Wednesday, September 29, 2004 

Kasus Salah Pilih

Pemilihan Presiden tahap 2 kan udah terlewati, hasilnya juga udah hampir pasti si Bapak Jenderal satu itu akan menjadi Presiden RI yang selanjutnya. Buat temen" yang sebelumnya kenal aku, mungkin pada ngiranya aku kesenengan karena jagoku ternyata eh beneran menang lho.

Tapi, tapi, tapi, yang sekarang aku rasain malah aku ngerasa salah pilih. Bukan, bukan salah milih calon pas Pilpres II kemaren, tapi salah milih calon pas Pilpres tahap I itu (kalo tahap 2 kemaren aku ngerasanya milih the lesser of two evil aja). Sejauh ini sih taunya orang" pada bersedih" krn jagonya enggak masuk putaran dua, nah aku malah lagi nyesel" karena salah pilih.

Pas Pilpres 5 April, krn masih belum ada di Jakarta, jadi proses kampanye, berita", manuver" politik, etc itu hanya bisa dibaca garis besarnya aja lewat internet. Dari apa yang waktu itu bisa tak lihat, dengar, dan baca, aku ngerasa kalo pilihanku saat itu udah yang terbaiklah. Tapiiii, ketika udah kembali kesini, aku bisa ngeliat kalo pilihanku itu is only a mere public figure, and nothing more. Setidaknya, I used to think that he really is a super human, tapi sekarang setelah ngeliat dia di berbagai stasiun tivi, dimintai pendapatnya, reaksi" dan respon"nya, ternyata he is the representation of almost everything I hate: mediocre, overpraised.

Ngeliat lagi ke belakang, kenapa aku bisa se-blinded itu yah? I should've picked the other blue candidate ayng jujur, cerdas, dan berani itu; it is THAT obvious that he was the better choice. At least commitment wise, background wise, verbal wise, brain wise, plus anak" cowoknya juga enggak kalah cute dari anaknya yang menang, hehehehhe.

Yah tapi sudahlah, moga" yang ini juga bisa baik, ditunggu aja hasilnya gimana. Kalo 5 taun lagi, bapak yang jujur, cerdas, berani itu mau maju lagi, wah saya mah kayaknya udah pejah gesang nderek aja deh. Tapi kalo enggak maju lagi? Hmm.... yah, tunggu 5 tahun lagi deh

 

Ngetes Hello!

(ki-ka) Mia, Nari, Kavita, Vitria di Cihampelas Walk. Abis ngetes pake Hello nih, ketinggalan banget yah... Posted by Hello

Saturday, September 25, 2004 

Did I Tell You How Much I Love 'Lost in Translation'?

I watch 'Lost in Translation' again last night. This time I had real tears streaming down my face. The first time I saw it, I felt touched and I notice a slight layer of water substance in my eyes. But nothing that bulge.

I don't know why this time I felt more sad when I watch it for the second time. Maybe it was the conversation I had with a highschool friend over the phone. I called him just to say a very belated happy birthday.

We chit-chat for a while before he said, 'Sooo...., how's life?'
'Urm...'
'Any boys, any rings, any diamonds?'
I burst with uncontrollable laughter. 'Oh, if only you knew'.
'What?'
'I said in only you knew.'
'It's so loud in here, I can't hear you.'
'I said my social life really sucks, it's hitting a new low.' I half scream over the phone.
'I just moved so I can hear you better, what did you say?'
'I said my social life really sucks.'
'Oh.'

And then we decide to continue later, and this is where I pop in the movie.

I think when I first saw the movie, I have my future anxieties; what am I going to do, can I be a writer, will I meet someone again, etc. But at that time I have a definite deadline to finish my thesis, I have faith in my ability, and I have friends.

In here, I seem to be more lost than ever. I don't know when I'm going to have a job, other people (many, even) have better talents and abilities in writing, and currently I have no friends visible in sight. On top of that, my brain capacity decreases quite rapidly; it seems to have been defunct.

-Where's my intellectual stimuli?
-Where's my creative process?
-Where have all the people gone?

Maybe the point is this: when will I be the person that I used to be again? Or, will I?

I thought going back here would help me find the answers to everything. But now, I am even more lost than I was before.

My favorite lines in the movie used to be when Bill Murray said: "You'll figure that out. The more you know who you are, and what you want, the less you let things upset you". And then he continue it with, " I wouldn't worry about you". It used to give me assurance, that things would eventually be okay, but the words now have left me numb.

Thursday, September 02, 2004 

I will not post about this topic, I will not post about this topic, I will not....oh darn it

Never thought that I would have a different opinion than Aa' Gym, but here I am totally opposing to what he thinks and said. Tentang apa? Karena sekarang aku lagi dalam fase yang sangat tidak verbal, eh pas nemuin petisi yang isinya bener" ngewakilin apa yang aku pikir, jadi tak copy paste disini aja, sepertinya petisi ini bisa ngomong lebih lancar.

Protes terhadap Pelarangan Film Buruan Cium Gue!

JAKARTA, 25 Agustus 2004 - Kami berpendapat pelarangan tidak mencerdaskan kehidupan warga Indonesia sehingga pengekangan film Buruan Cium Gue! yang diwarnai kecaman, ancaman, dan kemudian penarikan film itu dari gedung-gedung bioskop, sangat kami sesalkan. Kami tahu bahwa dunia seni pertunjukan di Indonesia, baik film, televisi, dan pertunjukan lain, memang bermasalah dengan mutunya. Acara-acara kriminalitas di televisi Jakarta, berbagai macam kontes, reality show, sinetron, dan film, kebanyakan didominasi oleh para produser dan pemilik modal yang seleranya norak, sering melecehkan akal sehat, dan merusak profesionalisme dunia seni pertunjukan. Namun dunia seni dan hiburan, yang memprihatinkan ini, memerlukan iklim kebebasan dan aturan main yang sehat agar bisa berkembang mutunya. Hanya dalam kebebasanlah, para seniman dan pekerjaseni, bisa mengolah dan meningkatkan keterampilan serta mutu karya mereka.

Untuk itu para pelaku seni hiburan dan pertunjukan seharusnya mengambil peran yang lebih mendasar untuk meningkatkan mutufilm dan televisi di Jakarta. Para pemilik modal seharusnya, selain mencari keuntungan, juga mengupayakan cara-cara untuk meningkatkan mutu, profesionalisme, dan selera para pelaku produksi seni dan hiburan. Maka kami menentang langkah sejumlah pihak, antara> lain Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Majelis Ulama Indonesia, dan KH Abdullah Gymnastiar, yang menyatakan sikap mereka terhadap film Buruan Cium Gue! melalui tekanan, bahkan ancaman, dan penghakiman sepihak, dengan mengatasnamakan "moral bangsa."

Kami juga menyesalkan langkah Lembaga Sensor Film maupun Raam Punjabi dari Multivision, yang dengan gampang menyerah pada tekanan dan ancaman itu. Kami percaya bahwa pemberangusan terhadap Buruan Cium Gue! akan membuka jalan bagi kembalinya represi dan kesewenangan terhadap dunia kreativitas seperti yang sering terjadap pada zaman Orde Baru.

Kami berpendapat tak ada satu pihak pun yang boleh mengambil alih dan memonopoli kewenangan dalam melakukan penghukuman dan pemberangusan, atas nama apapun. Baik itu alasan politik, moral, agama, dan adat. Kami cemas, sekali alasan itu dipakai, ia bisa dimanipulasi dan disalahgunakan setiap waktu untuk memberangus kebebasan berkarya. Ini bukan saja membahayakan kebebasan berekspresi, namun pada gilirannya, juga akan membahayakan demokrasi negeri ini.

Eksponen Pendukung Kebebasan Berekspresi (EKSPRESI),
>> Nama Identitas*
> Aat Soeratin Pekerja seni Rumah Nusantara, Bandung
> Agus Sudibyo Wartawan
> Agus Nur Amal Tukang cerita asal Sabang, Pulau Weh
> Ahmad Sahal Freedom Institute
> Akuat Supriyanto Pengurus Aliansi Jurnalis Independen> Amanda Marahimin Pekerja film
> Andreas Harsono Yayasan Pantau
> Andy Budiman Wartawan radio 68H
> Angelina Sondakh Mantan Putri Indonesia,Anggota DPR 2004-2009
> Anugerah Perkasa Yayasan Pantau
> Aria Kusumadewa Sutradara film
> Atika Makarim Indonesian Corruption Watch
> Ayu Purwaningsih Wartawan radio 68H
> Ayu Utami Novelis
> Debra Yatim Pengurus Yayasan Tifa
> Dindon WS Sutradara Teater Kubur
> Dwi Fitria Mahasiswa Universitas Gadjah Mada
> Esti Wahyuni Chaeruddin Peneliti Institut Studi Arus Informasi
> Faisol Reza Aktivis hak asasi manusia
> Garin Nugroho Sutradara
> Ging Ginanjar Pengurus Aliansi Jurnalis Independen
> Goenawan Mohamad Institut Studi Arus Informasi
> Hana Makarim Wakil Direktur Byun + Company
> Harry Pochang Krishnadi Pekerja seni Rumah Nusantara, Bandung
> Hasrul Kokoh Yayasan Pantau
> Heru Hendratmoko Direktur Program Radio Namlapanha
> Indarwati Aminuddin Yayasan Pantau
> Jajang C. Noer Pemain film, sutradara
> Lasja Fauzia Sutradara Miles Production
> Leon Agusta Penyair
> Linda Christanty Penulis cerita pendek
> Longgena Ginting Direktur Eksekutif Walhi
> M. Abduh Aziz Produser
> Maria Pakpahan Aktivis hak asasi manusia
> Mira Lesmana Sineas Miles Production
> Muhammad Ichsan Pekerja film
> Muhlis Suhaeri Yayasan Pantau
> Nadiem Makarim Mahasiswa
> Nicholas Saputra Pemain film "Ada Apa Dengan Cinta"
> Nono Anwar Makarim Yayasan Aksara
> Oppie Andaresta Penyanyi
> Paul F. Agusta Kurator film Teater Utan Kayu
> Prima Rusdi Penulis skenario
> Rachland Nashidik Direktur Program Impartial
> Ratna Sarumpaet Ketua Dewan Kesenian Jakarta
> Rayya Makarim Penulis skenario
> Rieke Dyah Pitaloka Pemain film
> Riri Riza Sutradara Miles Production
> Rizal Mallarangeng Freedom Institute
> Rudi Soedjarwo Sutradara
> Santoso Direktur kantor berita radio 68H
> Sastha Sunu Pekerja film
> Shanty Harmayn Produser
> Sitok Srengenge Penyair
> Tisna Sanjaya Pelukis
> Tita Rubi Perupa
> Titien Wattimena Pekerja film
> Tony Prabowo Komposer
> Triana Sukmanita Desainer grafis
> Ulil Abshar-Abdalla Jaringan Islam Liberal
> Yeni Rosa Damayanti Aktivis hak asasi manusia>>

* Identitas para penandatangan diberikan disini bukan> untuk representasi namun sekedar keperluan identifikasi>>

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates