Groupies?
Walaupun aku akan bilang kalau so-called resensi ini cuman berdasar aja ama apa yang aku liat, dan enggak ada hubungannya ama yang sedang hangat belakangan ini, aku bakal tetep ngakuin, kalau apa yang sedang hangat belakangan ini turut berpengaruh untuk memicu poin yang mau aku tulis disini.
Ceritanya gini, seharian ini aku udah ngeliat dua kali video klipnya peterpan yang baru, “Katakan Dengan Indah”. Elemen-elemen paling menonjol dalam video klip itu, selain anggota band-nya tentu aja; ada bis, yang kemudian diketahui sebagai bis untuk tur; kamar hotel, yang belakangan diketahui sebagai tempat istirahat dalam tur; dan cewek-cewek yang ngikut dengan para anggota band. Tiga elemen ini mengendapkan suatu imej di kepalaku, yang sepertinya, terangkum dalam satu kata: groupies.
Groupie sendiri, menurut thesaurus-nya word (males nyari kamus sih…) berarti supporter, follower, dan fan. Tapi istilah ini sendiri lebih dikenal untuk cewek-cewek yang ngikut-ngikut para pemain band dalam tur gitu deh. Nama mereka sering aneh-aneh dan biasanya berasal dari judul lagu (Sexy Sadie, Pennie Lane, etc), and they would do anything to sleep with the band members. And I am not making this up. Kayaknya, most memorable time for groupies itu ada di 70s rock scene. Soalnya dari situ nama-nama groupies dan cerita mereka ada banyak yang dikenal orang, walaupun kadar dikenalnya juga terbatas, but at least…their name is quite remembered by a larger group of people than today’s groupies.
Sekarang, fenomena groupies sih masih ada. Eminem, Kid Rock, Limp Bizkit, Velvet Revolver katanya sih termasuk yang sering party hard ama mereka.
Tapi, yang menarik tentang videoklip ini, aku jadi nanya-nanya sendiri: groupies tuh ada beneran ya di Indonesia? Dan ‘aktivitas’ mereka tuh juga, lewat videoklip itu, digambarin plus minus sama ama Pennie Lane dan kawan-kawan di Almost Famous. Sambil ngetik ini, aku jadi rada mikir, mungkin gak sih kalo sebenernya si cewek di storyboard videoklipnya di-istilahin pacar? Mungkin aja kan? Tapi kenapa istilah ‘groupie’ lebih cepet nempel ya?
And what I consider interesting is, aku sebenernya yakin-yakin aja kalo band-band di Indonesia punya groupies masing-masing. Tapi mereka pernah gak sih memasukkan konsep groupies di videoklip-videoklip mereka? Seingetku sih, belum ada band yang pernah ngelakuin itu (bener gak?). Berarti peterpan kreatif dong? Iya sih, emang. Konsepnya menarik dan baru. Tapi, dengan mereka memperlihatkan apa yang mereka alamin itu, kalo mereka punya groupies, doesn’t that show the massiveness of their ego?
Dan videoklipnya sendiri could not have a more perfect timing than this. Aku sama sekali enggak bilang kalau siapapun itu groupie, karena aku cuman mo ngetawain storyline-nya videoklip itu. Ada sebuah ‘YEAH! RIGHT’ yang kedengeran keras dan sinis di kepalaku sepanjang ngeliat klip itu. Ariel got his heart broken by a girl? Yeah, right. Despite what truly happens, fokusku cuman ke klip ini aja, lucu aja ngeliat gimana si vokalis yang memproyeksi sebuah imej kalo dia teraniaya, terluka hatinya, ehek ehek ehek. Oh, I can just imagine Ariel groom his ego.
Does this sound mean?
I don’t know, maybe it is.
Dan kenapa juga aku jadi peduli?
Ya, mungkin gara-garanya gini sih, aku jadi inget ama salah satu ‘pertanyaanku’, kalo isn’t there something deeply unsettling with we, women, being attracted to men who likes caressing an object with a part that resembles a phallic shape? Doesn’t that show something about their ego and what they care about? Tapi, kenapa kita tetep terus-terusan memuja mereka?
Ceritanya gini, seharian ini aku udah ngeliat dua kali video klipnya peterpan yang baru, “Katakan Dengan Indah”. Elemen-elemen paling menonjol dalam video klip itu, selain anggota band-nya tentu aja; ada bis, yang kemudian diketahui sebagai bis untuk tur; kamar hotel, yang belakangan diketahui sebagai tempat istirahat dalam tur; dan cewek-cewek yang ngikut dengan para anggota band. Tiga elemen ini mengendapkan suatu imej di kepalaku, yang sepertinya, terangkum dalam satu kata: groupies.
Groupie sendiri, menurut thesaurus-nya word (males nyari kamus sih…) berarti supporter, follower, dan fan. Tapi istilah ini sendiri lebih dikenal untuk cewek-cewek yang ngikut-ngikut para pemain band dalam tur gitu deh. Nama mereka sering aneh-aneh dan biasanya berasal dari judul lagu (Sexy Sadie, Pennie Lane, etc), and they would do anything to sleep with the band members. And I am not making this up. Kayaknya, most memorable time for groupies itu ada di 70s rock scene. Soalnya dari situ nama-nama groupies dan cerita mereka ada banyak yang dikenal orang, walaupun kadar dikenalnya juga terbatas, but at least…their name is quite remembered by a larger group of people than today’s groupies.
Sekarang, fenomena groupies sih masih ada. Eminem, Kid Rock, Limp Bizkit, Velvet Revolver katanya sih termasuk yang sering party hard ama mereka.
Tapi, yang menarik tentang videoklip ini, aku jadi nanya-nanya sendiri: groupies tuh ada beneran ya di Indonesia? Dan ‘aktivitas’ mereka tuh juga, lewat videoklip itu, digambarin plus minus sama ama Pennie Lane dan kawan-kawan di Almost Famous. Sambil ngetik ini, aku jadi rada mikir, mungkin gak sih kalo sebenernya si cewek di storyboard videoklipnya di-istilahin pacar? Mungkin aja kan? Tapi kenapa istilah ‘groupie’ lebih cepet nempel ya?
And what I consider interesting is, aku sebenernya yakin-yakin aja kalo band-band di Indonesia punya groupies masing-masing. Tapi mereka pernah gak sih memasukkan konsep groupies di videoklip-videoklip mereka? Seingetku sih, belum ada band yang pernah ngelakuin itu (bener gak?). Berarti peterpan kreatif dong? Iya sih, emang. Konsepnya menarik dan baru. Tapi, dengan mereka memperlihatkan apa yang mereka alamin itu, kalo mereka punya groupies, doesn’t that show the massiveness of their ego?
Dan videoklipnya sendiri could not have a more perfect timing than this. Aku sama sekali enggak bilang kalau siapapun itu groupie, karena aku cuman mo ngetawain storyline-nya videoklip itu. Ada sebuah ‘YEAH! RIGHT’ yang kedengeran keras dan sinis di kepalaku sepanjang ngeliat klip itu. Ariel got his heart broken by a girl? Yeah, right. Despite what truly happens, fokusku cuman ke klip ini aja, lucu aja ngeliat gimana si vokalis yang memproyeksi sebuah imej kalo dia teraniaya, terluka hatinya, ehek ehek ehek. Oh, I can just imagine Ariel groom his ego.
Does this sound mean?
I don’t know, maybe it is.
Dan kenapa juga aku jadi peduli?
Ya, mungkin gara-garanya gini sih, aku jadi inget ama salah satu ‘pertanyaanku’, kalo isn’t there something deeply unsettling with we, women, being attracted to men who likes caressing an object with a part that resembles a phallic shape? Doesn’t that show something about their ego and what they care about? Tapi, kenapa kita tetep terus-terusan memuja mereka?
