Pertemuan Pertama yang Sempurna
Ada nggak sih sebenarnya itu? Aku (mungkin karena emang hopeless romantic ya) punya beberapa skenario tentang pertemuan pertama yang sempurna itu. Contoh salah satunya: di sebuah toko buku, aku lagi ngambil "High Fidelity"-nya Nick Hornby dan mengambil-ngambilnya, dan cowok di sebelahku ngeliat apa yang aku ambil. Lalu dia tersenyum dan berkomentar, "buku yang bagus. Rugi kalau nggak baca," lalu tersenyum lagi dengan ramah.
"Oh, aku udah mbaca berkali-kali kok. Cuman lagi refresh my memory aja, dulu sering mbaca, pinjem temen, tapi sekarang kita udah pisah," kataku sambil membalas tersenyum ramah. (Btw, hey you Nina, pemilik "High Fidelity" yang rela bukunya nginep lebih sering di tempatku, daripada tertata secara alfabetis di lemari putih di kamarnya, how are you girl?).
Lalu si cowok akan menaikkan alisnya, tanda ber-oh. Tapi terus menambahkan, "Hmm..top 5 favoritmu yang mana?"
Dan keningku akan berkerut, mencoba mengingat yang mana yang aku sukai. Sementara di bawah kening berkerut itu, secara frantic otakku bekerja cepat, mengolah informasi dari apa yang sudah pernah dibaca sebelumnya, tapi jawaban tak kunjung didapat.
"Ermm..ermm," dalam keadaan cemas, otak percuma disuruh bekerja, tapi dengan sigap, entah dari mana, sebuah ide muncul, "can we talk about this over coffee?" Dan si cowok akan tertawa lepas sebelum akhirnya mengiyakan. Skenario itu terasa makin sempurna, karena dalam percakapan terungkap, si cowok ramah itu masih single, dan alur tukar kata kami mengalir dalam nada yang "Before-Sunrise-Before-Sunset-esque". Hehehe.
Anyway, entry ini sebenarnya diinspirasi dari Sabtu malam lalu, saat aku bersama seorang teman menaiki tangga menuju ke lantai atas. Aku, menunggu antaran jam 10, sementara si teman pria, si investigator di ambang 30, akan bertugas piket malam itu. (Lame, I know, me and him, malam minggu di kantor, *sigh*). Saat menaiki tangga, telepon genggam sang investigator andalan itu berbunyi. Dan otakku sedang berkutat dalam 'autis-mode', sehingga aku tak mengikuti arah pembicaraannya.
Sakelar 'connect-to-earth' baru menyala ketika si teman mengatakan: "Lagi di mana? Apa sudah siap-siap mau tidur?"
Dan dari analisa cepat akan gestur, intonasi, dan bahasan, bisa disimpulkan, bahwa si lawan bicara adalah the (future) significant other. Cara mereka mengucapkan selamat tinggal pun menguatkan asumsi itu.
"Lho, dia lagi di mana sih?" tanyaku. Sebenarnya aku pernah menanyakan ini sebelumnya, dan si teman pernah beberapa kali menceritakan, tapi aku selalu lupa.
"Di Jakarta," jawabnya singkat.
"Lho, lagi di Jakarta?" tanyaku lagi, kali ini kaget, pantas saja dari minggu-minggu kemarin ia mengeluh karena malam minggunya selalu dihabiskan di kantor.
"Enggak, aku udah putus sama yang di Surabaya. Ini yang baru di Jakarta," jawabnya datar, tanpa emosi.
"LHO? UDAH PUTUS? KAPAN?" tanyaku, kali ini terasa berlebihan, karena si teman ternyata tidak menunjukkan penyesalan atau kesedihan atau apa pun. (Huh, cowok dimana-mana sama aja).
"Jangan tanya," katanya berdalih.
"Lho, aku cuman mo survey aja," kataku berusaha mengambil beberapa langkah mundur untuk menembus batu. "Kok udah bisa cepat ketemu lagi itu lho," kali ini taktik yang berbicara.
"Ya sekitar sebulan dua bulanlah," jawabnya, lagi-lagi dengan acuh tak acuh.
"Ketemunya ama yang baru gimana?" cecarku.
"Ya, aku nggak nyari yang aneh-aneh, cuma nyari temen ngobrol, kalau kenyamanan muncul, ya sudahlah," jelasnya, tapi tetap saja tidak gamblang. Dan akhirnya dia malah menguliahiku tentang betapa cewek selalu tidak menggunakan otaknya ketika mengatasi kehilangan, sehingga dia menemukan orang baru dalam satu, dua bulan adalah sesuatu yang wajar dan sehat, sementara aku yang terlalu lama berada dalam periode berkabung, adalah sesuatu yang...terbalik menurut logikanya.Dan ketika mencoba mendebatnya, aku merasa suaraku mulai bergetar, sehingga aku melihat ke arah lain. Ergh menyebalkan. Kuliahnya tentang logika dalam kehilangan dan suara bergetarku.
"Ketemunya dimana?" aku benar-benar penasaran. Dan aku ingin segera mengalihkan pembicaraan.
"Ya pas sama-sama nyari dvd. Kita mulai ngobrol, trus tukeran kartu nama, trus dua hari kemudian dia nge-sms, terus ya sudah," jawabnya.
Reaksi pertamaku: "IHHHHH! KOK BISA SIIHH? Itu kan salah satu skenario impianku, which means, tidak aku harapkan terjadi di dunia nyata. Dan ternyata ketika kejadian, dialami orang lain!"
Heiigghh. Mengesalkan.
Btw, aku juga kesel ama sek-red yang tidak mau nyetakin kartu nama sampe sekarang.
Selain skenario itu, dan yang di atas, masih ada skenario-skenario lain, seperti:
1. ketemu di konser jazz, but please don't let him be a jamiroquai fan.
2. ketemu di peluncuran buku, atau diskusi buku, festival film, pameran lukisan atau benda seni lainnya, tapi kayaknya cuma aku ya yang menjadikan hal-hal ini sebagai aktivitas soliter.
3. pas lagi nyari cd atau buku
4. kayaknya harus dicari lagi skenario lain, biar bisa dipraktekkan, hehehe.
Tapi anyway, ada yang punya skenario pertemuan pertama yang sempurna? Atau malah skenario pertemuan pertamanya kejadian beneran di dunia nyata? Let me know.
"Oh, aku udah mbaca berkali-kali kok. Cuman lagi refresh my memory aja, dulu sering mbaca, pinjem temen, tapi sekarang kita udah pisah," kataku sambil membalas tersenyum ramah. (Btw, hey you Nina, pemilik "High Fidelity" yang rela bukunya nginep lebih sering di tempatku, daripada tertata secara alfabetis di lemari putih di kamarnya, how are you girl?).
Lalu si cowok akan menaikkan alisnya, tanda ber-oh. Tapi terus menambahkan, "Hmm..top 5 favoritmu yang mana?"
Dan keningku akan berkerut, mencoba mengingat yang mana yang aku sukai. Sementara di bawah kening berkerut itu, secara frantic otakku bekerja cepat, mengolah informasi dari apa yang sudah pernah dibaca sebelumnya, tapi jawaban tak kunjung didapat.
"Ermm..ermm," dalam keadaan cemas, otak percuma disuruh bekerja, tapi dengan sigap, entah dari mana, sebuah ide muncul, "can we talk about this over coffee?" Dan si cowok akan tertawa lepas sebelum akhirnya mengiyakan. Skenario itu terasa makin sempurna, karena dalam percakapan terungkap, si cowok ramah itu masih single, dan alur tukar kata kami mengalir dalam nada yang "Before-Sunrise-Before-Sunset-esque". Hehehe.
Anyway, entry ini sebenarnya diinspirasi dari Sabtu malam lalu, saat aku bersama seorang teman menaiki tangga menuju ke lantai atas. Aku, menunggu antaran jam 10, sementara si teman pria, si investigator di ambang 30, akan bertugas piket malam itu. (Lame, I know, me and him, malam minggu di kantor, *sigh*). Saat menaiki tangga, telepon genggam sang investigator andalan itu berbunyi. Dan otakku sedang berkutat dalam 'autis-mode', sehingga aku tak mengikuti arah pembicaraannya.
Sakelar 'connect-to-earth' baru menyala ketika si teman mengatakan: "Lagi di mana? Apa sudah siap-siap mau tidur?"
Dan dari analisa cepat akan gestur, intonasi, dan bahasan, bisa disimpulkan, bahwa si lawan bicara adalah the (future) significant other. Cara mereka mengucapkan selamat tinggal pun menguatkan asumsi itu.
"Lho, dia lagi di mana sih?" tanyaku. Sebenarnya aku pernah menanyakan ini sebelumnya, dan si teman pernah beberapa kali menceritakan, tapi aku selalu lupa.
"Di Jakarta," jawabnya singkat.
"Lho, lagi di Jakarta?" tanyaku lagi, kali ini kaget, pantas saja dari minggu-minggu kemarin ia mengeluh karena malam minggunya selalu dihabiskan di kantor.
"Enggak, aku udah putus sama yang di Surabaya. Ini yang baru di Jakarta," jawabnya datar, tanpa emosi.
"LHO? UDAH PUTUS? KAPAN?" tanyaku, kali ini terasa berlebihan, karena si teman ternyata tidak menunjukkan penyesalan atau kesedihan atau apa pun. (Huh, cowok dimana-mana sama aja).
"Jangan tanya," katanya berdalih.
"Lho, aku cuman mo survey aja," kataku berusaha mengambil beberapa langkah mundur untuk menembus batu. "Kok udah bisa cepat ketemu lagi itu lho," kali ini taktik yang berbicara.
"Ya sekitar sebulan dua bulanlah," jawabnya, lagi-lagi dengan acuh tak acuh.
"Ketemunya ama yang baru gimana?" cecarku.
"Ya, aku nggak nyari yang aneh-aneh, cuma nyari temen ngobrol, kalau kenyamanan muncul, ya sudahlah," jelasnya, tapi tetap saja tidak gamblang. Dan akhirnya dia malah menguliahiku tentang betapa cewek selalu tidak menggunakan otaknya ketika mengatasi kehilangan, sehingga dia menemukan orang baru dalam satu, dua bulan adalah sesuatu yang wajar dan sehat, sementara aku yang terlalu lama berada dalam periode berkabung, adalah sesuatu yang...terbalik menurut logikanya.Dan ketika mencoba mendebatnya, aku merasa suaraku mulai bergetar, sehingga aku melihat ke arah lain. Ergh menyebalkan. Kuliahnya tentang logika dalam kehilangan dan suara bergetarku.
"Ketemunya dimana?" aku benar-benar penasaran. Dan aku ingin segera mengalihkan pembicaraan.
"Ya pas sama-sama nyari dvd. Kita mulai ngobrol, trus tukeran kartu nama, trus dua hari kemudian dia nge-sms, terus ya sudah," jawabnya.
Reaksi pertamaku: "IHHHHH! KOK BISA SIIHH? Itu kan salah satu skenario impianku, which means, tidak aku harapkan terjadi di dunia nyata. Dan ternyata ketika kejadian, dialami orang lain!"
Heiigghh. Mengesalkan.
Btw, aku juga kesel ama sek-red yang tidak mau nyetakin kartu nama sampe sekarang.
Selain skenario itu, dan yang di atas, masih ada skenario-skenario lain, seperti:
1. ketemu di konser jazz, but please don't let him be a jamiroquai fan.
2. ketemu di peluncuran buku, atau diskusi buku, festival film, pameran lukisan atau benda seni lainnya, tapi kayaknya cuma aku ya yang menjadikan hal-hal ini sebagai aktivitas soliter.
3. pas lagi nyari cd atau buku
4. kayaknya harus dicari lagi skenario lain, biar bisa dipraktekkan, hehehe.
Tapi anyway, ada yang punya skenario pertemuan pertama yang sempurna? Atau malah skenario pertemuan pertamanya kejadian beneran di dunia nyata? Let me know.

tes tes, abis pake template baru, jadi bingung mo masang commenting system yang bukan dari blogger.
Posted by
Nari |
12:16 PM
hmm pertemuan pertama? -- tapi kaya'nya mesti bikin kartu nama dulu deh, heheh :D
* di tempat dingdong maen tembak tembakan :D
* di komik section di toko buku ;;)
Posted by
snydez |
8:39 PM
dulu... pernah tuh ketemu pas ada pemutaran film prancis di ccf.amelie.sekian tahun silam. pada sebuah sore gerimis di bandung yang romantis.
aih..
seorang lelaki berkemeja flanel kotak-kotak biru dengan tshirt putih didalamnya,cuma sekedar bilang "sst..ngomong prancis tuh seksi banget ya,"
haha... dangkal?
iya banget.. tapi suer.. laki-laki yang kini entah dimana itu nggak dangkal.. suer. :)
Posted by
ica |
2:20 AM
humm... pertemuan pertama.. aku gak tau apakah akan ada sebuah pertemuan pertama setelah kita saling kenal... :S :(
Posted by
U Know Who |
3:18 AM