproyeksi sebuah imej kalo dia teraniaya, terluka hatinya, ehek ehek ehek. Oh, I can just imagine Ariel groom his ego.

Does this sound mean?
I don’t know, maybe it is.
Dan kenapa juga aku jadi peduli?

Ya, mungkin gara-garanya gini sih, aku jadi inget ama salah satu ‘pertanyaanku’, kalo isn’t there something deeply unsettling with we, women, being attracted to men who likes caressing an object with a part that resembles a phallic shape? Doesn’t that show something about their ego and what they care about? Tapi, kenapa kita tetep terus-terusan memuja mereka?

Tuesday, January 18, 2005 

You and I Both

not a new song, tapi baru-baru aja seneng and ternyata pas.

YOU & I BOTH
words & music by jason mraz

Was it you who spoke the words that things would happen but not to me
Oh things are gonna happen naturally
And taking your advice I'm looking on the bright side
And balancing the whole thing
But often times those words get tangled up in lines
And the bright lights turn to night
Until the dawn it brings
A little bird who'll sing about the magic that was you and me

Cause you and I both loved
What you and I spoke of
What you and I spoke of
Others only dream of the love that I love

See I'm all about them words
Over numbers, unencumbered numbered words
Hundreds of pages, pages, pages forwards
More words then I had ever heard and I feel so alive
Now you and I, you and I
Not so little you and I anymore
And with this silence brings a moral story
more importantly evolving is the glory of a boy

you and I both loved what you and I spoke of
and others just read of and if you could see now
well I'm already finally out of

and it's okay if you have go away
just remember the telephone works both ways
and if I never ever hear it ring
if nothing else I'll think the bells inside
have finally found you someone else and that's okay
cause I'll remember everything you sang

you and I both loved what you and I spoke of
and others just read of and if you could see now
well I'm already finally out of words.

 

Tentang Belajar Menulis

Dua post sebelum ini, aku cerita tentang aku pengen banget ngedapetin beasiswa untuk program penulisan kreatifnya Jakarta School-AgroMedia. And the good news is...I got it.

Mungkin aku seharusnya terdengar lebih antusias.
But, as you know about human nature...
Kita enggak pernah puas.

Dan pulang dari pertemuan pertamanya, inilah poin-poin yang bisa aku dapetin:
That I am much much much greener than the greenest tea leaves at the top of the tree (atau plant?) dalam urusan tulis-menulis ini. With everything I know, read, or written and try to write; orang-orang di sekitarku itu, semain-mainnya mereka, mereka tuh udah dapet jauh banget headstart dari aku.

Aku jadi agak bertanya-tanya: kenapa aku bisa dapet ya? OK, dari 30 yang rencananya diterima, penerimanya jadi membengkak sampai 210 orang dari 500 lebih pendaftar. Jadi lubang jarumnya emang enggak sekecil itu seperti yang pertama dikira. But still, aku masih merasa terkagum-kagum ama the fact that they would have me in their program. Karena sepulangnya dari pertemuan itu, aku bener-bener ngerasa ketinggalan jauh, practice-wise, dalam tulis-menulis. Jadi, aku rada berpikir rasional aja, apa yang mereka lihat dari 'portfolioku'?

Aku rada curiga, maybe this is another way how God works. Beliau ngasih aku apa yang aku pengenin untuk mbuka mataku; kalo kamu pengen ini jadi jalanmu, ini lho tantangannya, kamu masih mau terus enggak?

Dan dari situlah, aku udah ngerasa bersyukur banget dapet kesempatan ini. Bisa dapet kesempatan untuk belajar menulis. Tentang diterbitin atau enggak sih, aku ngerasa cukup humble dan sadar posisi. Itu masih urusan nanti nanti nanti banget. There are 200 others yang udah melakukan jauh lebih banyak dari yang aku udah lakuin. Buatku sekarang, prosesnya masih cukup enjoyable.

Ngerangkum aja, apa dan siapa yang aku temuin disana:
1. AS Laksana.
One writer that I recently have infatuation over. Bermula dari edisi akhir tahun Tempo, mereka milih penulis ini sebagai salah satu Tokoh 2004-nya dan bukunya 'Bidadari yang Mengembara' untuk karya sastra tahun ini. Lewat Tempo, aku baru tau, kalo dia ternyata salah satu pengusul program penulisan kreatif ini.

Terus, aku ke Kinokuniya di PS (untuk pertama kalinya sejak pulang, this place is my new heaven), nyari, dan ketemu, dan pulang, langsung mbaca bukunya. Satu cerita pendek pertama aja, and I was bought. Orang ini bener-bener phe-no-me-nal. Mungkin karena beliau pernah nulis skenario juga, jadinya setiap ceritanya tuh gak cuman unggul di naratif aja --walaupun secara narasi aja udah cukup menggugah--, tapi juga di plot twist. Lagi, beliau bisa memasukkan unsur sastra, tapi tetep bisa mengakomodasi unsur-unsur alami di kehidupan dan kejadian sehari-hari dengan pas. Kejadian sehari-harinya juga sesuatu yang modern, tapi tetap universal. Dan ngalirnya tulisannya itu lho. Somehow reminds me of how Almodovar unravel the story in his films. Bodohnya, aku sengaja ninggal bukunya dia di rumah,

2. Moammar Emka
Which my mom officially hates. Dan kita dapet juicy tidbits tentang...his financial conditions. Dia bisa beli rumah mewah di Kota Wisata ama BMW cuman dari penjualan Jakarta Undercover itu. Tapi herannya, kemaren banyak banget mahasiswa" Universitas Islam Negeri yang keterima (karena gedung mereka sebelahan), aku pikir mereka bakal antipati or some sort sama orang ini. Ternyata enggak tuh. Anak" UIN malah menyambut beliau dengan riuh, dan menganggapnya sebagai one cool guy.

Bukannya aku enggak seneng atau gimana ama beliau, he's quite okay as a person. Tapi, well, you know, I just thought that...anak" UIN itu bakal kurang antusias menyambut beliau.

3. Confident writers to be, yang some of them... younger
AARRRGGHHH!!!
Younger people scares the shit out of me, how can you win with them? Heheheh.

Tapi selain itu, kemaren ketemu seorang cowok yang mengingatkan aku ama Ahmad Dhani. Karena pertama, emang rada mirip, cuman agak chubby dikit, gondrong, punya goatee yg rada mirip, dan pake jaket yang typical Dhani banget. Kayak yang dipake pas iklan Tolak Angin, pas adegan konferensi pers, inget nggak? Warnanya juga ijo-ijo militer gitu. Tapi, most noticeably, dia juga punya pe-denya Ahmad Dhani.

Sama-sama nunggu bis di Blok M, aku sambil curi-curi denger, dia di sebelahku, ngomong ama temennya:"Apa sih 'Cintapuccino' gitu? Mbaca, mbaca gue. Novel taik kucing gitu."

That day discussion, ceritanya itu kelas general, jadi semua peserta harus dateng. Disitu ada pak Hikmat Kurnia, yang punya AgroMedia, dan ada beberapa penulisnya mereka. Dan kita semua waktu itu banyak diskusi tentang ke-pop-an sebuah novel, sementara banyak dari mereka yang membawa idealisme 'yang lebih serius'. Which is ok. Tapi, masalahnya, at the end of the program, bakal ada 'sayembara', siapa yang naskahnya ok (dan kira-kira bakal bestseller, I think) bakal diterbitin. Pastinya, semua orang pengen dapet kue itu. Cuman dengan aspirasi mereka, mereka ngerasa kesempatan mereka jadi kecil; karena mereka merasa penerbit udah punya bayangan akan naskah yang mau mereka terbitin. Dan itu adalah naskah pop.

Cintapuccino, is not my cup of tea. Aku punya pandanganku sendiri tentang buku itu, both good and bad. Tapi the fact that it is published, pasti buku itu punya sesuatu yang appealing kan? Setidaknya, taik kucing is much too strong a word.

Dari situ aku jadi mikir, wah...kemampuan si mas itu nulis gimana ya?
Aku jadi bergidik" sendiri.

Itu baru dari yang aku curi-curi denger.
Dan masih ada lagi beberapa yang aku bener-bener tau pasti apa yang udah mereka kerjain.
Wow.
Simply wow.

Tapi ya udah deh. Setidaknya aku ndapetin sesuatu yang aku pengenin kemaren-kemaren: kesempatan untuk belajar menulis. Juga, guru untuk ngajarin menulis, yang enggak sembarangan juga lhooo...Terus, dibimbing nyelesein satu buku. Dan, last but not least, a group of new friends yang punya minat sama, temen-temen diskusi baru, komunitas baru yang suportif ama yang aku senengin.

Hmm...cannot wait for the second class, and to finally, really get down to business. Tidak membiarkan tempatku menulis tetap kosong.

 

Aceh

Apalagi yang bisa aku tulis tentang Aceh, ketika seorang Goenawan Mohamad sudah menulisnya, merangkumnya --kalau kejadian itu bisa dirangkum-- sampai ke esensi terdasarnya di Catatan Pinggir dengan judul 'Tsunami'.

Sebenarnya, ada topik" ringan lain yang mau aku tulis disini. Tapi kayaknya kok tidak bertanggungjawab sekali, masa sih aku sama sekali enggak menuliskan hasil endapan pikiranku tentang apa yang, sebenarnya udah tiga minggu kejadian, tapi selalu kerasa kayak masih kemarin. Selalu kerasa baru, mungkin karena things are still not what they used to be kali ya? Tapi di sisi lain, will they?

Alasan lain kenapa aku enggak bisa nulis tentang itu, mungkin karena the magnitude scale of the disaster itself. Aku tau asosiasi ini kedengerannya dangkal banget, tapi kayaknya ini cara terbaikku untuk ngejelasin apa yang ada di pikiranku. Gini, sama kayak a great movie or book or song, karena apparently it's the thing I know better than anything in the world, sesuatu dengan skala yang besar itu enggak butuh dijelasin. Mereka bisa berbicara sendiri dengan kebesarannya itu. Jadi, satu-satunya hal yang bisa aku lakuin, cuman menangkap pesan-pesan, hikmah-hikmah dari kejadian itu yang lewat-lewat di kepalaku.

In my most humble opinion, hikmah dari kejadian itu:
1. Tentang Tuhan,
That sometimes God works in the simplest way. Kita tidak menjalankan perintah, Tuhan murka, nah itulah kemurkaan Tuhan. All of my supposedly progressive approach to God, just goes straight out of the window. Intinya, yang esensial, mendasar, dan enggak susah-susah itu tetep harus dipegang.

2. Tentang dunia tempat kita tinggal
Aku selalu berpikir kalau kebanyakan orang itu.. ignorant, cuek, enggak peduli satu sama lain. Ada alasan kenapa aku seneng Catcher in the Rye. Di satu titik, aku percaya kalau the world is not going to be any better. Dan somehow, aku masih percaya itu. Tapi sekarang aku jadi agak lebih optimis tentang dunia. Sekarang aku yakin kalau kemanusiaan itu masih ada. Orang-orang masih punya hati. Orang-orang enggak se-cuek itu.

As an example: sekarang, kalau aku mikirin lagi masa-masa dimana aku ngerasa sakit hati, karena masih ada orang yang percaya invasi ke Irak itu perlu (aka. GWB supporters); aku enggak lagi ngerasain kemarahan yang irasional itu (yes, I am a weirdo who feels too much and cares too much). Despite their opinions, there's still such thing as humanity. Aku percaya ama kemanusiaan. Aku percaya hal itu bukan hanya sekedar mitos masa lalu.

3. Tentang ibuku
OK, yang ini emang agak light. Tapi, aku percaya kalau beliau bisa jadi a better president-in-handling-crisis daripada SBY. Serius!

Gara-garanya...ya dari pertama berita-berita itu dimulai, terus ibuku yang rajin ngikutin sampe akhirnya bisa come up with, what in my opinion is, a good solution untuk masalah koordinasi bantuan dan pembangunan kembali. Waktu pertama-pertama muncul masalah koordinasi, beliau bilang, "kenapa sih enggak dibentuk aja Indonesia kecil disana? Jadi ada perwakilan departemen-departemen yang bersangkutan untuk ngurusin semua hal yang ada disana. PU buat mbersih-mbersihin dan ngurusin yang mo mbantu"in bersih", depsos pastinya ada.. karena menyangkut bencana dan ngurus langsung ttg bantuan", depkes buat berhubungan ama relawan" medis luar-dlm negeri, dst dst dst."

Sekarang sih kedengerannya quite common, tapi what strikes me at that time was her no-nonsense attitude. Bisa memprioritaskan apa yang harus dilakukan pertama. And she has that ability to stay calm during crisis. Ya itu, tetep bisa ngeliat prioritas.

Sampe sekarang juga kalau ngasih opini ttg bantuan-bantuan yang masih terhambat, beliau selalu tahu apa yang jadi prioritas dan gimana bisa one step ahead dari yang seharusnya.

Tadi lagi, denger berita tentang hewan qurban yang mau disembelih di Medan terus dagingnya dibawa ke Aceh, beliau udah langsung: "Harusnya biayanya dinaikin buat pengantaran juga. Kalo enggak, nanti bingung lagi, mikirnya itu jadi kendala lagi. Kendala kan ya memang udah jelas, harusnya udah mikir gimana ngatasin kendalanya dong..."

Kemaren siang juga, "Kok sampe sekarang pemerintah tuh masih terkaget-kaget sih ngeliat situasi? 'Wah, yang di kota ini tidak ada yang selamat'; 'yang disini hancur semua'; lha mappingnya tuh gimana? Sampe sekarang kok masih kaget-kaget? Selama ini tuh lho ngapain aja?"

---

Never quite master the elegant way to end a writing, jadi aku cuman bisa bilang gini: apa yang aku tulis di atas cuman untuk personal thoughts aja kok. But still, I welcome your comments :)


About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates