Wednesday, June 30, 2004 

Duh...Mbak Satu Ini...

Talented, young, fashionable, smart, luscious lips; I actually got myself into a silly and friendly 'argument' with Nat on which one of us likes her more than the other. (Sorry Nat, but I still didn't see the reason why you still need to claim her as 'yours', while you already 'have' Liv Tyler -and the Olsen twins(!) come to think of it-. Just as when we saw Liv Tyler, we are reminded of how you like her, can I at least have your associating with me when you saw this Deus Ex Machina? Heheheh.)



Damn, tadi di metro liat ada mbak" di sebelahku mbaca majalah Celebrity versi NL dengan Scarlett di cover, nanti liat" AKO deh. Rada nyesel waktu itu gk beli Elle terbitan US yang ada mbak Scarlett di covernya.

 

Berita ttg Friend of a Friend

Pas weekend kemaren weekend di tempat Prasma, bangun hari Minggu pagi, masih setengah melek langsung disambut dengan berita terbaru dari friend of a friend. Well, sebenernya dia sih bisa juga dibilang temen sendiri, tapi karena during our entire encounter, kita paling cuman say hi bisa diitung sebelah tangan and me not liking his character (I think his not liking mine as well), akhirnya lebih cocok klo dia dibilang temennya temen.

Ceritanya, aku masih setengah melek itu, langsung disambut dengan: "eh eh Nar, tau gk? Ini aku lagi chatting ama si ***, dia masak lagi rencana mo bikin bisnis escort!".

Duh, it's 10 AM Sunday morning, do I have to hate someone that early? On Sunday? Heheheh.

Tapi, back to the matter: "HEH? Serius Pras?"

Prasma: "Iya tuh katanya, lha ini malah udah ada rincian harganya. Rencananya kalo mahasiswi atau stewardess lokal bakal antara 3-5 juta per malem, trus kalo stewardess asing atau bule lain sampe 10 juta per malem, dan kalo artis, 30 juta per malem"

Nari: "Glodak banget deh. What was he thinking?"

Prasma: "Trus trus ini katanya lagi, 'kalo cewek bule-nya ya paling dari Rusia'"

Nari: *walopun masih tiduran tapi hatinya udah full force penuh kebencian dan langsung teriak* "DUUUUOOOHHHHH....KOK JADI HUMAN TRAFFICKING GITU SEEHHHH?"

Beneran deh, pas itu kayaknya my personal hatred udah langsung numpuk gk karuan. Apa dia enggak ngerti gimana seriusnya masalah human trafficking itu? Kok sampe segitunya mau ngemanfaatin ke-helpless-an orang lain untuk his personal financial gain? Apa dia gk nyadar klo human trafficking is a crime yang sekarang lagi abis"an diberantas? What about their rights as a human being?

Nari: "Duh awas ya.. klo beneran, aku langsung nanti ngelaporin ke anti human trafficking organisations deh atau LSM perempuan"

Prasma: "Lha ini lho.. dia malah udah siap rencana mo nyari backing segala, tak tanyain: 'heh, gila tah? kan ilegal tuh bisnis escort, blm lg trafficking-nya', lha anaknya cuman bilang: 'ah, nyari backingan gampang'"

Duh, where the hell is that guy sih? I'd like to punch him in the face.

Monday, June 28, 2004 

'Menjadi Pasangan' Sebagai Marketing Tool

Kemaren Sabtu/Minggu ada di Uilenstede, main ke kamarnya Prasma dan nemu majalah gratisan isinya guide to North Sea Jazz Festival 2004. Not that big fans of jazz myself, tapi line-up-nya taun ini kok kok serasa menggoda banget ya? Ada Patti Labelle, Amy Winehouse (well I think I like her more because of her fashion style compared to her music), banyak banget Big Band2 atau Brass Band yang bakal tampil, Buena Vista Social Club, Elvis Costello(!) dan...the legend himself, James Brown.

Forget 'I Feel Good', man that song was too common, duh..tergoda banget deh pengen denger dia perform 'Papa Got a Brand New Bag' atau 'Sex Machine'. The guy is pushing 80 I heard, jadi kapan lagi coba?

Pas lagi mbuka" majalah gratisan itu dan gasping", si Prasma bilang: "eh iya lhoo.. Elvis Costello-nya juga bakal perform bareng Diana Krall!"

HEH? WHAT? Get the bitch off the stage!

What is this? Kayaknya sejak Elvis Costello dan Diana Krall jadi pasangan, proses pembuatan album mereka juga ikut2an di-highly publicised. Dari mulai Diana Krall yang mulai menulis lagu sendiri di album barunya (sebelumnya sih dia cuman 'interpreter' jazz standards; but still...I think she lacks the depth), sampe perubahan paradigma Elvis Costello sendiri tentang cinta yang dimasukin di lagu" di album North-nya dia yang baru" keluar.

Anyway, ttg Diana Krall yang katanya mo featuring, apaan sih ini sebenernya? Di judulnya jelas2 dicantumin 'Elvis Costello with the Metropole Orchestra', I don't want a Diana Krall helping him perform on stage; dan misalnya kalo aku gk nonton pas Diana Krall-nya perform, bisa gk ya dapet a percent of my money back?

Baru selesai nge-rant gk jelas tentang mereka as a couple, eh di halaman berikutnya malah nemu 2 page iklan; yang kiri promosi albumnya Diana Krall yang baru ('The Girl in the Other Room' kalo enggak salah judulnya) dan di halaman kanannya, CD-nya Elvis Costello yang baru. Dan di page-nya ttg Diana Krall, diceritain ttg proses pembuatannya CD itu, 'inilah the romantic new CD of Diana Krall, The Girl in the Other Room. Diana has been dating Elvis Costello and influence her to write her own songs, which you will find in this lovely new CD, etc etc etc'. WTF?

Dan kalo pesen lewat majalah itu bisa ada sejenis tawaran 2 for 1 atau harga spesial gitu ama CD-nya Elvis Costello yang baru. Kembalilah aku teriak" ke Prasma: 'What is this? What is this? WHAT IS THIS?'

They're a couple, they're in love, so let's get their dating history out as a marketing tool? Dan jaminannya apa coba when people in love their works are going to be good?

Kayaknya teori-ku when it comes to musicians: they are always much more creative, productive, and interesting when they are mad (although when it comes to Avril, I never understood why she is always mad, and well yeah.. she's a fake anyway). Kayaknya when musicians fell in love, pasti bakal adalah love songs yang tercipta, tapi kayaknya enggak banyak yang kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Anger, to me, is a much more fun emotion to deal with, and to hear.

 

Vanity and Sin

1. Why does being vain feels good?
2. Why does vanity considered as a sin?
3. So does that mean everything that feels good is an act of sin?

Hmm..mungkin bener ya katanya Achilles di 'Troy': 'that the Gods envy us'. Rasanya seperti kembali jadi anak kecil dan hubungannya ama orang tua mereka, apapun yang sounds boring dan taste bad pasti good for us, sementara things that we actually enjoy are most likely to be bad for us.

Friday, June 25, 2004 

'"Not Just Ordinary Paperback"

Karena nganggur dan bosen ke sekolah (even to use the free internet), aku akhirnya kemaren memutuskan untuk jalan" sepanjang Kalverstraat, liat" toko, ke Waterstone DAN ke ABC (jarang bisa melakukan kunjungan religius -alias, lamaaaa banget- ke dua toko buku dengan membawa teman. Pasti udah pada kebosenan, even pas aku baru aja melangkah masuk ke salah satu toko buku tsb), baca" majalah for free, browsing judul" baru, etc.

Pas di Waterstone kembali melihat tawaran '3 for 2' yang selalu dateng menjelang summer dan emang banyak buku" menarik yang ditempelin stiker '3 for 2'. Tahun lalu, karena dapet boekenbon dari kantor sebagai tanda perpisahan, aku bisa milih sampe 6 buku sendiri dan mbayar untuk 4, taun ini, karena berencana pengen beli tapi on my own expense kayaknya beneran cuman bisa milih 3. Duh...tapi gimana nih milih 3-nya dari banyak yang pengen tak beli dan ada beberapa buku yang aku pengenin tapi enggak ditempelin stiker 3 for 2, should I buy them instead? Tapi kalo iya, dan 2 buku lainnya dari 3 for 2, sayang dong. Pokoknya little unimportant dilemmas deh (ples buku"nya Douglas Coupland enggak ada yang ditawarin 3 for 2).

Tapi, dari kemaren browsing" itu, aku jadi ngeliat satu trend baru tertentu yang lagi muncul di dunia penerbitan, dan kayaknya ini khusus terbitan Inggris. Di cover buku"nya Douglas Coupland yang terbitan baru, ada stiker tulisannya: 'Not Just Ordinary Paperback' trus dilist apa plus-nya buku edisi yang itu, ada interview ama penulisnya, trus artikel2 ttg buku itu juga. Dan setelah diliat", ada juga buku judulnya 'The Bride Stripped Bare' yang memakai trik yang sama; jadi ada tulisannya 'more than your ordinary paperback' dengan tambahan wawancara ama si pengarang juga.

Kalo dipikir", 'not just ordinary paperback' itu kok jadi sama kayak DVD yang punya extra" behind the scene yah? Tapi keren juga trik promosinya dan peng-apply-an sistem DVD extra ke nerbitin buku. Maksudnya, kita selalu pengen tau kan siapa si pengarang dan proses pembuatan buku itu, nah klo udah ditaruh langsung di bukunya, kayaknya bakal jadi plus point aja biar beli buku itu.

Btw btw, kan kita selalu denger ttg movie dan music industry yang pemasukannya berkurang karena piracy, tapi sebenernya gimana sih ttg dunia penerbitan secara general? Apakah orang beli lebih banyak buku dibanding dulu atau malah menurun? Tinggal disini menjelang summer sih, kayaknya orang lagi pada mborong buku utk dibawa liburan/ke pantai deh, tapi in general, apakah pembelian buku semakin meningkat atau malah menurun ya?

Wednesday, June 23, 2004 

Euro 2004

Sebagai seorang yang negaranya karena kondisi geografis tidak bisa ikut bertanding di Euro 2004, dan numpang tinggal di negara yang bisa turut serta di Euro 2004, aku beruntung (bisa dilihat dari sudut pandang sarkastik juga) bisa menempati posisi pengamat yang cukup netral dalam memperhatikan betapa hidupnya orang Belanda (atau Eropa lainnya) jadi tiba" berputar di area persepakbolaan. Sebenernya posisi pengamatku enggak netral" amat sih, soalnya pas Belanda kalah dari Ceko, cukup tertawa terbahak-bahak juga layaknya orang yang menikmati kemenangan. Hehehehe.

Anyway, pas Senin kemaren sidang, yang cukup lancar (I think) dan informal, sempet juga ngedengerin beberapa Euro talk yang cukup menarik. Pas lagi nunggu presentasinya Atas, aku ama Cassie (temen orang Yunani) went out for a smoke dan disana ketemulah kita ama Nik Healey (bebuyutannya Dina dan guru muda orang Inggris yang football fanatic). Disitulah Cassie dan Nik mulai ngomong" ttg Euro.

Nik: Hey...Cassie, congratulations! The Greeks are not doing that bad!
Cassie: I KNOW! It's hard to believe that we're actually performing good at something, but it happens.

-pause-
Selama ini aku kenal Cassie, aku selalu ngerasa that being a Greek, dia bakal bangga setengah mati ama the ancient Greek culture yang bener" on a magnified scale dan masih berpengaruh ke dunia sampe sekarang. Tapi ternyata enggak tuh, dia punya this whole self-deprecating attitude on her culture. Gak tau apa itu cuman dia, atau Greek in general. The sentence above is one of her self-deprecating comments on Greece and Greek people.

Cassie: People who knows I'm Greek are congratulating me, first I don't know why, it's not even my birthday. Well of course, I know nothing about it, I hate it so much, I think it's stupid the whole football event thing. But of course my boyfriend watch it religiously...
Nik: Hold on, hold on. How can you hate and judge something that you don't know? Oh, that's just so typically you.

-pause-
semenjak mbaca 'Fever Pitch'-nya Nick Hornby, I know better than to argue about 'why men think that football is interesting', I know enough by reading the book that it's not going to be just about sport; it's a trail of emotional baggage too. So therefore, I cannot reason with a man on that subject. Well, mungkin aku masih bisa menang argumen kenapa cewek seneng sepakbola, karena their reason would most likely be, oh... I don't know, cute guys maybe?

Nik: Hey.. maybe it's possible you know, Greece vs. England?
Cassie: Well, maybe, don't know about it. How's England doing? Just hope that Beckham is not doing any stupid thing and I heard that they're going to replace Mark Owen.

Hmm...kok kayak ada something yang salah?

Nick: MICHAEL OWEN, CASSIE! For God's sake!

Aku sampe batuk" keselek asap pas ketawa guling" ndengerin itu.

Nik: See, you didn't even know that much, so what's that talk about hating football?

Kayaknya sih ini kejadian sebelum ada new media hype surrounding Wayne Rooney terjadi, makanya the state of conversation masih ttg 'the possible hopelessness of England'.

Jadi inget, kemaren nonton dimana yah? Ada berita ttg pas pertandingan England vs Portugal nanti, neneknya Wayne Rooney udah bilang kalo dia enggak bakal nonton cucunya bertanding. Soalnya pas malem pertandingan itu, bersamaan dengan malem Bingo-nya. Hahahahaha.

I mean, can you imagine? Kemaren sih for a split second masih nganggep itu sesuatu yang cukup wajar, tapi trus membayangkan klo aku jadi Wayne Rooney dan neneknya adalah Eyang Uti Jakarta, baru ngerasain, wuaaa... aku ya sedih ya klo aku dapet kesempatan kayak gitu trus eyang uti-ku enggak nonton. Well, we have different type of grandmother, I think.

Monday, June 21, 2004 

Tentang Prince dan Great Music

Wish I had a dollar
For everytime you say
Don't you miss the feeling
Music gave you
Back in the day?


('Musicology'- Prince)


Sepertinya aku belum berhak untuk mengeluh tentang bagaimana musik sekarang tidak bisa membuat aku merasa kembali seperti back in the day. For God's sake, aku masih 21, jadi ngerti apa coba aku tentang konsep 'back in the day' itu? Tapi tetap aja, aku masih mengeluh tanpa akhir layaknya seorang old hippie ketika mendengar atau melihat those pieces of junk yang ditayangkan di MTV dan dengan percaya dirinya masih merasa berhak untuk prihatin, mengeluh, dan menjadi seorang yang extremely picky dan impossibbly critical akan apa yang aku dengerin.

Aku punya beberapa orang teman seumuran yang seleranya sudah jauh lebih serius dari aku dan salah satunya punya alasan yang menurutku cukup technical ketika menyenangi satu lagu; komposisi yang logis dan melodis. Jadi ketika ibu satu itu menyenangi satu lagu atau artis yang cukup mass consumption, berarti si lagu atau artis itu punya satu nilai lebih. Dan pas si ibu satu ini bilang: "eh kemaren aku liat konser akustiknya Prince di MTV lhoo...Dia ternyata hebat yaa! Konsernya baguuuuuus banget, dia ternyata musisi yang simpatik. Beneran musisi gitu!", aku udah langsung leap into a frenzy.

"Wuaaa.. kmu nontonnya kapan sih? Aku kok enggak tau? Kok enggak ada yang ngasih tau? Sejak kapan MTV punya good music in it?"

Si temen ini sebelumnya enggak selalu seneng kalo ada mini feature ttg Prince di Behind the Music, dia enggak pernah bisa mengerti kenapa Prince itu selalu dipuja-puja. Fakta bahwa dia bisa terkagum-kagum (sangat bahkan) membuatku yakin kalo konsernya Prince itu bener" amazing.

Tentang Prince sendiri, aku udah mulai menikmati lagu"nya sebelum si temen itu terkagum-kagum. Mulainya sih dari setaun lalu, lewat internet radio-nya VH1. Asalnya, ketika kecil atau mungkin malah sampai dua minggu yang lalu, aku merasa Prince terlalu freaky-looking. Dan ketika kecil, aku enggak gitu seneng suara falsetto (nada tinggi melengking) di cowok; never see a point of that. As I know better, barulah rada bisa mengerti dan menerima keberadaan falsetto. Perhatian dan penghargaan akan Prince makin meningkat dengan dimasukkannya Prince ke Rock & Roll Hall of Fame di 2004 ini. Semakin seringnya aku tune in ke internet radio VH1 khusus station Rock & Roll Hall of Fame (karena simply aku enggak tahan ama most of Top 40 crap dan end up nge-klik skip terus), makin mbuat aku mendengar banyak lagu"nya Prince. Yang aku tau dan seneng sih ada 'I Want to be Your Lover', 'Kiss', 'Little Red Corvette', 'Strawberry Beret', dan yang sampe sekarang masih an absolute favorite: 'When Doves Cry' (the part that gets me: "maybe I'm just too demanding, maybe I'm just like my father too bold, maybe you're just like my mother, she's never satisfied" kayak ada cerita di balik itu deh...).

Mendengarkan lagu"nya Prince berulang", aku jadi berpikir kenapa Michael Jackson selalu dikira sebagai the genius and the King yah? Sama seperti Madonna dan Cyndi Lauper, orang di taun 80-an 'diharuskan' memilih antara Prince dan Michael Jackson. Fiuh...I'm glad that Prince is still, well, Prince musically.

Prince yang aku kenal adalah the controversy-seeking guy yang mengubah namanya jadi simbol dan menganggap musiknya di periode itu ya gitu" aja. 'The Most Beautiful Girl in the World' anyone? Aku baru merasakan the greatness of Prince ketika mendengarkan lagu"nya yang lama.

Di tahun ini juga, Prince melancarkan comebacknya dengan 'Musicology', a very old-school sounding record yang aku yakin bakal jadi instant classic. Buat aku sekarang, Prince adalah seorang life-saviour; dia mengembalikan keyakinanku bawah craftmanship, kedalaman, dan kualitas dalam musik masih ada. Bahwa memang ada bedanya antara wannabes and the real thing.

Sebuah 'great music' itu menurutku adalah sesuatu yang menyatukan dan menghilangkan perbedaan. Great piece of music itu harus bisa menihilkan semua nilai, judgment, kepercayaan, selera, sehingga apa yang ada di pikiran pendengar hanya kepolosan anak kecil dan sebuah kata: WOW. Dan satu"nya hal yang bisa dilakukan adalah letting go, getting crazy, dan dancing around. Contoh: aku dan temenku Dina, aku seneng old/swing jazz, dia current pop Top 40 (no rap, soul, or R&B here); aku crazy about books, sementara dia enggak seneng baca yang berat", our taste in everything itu amat sangat berbeda, tapi kita bisa seneeeeeeeeeeeeeeng banget ama 'Hey Ya'-nya OutKast. Pas pertama denger itu, aku bener" terkagum-kagum sampe enggak bisa berkata apa", pikiranku kosong dan satu"nya yang aku pengen lakuin cuman loncat".

Jadi ketika Kamis malam kemaren aku pulang, nyalain TV yang enggak sengaja langsung tune in di MTV, dan menemukan 'Prince: The Art of Musicology' baru mau mulai, aku langsung danced around like crazy di depan TV. Dan bener katanya temenku pertama tadi itu, it was a great performance. Aku cuman bisa terpaku di depan TV dan ngerasa antusias banget (baca= antusias, bukan histeris ala ngeliat boyband), sampe enggak berani berdiri pas iklan takut ketinggalan even the smallest thing. Prince ternyata musisi yang bener" berbakat dan simpatik, orang yang bener" mengerti akan musik dan memperkenalkan kembali konsep depth (antonim dari shallow) in music. Dari situlah aku baru bisa ngerti kenapa Prince itu hebat.

Ketika konser selesai dan ada segmen wawancara yang cuman 5 menitan, si interviewer ngomong ttg Prince yang melakukan comeback di saat yang tepat. Walaupun beliau tidak pernah hilang tapi ketika beliau kembali, menurut si interviewer, kita seperti disadarkan kembali akan sesuatu yang hilang dari musik: musicianship, craftmanship, jadi tipe musician's yang bener" musician. Dan aku langsung loncat" sambil bilang how true, how true! Again, setelah ngelihat konser itu, aku serasa dihadapkan pada musical depth dan standar yang tinggi in opposite to shallowness of Idols, misalnya. Dari situ aku jadi berpikir: how can I comeback to normal life dan kembali terbiasa akan standar yang cuman so and so aja -atau malah extremely low- dari apa yang diputer di radio/TV? Gimana aku bisa kembali ke listening to music in general? Atau malah *gasp* berinteraksi dengan orang yang selera musiknya berbeda? Call it over-reacting, tapi aku merasa semakin susah akhir" ini untuk tidak jadi judgmental ke orang dengan selera musik berbeda.

Jumat malemnya, ketika secara enggak sengaja nemu konser itu lagi diulang di MTV, I know better than to sit quietly, aku berdiri dan nari" enggak jelas di depan TV, the show left me no choice other than to be, literally, moved by it.

Salah satu poin yang ada di 'Franny & Zooey' (salah satu buku favoritku) adalah tentang menemukan sumber cahaya pengetahuan. Dan bagaimana Franny dan Zooey dikenalkan pada sumber" cahaya pengetahuan itu ketika kecil sebelum mereka mengetahui hal" yang general. So forgive me my unborn children for possibly turning you into freaks, tapi salah satu 'kurikulum' dalam apreasiasi musik di rumah adalah mendengarkan Prince, salah satu dari sekian banyak sumber cahaya pengetahuan. Why? Because he is honest and sincere in making his music, thus making his music great.

After thought: aku nulis the original post above pas hari Sabtu kayaknya, tapi baru diketik hari Senin, and it gives me time to think. Aku pengen hal di atas itu karena I wish aku dulu ngalamin sesuatu seperti itu; jadi ndengerin Blondie sebelum No Doubt, the Ratpack swing version sebelum the mediocre cover versionnya Robbie Williams, Billie, Ella, dan Nina sebelum Norah Jones atau Diana Krall. Tapi mungkin kalo dikenalin lebih awal, kita malah jadi enggak bisa ngehargain the true value of the pioneers yah? Jadi karena dari pertama enggak pernah ngerasa kehilangan sesuatu, malahan enggak bisa menghargai apa yang kita milikin, something like that. Iya enggak sih?

Thursday, June 17, 2004 

Patung Orang Malu

Cerita ini sih sekedar oleh-oleh aja dari 7 hari bantu" kerja di Pasar Malam Besar di Den Haag, 4 hari bantuin bangun stand, 3 hari sisanya njagain stand, dan masih ada 1 hari lagi Minggu nanti.

Pas mbantuin ngambil stok barang di gudang, aku waktu itu ngeliat patung ukir"an gitu yang dikenal dengan nama, boleh percaya boleh enggak, Orang Malu. Bentuknya tuh menggambarkan seorang pria, gundul dan topless, lagi duduk bersila, kepalanya ditundukkan dalam banget malah lebih ke arah ditaruh di pangkuan, dan kedua tangannya nutupin muka kayak orang yang lagi malu; hence the name Orang Malu. Sebenernya sih kalo personal opinion, kesannya itu orang either lagi nangis atau menyesali sesuatu, tapi karena namanya lebih dikenal dengan Orang Malu, ya sudahlah, dia lagi malu, hehehehe.

Pertamanya tak pikir cuman bosku aja yang bilang itu patung dengan nama Orang Malu, tapi ternyata para pembeli patung itu (surprisingly entah kenapa, cukup populer) juga menyebutnya dengan nama yang sama.

Jadi kepikiran sih, kenapa namanya 'Orang Malu'? Kenapa memilih mengukir dengan pose orang yang lagi malu? Kenapa populer? What is so Indonesian about it?

Dan dari situlah aku rada mendapat lightbulb moment; that I have found the very essence of an Indonesian. Patung itulah esensi dari apa-siapa orang Indonesia karena mewakili karakter umum orang Indonesia: malu.

Kalau Descartes bilang 'I Think Therefore I Am', terus aku jadi rada terinspirasi untuk punya my own saying ttg teori eksistensi orang Indonesia: 'Aku Malu, Maka Aku Ada'.

Hehehehe, asal yah?

 

Super Duper Love? Wait a Minute...

Salah satu implikasi atau tepatnya marketing strategy yang datang bersamaan dengan summer, seperti sempat dibahas di postingan sebelumnya tapi yang ini lupa disebut, adalah adanya ‘summer hits’. Menjelang summer, music industry sering merilis single” yang kalo sukses bisa jadi the theme song of that summer, better known as summer hits. Lagu” yang dirilis sih biasanya cukup ringan dan sama seperti summer blockbuster movie, heavily coated with sugar, tapi entah kenapa taste buds-nya orang” pada bisa numb dan mereka flocking to enjoy the song. Pengalaman sendiri sih, saat lagu” ini didengerin outside summer months, aku langsung ngerasa kayak aku yang sekarang makan Krip-Krip dan ngerasain kalo isinya penuh vetsin, sementara dulu pas es-de bisa ngerasa kalo rasanya ada keju”nya gitu.

Anyway, menjelang summer ini, aku udah ada 2 summer hits favorit. Walopun tipe”nya cukup pop dan ringan, kayaknya sih dua lagu ini bisa dinikmati even outside summer months dan tidak terlalu heavily coated with sugar. Pertama, ‘Trick Me’-nya Kelis dan kedua, as given away by the title of the post, ‘Super Duper Love’-nya Joss Stone. Dari ngeliat video klipnya lagu kedua sih, aku yakin banget kalo ini dipasarkan untuk jadi this year’s summer theme song dan aku cukup yakin kalo summer ini, the song will be heard literally everywhere.

Ada temen yang selera musiknya cukup sulit menurutku, dan sekalinya dia seneng lagu yang ringan dan pop, alasannya sih karena komposisinya melodis. Never have been able to play any musical instruments correctly, or read notes for that matter, senengnya aku ke suatu lagu biasanya sih didasarkan atas sejauh apa imajinasiku bisa berkembang dari lagu itu. In short, how will it inspire me. Misalnya, my recent addition of The Strokes’ ’12:51’ to my all time top 10 list of records didasarkan atas kemungkinan suatu story line yang muncul pas ndengerin lagu itu, trus juga atmosfer care-free Friday night parties, falling in love and rejection at the same time, being young adults, dan gimana cerita itu bisa dibawa ke arah ‘us against the world’ type of thing. It may take only one line or one verse, tapi kalo itu udah bisa nge-inspire aku dan bisa membiarkan my imagination run wild; aku udah langsung seneng lagu itu. Addictive beats is always a welcome addition.

Tentang Joss Stone’s ‘Super Duper Love’, dari pas pertama denger dulu (winter” dulu sempet udah pernah denger) aku langsung seneng lagu itu. Tapi pas sekarang ini, ngeliat visual aidnya dan soundnya yang lebih di-enhanced, jadi lebih meningkatkan listening experience dan jadi semakin seneng. Well aku selalu seneng lagu dengan bunyi” Wurlitzer sih, apalagi kalo itu soul.

Tapi, tapi…the part that gets me itu bagian ini nih:

In the presence of all my friends
You'll still be holding my hand
And you promise me faithfully
That you will be my only man


Maybe it’s just the way how Joss croons, tapi pas ndengerin itu langsung bisa mbayangin, me lagi on a date ama seorang male object of my affection, dia melingkarkan lengannya di sekitar leherku and we’re happily laughing. It’s a bright sunny day and we really did have a good time, then I would make yet another really funny and witty joke, he would laugh uncontrollably, and then right there, suddenly, he would whisper and said: I will be your only man.

Bukan menanyakan ‘Can I be’ tapi the confident, tapi tidak arrogant atau self-righteous, ‘I will be’. I can never decide what I imagine would happen afterward, tapi yang pasti sih aku berharap suasananya bakal kembali ke fun mode seperti sebelumnya dan 'the male object' akan sadar bahwa itu adalah sesuatu yang tulus dan enggak harus dibales juga gpp. Kayaknya the contrast of dari being fun dan asexual ke tiba” sesuatu yang serius itu yang rada bikin zsa zsa zsu (therefore, dream material aja deh kayaknya).

Sekarang tiap ndengerin lagunya itu langsung ngerasa ada butterfly in my stomach dan pas bagian verse di atas langsung blushing” sendiri.

Duh, tapi on the other hand, langsung contemplating the lack of super-duper love from a male object of attention in my life. Huks…super duper love, Joss Stone?

‘Wait a minute, wait a minute…’

Yeah right.

 

Summer (and its own 'consequences')

Selama 4 tahun tinggal di negara dengan empat musim, bisa dibilang musim panas selalu datang dengan asosiasi" tersendiri. Mungkin karena panasnya, mungkin karena liburannya, mungkin karena the long days dan pasti hampir bisa dipastikan bakal stay up late; tapi pastinya tiap summer selalu membawa its own distinguished romantic air. Walaupun aku sendiri selalu menyambut summer dengan muka asem karena panasnya summer disini yang selalu max-ed out, kering, dan bikin kepala pusing; tetep aja ada something sweet, light, dan romantic ttg summer.

Dan kayaknya banyak juga orang" yang sadar akan what summer is identify with atau what summer has to offer; dan sayangnya orang" marketing kok ya sadar yah akan potensi summer. Makanya ada summer blockbuster, toko" buku yang berlomba" nawarin summer readings, majalah" yang berlomba" ngasih bonus seperti di post sebelumnya, tawaran liburan pastinya yang lebih banyak, dan yang membuatku pengen nulis blog ini: keluarnya berbagai macam produk leg/bikini line shaver.

Summer, identik dengan pergi ke pantai, identik dengan swim suit atau bikini. Nah, seperti pernah diceritain di post sebelumnya juga, it is simply good manner untuk shave your legs and *especially* bikini line kalo daerah itu mau di-ekspos atau bakal dihadapkan pada minimum coverage. Aku semakin yakin dengan notion that leg-shaving sebelum eksebisi itu simply good manner disini didukung dengan diluncurkannya Gillette Venus Girls 2 Goddess; a starter shaving kit yang ditujukan untuk female young adults.

Nah, kembali sebentar ke good manner, apa sih sebenernya good manner itu? Salah satu kriterianya sih menurutku itu sesuatu yang dibiasakan sejak kecil oleh ortu sehingga hasilnya behavior kita itu jadi proper dan orang" enggak ngerasa gross-out. Dari yang aku amatin sih, cewek" disini punya their own idea ttg sanitation regime yang kalo enggak dilakuin, orang bakal grossed-out; salah satunya legs shaving saat summer. Pastinya cewek" ini juga pertamanya ngeliat ibu" mereka shave legs dong, karena gimana" our idea of sanitation regime itu berawal dari rumah; jadi kayak dari mereka teenager gitu udah ditanamkan lah. Bisa juga karena pengaruh peers, tapi pastinya utk cewek" disini, eyebrow plucking atau leg shaving itu udah termasuk salah satu normal things to do sama kayak mandi atau sikat gigi.

Kembali ke Gillette yang ngeluncurin Girls 2 Goddess (aduh... liat deh dari namanya aja, dengan menggunakan angka instead of the word 'to', jelas" ditujukan untuk usia target group pendengar Avril); antara Gillette yang mencoba create a new market dengan memperkenalkan produk ini atau Gillette yang udah sadar akan adanya keberadaan target grup ini dan speak accordingly to their need, either way, I'm impressed and intrigued. Impressed akan kesensitifan Gillette akan kesempatan dan intrigued akan betapa bedanya sanitation 'requirements'nya cewek" disini dan cewek" Indonesia. Duh, kalo cerita ttg ini paling lgs pada: "lho... jangan lhooo.. katanya kalo dicukur kan nanti tambah lebat".

Eh, tambah lebat bukannya bisa dicukur lagi yah?

Friday, June 11, 2004 

Glossy Magazines di Saat Summer

Kemaren, sebelum nonton Troy di Pathé De Munt, sempet main bentar ke ABC, liat" apalagi kalo bukan majalah glossy; ada yang layak beli atau enggak. Karena waktunya mepet, nyarinya sih Allure aja, karena unlike Vogue atau In Style, fokusnya Allure lebih ke make-up daripada baju. Anyway, Allure-nya enggak ada, trus beralih ke rak women glossy magazines yang terbitan Inggris, eh ternyata...setiap women glossy magazines semuanya lagi samaan pada ngasih bonus tas! Elle, Marie Claire, In Style, satunya lagi apa yah...Vogue kalo enggak salah. Kemaren jadi pengen tas-nya dari In Style, tapi kok artikel majalahnya enggak menarik? Wah, serasa dilematis banget deh.

Terus tadi pagi, pas mo berangkat ke sekolah, iseng" masuk ke toko buku Bruna deket rumah, eh ternyata women's glossy magazines terbitan Belanda (di ABC cuman njual terbitan Amerika atau Inggris) pada ber-compete bukan dari ngasih bonusnya apa, tapi dari ukuran. Majalah StarStyle yang biasanya ukurannya A4, sekarang jadi sekitar A5 gitu, dan Cosmopolitan juga ternyata nge-apply strategi yang sama; tapi mereka nerbitin 2 size sekaligus, ada yang ukuran A4 (dengan bonus cute belt yang warnanya hot pink, ough pengen deh) dan satunya lagi dengan ukuran A5. Same magazine, same content, same cover, cuman beda size dengan harga yang kayaknya sih beda, enggak sempet liat harganya yang ukuran gede, tapi kayaknya lebih dari EUR 2,95 (harganya yg kecil) deh.

Hm..jadi inget pas nonton '13 Going On 30' (hehe, cheesy movie, I know. Nontonnya juga gratisan di kompienya Nina...hmm, tapi makin pengen jadi editor-in-chief of a stylish women magazine), ada salah satu plot cerita ttg satu majalah wanita yang selalu berhasil ngopi persis plek strategi atau artikel majalah wanita saingannya thanks to an insider; dan kejadian kemaren dan tadi pagi itu ngingetin aku ke kemungkinan itu. Tapi on second thought, aku rasa sih sebenernya kebetulan aja; walopun kalo diitung-itung kebetulannya cukup banyak. Yang edisi Inggris sama" pada ngasih bonus tas in the same month's edition! Trus yang majalah perempuan terbitan Belanda juga sama" pada memodifikasi size-nya juga di bulan yang sama. Kemungkinan yang mungkin sih, either summer membawa inspirasi baru untuk perubahan atau orang" marketingnya yang pada amat sangat peka pada kemungkinan yang ditawarkan bulan" summer untuk berpromosi (beach bag, smaller size biar gampang dibawa ke pantai, etc). Hm...enak sih emang buat aku sebagai consumer, banyak pilihan to choose from :)

 

Troy

Aduh, akhirnya setelah sekian lama, kemaren kembali nonton di Pathé setelah semi-tidak bangkrut. Milih nonton Troy, karena kayaknya ini tipe film yang harus ditonton di layar lebar, ples ada Eric Bana juga yang jadi Hector, huhuhuhuhu. Sebenernya enggak gitu notice beliau di film2 sebelumnya, tapi pas liat trailernya Troy dan melihat beliau dengan baju armour-nya Troy itu, thick brown locks, dan perfectly shaped beard, dan wajah yang stern going into battle; waduh... kok langsung send the shiver down to my spine yah? (Hmm.. jadi inget ada adeknya temen deket yang kemaren" ketemu lagi di Friendster bilang: 'halo si pengagum cowok seksi dan berbadan tegap'HAR HAR HAR, yah ternyata itulah my type :p). Yah mungkin karena si Hector itu pilihan yang lebih manly dan mature dibanding Orlando Bloom yang favorit teenage girls dimana-mana. Maybe it's the character as well, Hector yang lebih dewasa, rasional, dan pemberani; sementara Paris yang lebih playboy, manja, dan cowardly. Anyway, pas liat adegan yang ini, langsung sesak napas dan ngerasa ada beratus" kupu" di perut. Huehehehhehe.

Kembali ke nonton 'Troy', aku enggak akan mencoba nge-review sih, cuman rada komentar" dikit aja gimana. Komentar yg pertama; ada apa sih ini dengan Brad Pitt dan his current need to be nude? Tak pikir itu cuman ada di satu scene aja, tapi ternyata ada di beberapa yah? Dan ini annoyingnya lagi, karena Troy masih cukup baru di bioskop, jadinya isi zaal-nya masih cukup penuhlah, mungkin setengahnya keisi. The annoying part is tiap kali ada adegan si Brad Pitt nude atau rear-side nude atau pas adegan si Achilles pertama kali ketemu ama Briseis dan cuci badan di depannya Briseis, sehingga frontal nude-nya Brad Pitt itu dihadapkan pada Rose Byrne; pasti ada suara cewek ketawa" di belakang. D'oh! Women, please grow up! Dan itu bukan suara ketawanya teenage girls, but mature women. OK, OK, ini emang Brad Pitt dan semua perempuan berhak utk jadi a little bit excited, but please...giggling over male nudity di tempat umum bukannya so...puberty? Feeling a bit flustered, OKlah, wajar, aku juga ngerasa gitu walopun bukan utk Brad Pitt. Tapi kalo giggling" terus tiap ada pantatnya Brad Pitt kan annoying atuh, mending ketawanya disimpen aja buat personal viewing pas DVD-nya keluar nanti, ples merusak suasana juga.

Anyway, komentar kedua, ttg Patroclus, cousin-nya Achilles yang terbunuh di perang (bukan spoiler kan?). Ada cerita lain ttg siapa Patroclus ini sebenernya; di bukunya 'Iliad' sendiri, Patroclus itu dibilang sebagai sahabat dekatnya Achilles, tapi 'sahabat dekat' itu rupanya juga sebuah eufemisme utk 'lover', sehingga kembalinya Achilles ke medan pertempuran setelah 'throwing a huge sulk' dan melupakan marahnya dia ke Agamemnon itu lebih masuk akal, karena dia balas dendam akan kematian kekasihnya. Di review ini juga menyoroti aspek hubungan Achilles-Patroclus. Jadi selama film kemaren itu, aku selalu keeping in mind that Patroclus-Achilles itu bukan cousins, tapi lovers, diliat dari sudut pandang itu; kepedulian, kekhawatiran, kemarahan Achilles akan matinya Patroclus terasa lebih masuk akal.

Terus on the acting, Brad Pitt, sayangnya kok menurutku dialah the weakest link of the film ya? Aktingnya bland dan shallow banget, dan kayaknya sih dia enggak cocok untuk ber-akting ala speech gitu, jadi speech yang seharusnya inspirational itu kerasa dangkal, padahal scriptnya juga menurutku cukup bagus, cuman Brad Pitt aja yang kurang meyakinkan. Speech-type of actor yang keren itu menurutku Russel Crowe; I really can believe the things he said, baik pas nonton Gladiator atau his latest, Master and Commander (film" yang mengharuskan dia ber-speech). Diane Kruger as Helen, aduh ini lagi, so so so bland; annoying malah ngeliat dia berakting. Eric Bana, as expected, tidak mengecewakan (well, udah rada biased juga seh... :p). Orlando Bloom, hmm.. rada wishy-washy sih aku menilainya, either dia aktingnya dangkal atau karena emang tokohnya Paris yang dangkal. Tapi aku rasa, Paris itu pas banget diperanin ama Orlando Bloom, sama" hearththrob, pretty boy, shallow, dan manja. Hehehehe. The old actors sih udah reliable, Peter O'Toole, Brian Cox, udah bisa dipercayalah. Tapi jadi seneng ama Rose Byrne nih, so cute, lovely, and sweet.

Dari situ baru sadar juga, Saffron Burrows sebagai Andromache kok jadi mirip banget ama Connie Nielsen di Gladiator ya? Coba deh liat Andromache-nya Saffron Burrows disini ama fotonya Connie Nielsen yang ini. Mirip enggak sih?

Hmm..ternyata ada beberapa ketidaksamaan 'Troy' dengan legenda aslinya 'Iliad', 'Troy' ninggalin banyak banget pengaruh dewa-dewi Yunani Kuno sebagai bagian cerita. Trus kalo dari situ diceritain ttg Agamemnon yang mati karena dibunuh Briseis, sementara aslinya Agamemnon itu dibunuh oleh Clymtemnestra, istrinya sendiri, karena mengorbankan anak mereka, Iphigenia, agar kapal" Yunani bisa dikasih angin utk pergi ke Troy. Dan aslinya, Helen itu balik ke Menelaus lho, dan Paris mati; sementara di Troy sebaliknya. Dan di Troy diceritain ttg perang yang 9 tahun itu cuman ditunjukin jadi sekitar 20 harian, sementara Iliad itu ceritanya berawal dari hari" terakhir perang Troya yang bermula dari argumen-nya Achilles-Agamemnon. Hmm...mungkin itulah yang menyebabkan kenapa terakhirnya di title credit ditulis kalo the movie is inspired by Homer's Iliad dan bukan based on.

On the lighter side, eh itu dandanan matanya Andromache dan Helen, dark brown eyeliner around the rim of the eye, keren banget lhooooooooooooo....Aduh, kemaren jadi sibuk juga melototin detil eye makeup-nya mereka. Untung milih duduknya di baris kedua dari depan, ternyata lupa mbawa kacamata berhikmah juga nih. Hihihihi.

Thursday, June 10, 2004 

'Vanity, definitely my favorite sin'

Quote di atas, seperti udah dikasih link-nya, dateng dari 'The Devil's Advocate'. Aku enggak bakal ngomongin ttg film itu sendiri yang menurutku cukup absurd bagian endingnya dan a best friend of mine, Denny, ngasih komentar kalo "the two best things in 'Devil's Advocate' itu":
1. Connie Nielsen frontal nudity
2. Keanu Reeves shot himself in the head (YAY! Setuju kalo buat yang ini mah..)

Anyway, aku baru" ini aja ngerti arti sebenernya ttg konsep vanity dan hal" yang termasuk di dalamnya. Seperti udah diceritain di post ttg nyerahin FD reportku, aku dari situ baru tersadar kalo vanity itu ternyata cuman masalah prioritas aja. Pas saat itu aku enggak sempet mikirin ttg maskara, lipgloss, atau eyeliner, tapi di hari" biasa, kayaknya serasa telanjang deh kalo keluar rumah tanpa salah satu dari itu. Mungkin pengaruh lingkungan juga; karena disini postur badan cewek Asia yang pendek", kita" sering being mistaken for anak kecil dan being treated as such. Tapi anehnya, ketika kita either pake stiletto, mbawa handbag, atau apply sedikit maskara aja, kita langsung being treated as a proper woman, hihihihi.. aneh ya?

Tapi vanity sendiri, menurut Dictionary.com (salah satunya) berarti: "Excessive pride in one's appearance or accomplishments; conceit". Cuman di post ini sih aku mo lebih berfokus ke appearance aja.

Kayaknya selama tinggal disini itu, tuntutan akan vanity in appearance itu jadi semakin tinggi deh. Hal" yang biasanya aku pikir enggak perlu, sekarang malah jadi suatu keharusan atau malah kewajaran; atau malah simply diliat sebagai good manner atau etika aja dan bukan lagi hanya sebuah case of vanity. Misalnya gini, kayaknya pas di Indonesia dulu, aku enggak menganggap bulu kaki di cewek itu sebagai sesuatu yang cukup mengganggu pandangan, konsep nge-wax aja mungkin aku masih ber-hah-hoh kalo ditanya. Tapi kayaknya sebulan atau dua bulan yang lalu gitu, aku jalan ama anak" IT dan salah satu di antara mereka ada yang pake rok jins selutut dengan bulu kaki yang cukup lebat dan tidak dicukur! *GASP*

Berkali-kali, I caught myself staring at her legs dan berpikir: "aduh...kok brani"nya sih enggak cukur kaki kalo tau mo di-ekspos gitu?". Dan aku cukup menyadari juga kekonyolan dari apa yang aku pikirin, tapi tetep aja aku ngerasa rada risih ngeliat those unshaven legs trus berpikir: "duh.. itu kan udah 'aturannya' disini kalo cewek mo nge-ekspos kaki, itu harus dibersihin dari bulu dulu".

Tapi trus pertanyaan lain jadi muncul, sejak kapan sih ada aturan utk cewek kalo mereka harus tidak berbulu? Jadi inget juga ama salah satu episodenya 'Sex and the City' yang judulnya 'The Drought', yang Samantha ngomong ke Carrie kalo women are not expected to fart, have hairs, or etc etc dan gimana ibu satu itu pernah diputusin ama seorang cowok hanya karena dia 'miss her bikini-wax appointment', huehehehehhe...

Bener enggak sih sebenernya?

Tapi emang sih, kayaknya when it comes to boys dan my case of vanity, aku lebih memilih utk enggak cerita sama sekali ttg beauty regime-nya ngapain aja. Soalnya kalo ketauan, either mereka akan:
a. merasa itu terlalu sedikit, jadi dikiranya aku enggak peduli ama penampilan (dan dengan fenomena metrosexual sekarang, kayaknya kemungkinan itu sah2 aja utk terjadi)
b. atau (yang ini pernah dialamin sendiri dan lebih awam terjadi) mengira aku seorang yang shallow dan semua-muanya itu berkisar di beauty kit-ku aja trus langsung jadi turn off by it.

So I prefer to take the old school approach of: 'a lady never reveals', biar orang" lain ngira kalo ketika aku bangun tidur, otomatis udah langsung terliat kayak how I normally look keluar rumah setelah 'a little' touch-up here and there. Huhuhuhu. Dan aku rasa cowok" juga kalo enggak dikasih tau, mereka juga enggak akan berpikir panjang ttg how I look the way I look, mereka bakal berasumsi klo we, girls, are always looking like that naturally. *especially guys my age deh kayaknya*

Tentang kemungkinan kedua di atas, sebenernya dikasih tau si Mamah juga sih, beliau selalu berpendapat kalo applying make-up in public itu (kecuali di toilet) amat sangat tidak pantas buat seorang perempuan; dan I try to live by it. Ples emang rada enggak pe-de juga kalo harus ngeluarin kit di tempat umum trus make sesuatu, kecuali mungkin buat lipgloss, karena klo winter disini lipgloss itu harus di-apply tiap 5 menit sekali karena saking keringnya. Enggak bisa dong tiap 5 menit sekali lari ke wc cuman buat nge-apply lipgloss; kalo pas winter, alat satu ini emang kebutuhan, kalo enggak bibirnya perih banget.

Tapi kemaren malem, ada a couple yang duduk di depanku pas di metro, dan si cewek dengan pede-nya ngeluarin make-up bagnya dan ngeluarin kaca sambil terus scrutinising every little pores that she has on her face! Di depan cowoknya! Dan si cowok not being turned off by the girl's obsession with her pores! Amazing. Trus juga dlm beberapa occassion, pas naik trem mo ke CS, pernah ketemu ama 2 orang, satu ibu", satu mbak" yang apply her whole entire make-up di trem! Selain rada 'kagum' akan pe-denya mereka, kagum juga sih akan gimana mereka bisa keep a steady hand utk nge-apply eyeliner di trem Amsterdam yang rasanya kayak naik rollercoaster itu.

Tapi, again, whatever happened to women being discreet?

Wednesday, June 09, 2004 

What Kind of Writer Are You?

*waduh ini bener" total revenge deh kayaknya; fourth post for the day*

Yang ini sih pendek aja, dari blogwalking ke tempatnya Cupid, tau ada online quiz yang judulnya "What Kind of Writer Are You?", iseng" nyoba dan hasilnya beneran pas deh:

"You are a narrative writer. You love reading and writing long, descriptive passages that read like poetry, and are full of imagery. Just be careful not to overdo it. Not everyone wants to know the exact shade of green on the hills."

Hmm..so me, kalo nulis atau cerita sering kepanjangan, terbukti kalo lagi nge-blog en pas ngerjain FD kemaren *nervous smile*.

 

Menulis 'Acknowledgement'

-kayaknya bales dendam banget deh, FD selesai, dan abis 4 hari tidak terhubung ke internet gara" kerja di Pasar Malam Besar, langsung nge-blog tak terhenti gini-

Masih tetep aja di topik FD, kemaren sempet mikir ttg menulis 'Acknowledgement' atau ucapan terima kasih di FD; entah kenapa kok bisa jadi mengerti kenapa ucapan terimakasih pas Oscar night bisa panjang sak renteng yah? Pas saat itu sih, aku mikirin the whole thing, semua kejadian dan semua orang yang membantuku ada di poin ini: the end of my study, dan daftarnya itu panjang banget. Tapi memasukkan semua itu ke acknowledgement thesis kayaknya enggak relevan juga, it's not the greatest invention of the century or something (unless it is the greatest invention of the century, tapi on my case it's not), jadi gimana caranya biar acknowledgement enggak jadi ucapan terimakasih Oscar night?

Well, aku belum nemuin jawabannya sih, tapi yang pasti kayaknya yang perlu aja, dan indeed; aku berterima kasih pada elemen" yang menurutku kalo enggak ada, FD ini enggak bakal jadi. Terus personal thank you's yang membantu pengerjaan FD personally, dan ini dilema lagi krn bingung mo nyebut which friend yang harus disebut individually dan yang bisa dimasukin ke 'other friends'? Kayaknya kalo mo disebut satu, mending disebut semua, tapi nanti kayak Oscar speech-nya Halle Berry yang sampe thank you to her dentist *Shut up, Halle Berry! Shut up!* Akhirnya sih tak putusin untuk semuanya disebut dengan 'all my fellow students', karena kontribusi mereka yang tidak kalah besar satu sama lain dan sangat various.

Terus a little bit on the ego side sih, dan yang ini rada improvisasi aja, ikut"an ber-dedikasi.

Akhirnya, ini deh hasil finalnya:

Acknowledgement

First and foremost, all of the gratitude that I could muster must go to God, the Higher Being of the Universe not limited to any religious interpretation; simply for everything.

Naomi Klein, for writing ‘No Logo’ and open my eyes to the reality and enormous power of multinational corporations.

Don Ropes, for introducing students from Mass Media Specialisation to the works of Naomi Klein and encourage us to think beyond brand and image.

Craig Whittaker, for all of the supervision, guidance, and feedbacks throughout the entire writing process.

Schone Kleren Kampagne, for providing assistance in the midst of their busy campaigns; and Jupijn Haffmans, SKK campaign co-ordinator and primary source for this report.

My fellow students in xxx University that I cannot mention one by one, for the simple greetings, heated discussions, and endless time spent together worrying about the state of our report. Also to my mother, for trying to help in her own way.

Last but not least, if this report worth dedicating, it would go to the memory of Marsinah, an Indonesian factory worker whose tragic and cruel death is caused by her raising a voice against the bad working environment where she works and whose case is never resolved until now.

And in the now cliché-sounded words of Patti Smith, more power to the people.

-----

 

Final Dissertation: The Hours After

"aduh..kalian enak ya rek, udah lega kayak abis umptn", katanya Prasma di De Jaren (tunggu 'Ocean's Twelve' this December, tempat mangkal kita bakal keliatan disitu, hihihii.. promosi terus nih. Tapi De Jaren emang cafe indah, spacious, interior-nya keren, tapi surprisingly: harganya murah!).

Ini 4 jam setelah penyerahan report paling disastrous ever, nge-bebek di New King, trus hang out di De Jaren ngobrol" ama Prasma, Atas, Nina, Nat, Ina (gara"nya pindah sih krn enggak betah di New King, dipelototin ama pelayannya yang kita sebut si Nenek Judes karena emang nenek judes dan berkomentar aneh" kayak: "eh itu mesennya enggak kebanyakan? kayaknya kebanyakan deh?" leh? yak opo seh?). Anyway, pas denger Prasma berkomentar gitu langsung mikir: "wait wait wait...iya yah, momen ini kan seharusnya equal dengan pas umptn dulu, ya seharusnya persiapannya, kesiapannya, my piety dan closeness to God, the overall planning; lha kok sekarang setelah diliat balik malah keliatan kayak one big mess gitu sih?"

Pas jalan mo ke New King juga si mamah telpon dan nanya tadi gimana, tak ceritain the whole thing and obviously mommy is not happy, tapi berpesan "ya udahlah, apapun yg terjadi kan udah lewat, sekarang cuman bisa doa, doa, doa, berharap biar bisa dikasih yang terbaik, disini terbaik, nanti disana juga terbaik".

Dan itu another thing yang mau tak bahas, ttg piety (the state or quality of being pious, especially:
religious devotion and reverence to God - mnrt Dictionary.com) dan kedekatanku pada Tuhan di masa" end of school ini, baik dulu maupun sekarang.

Dina masih sempet cerita ttg gimana pas dia jalan ke sekolah enggak berenti"nya ngucapin Al-Fatehah, sementara aku the only thing that I can remember pas mo berangkat ke sekolah cuman waktu yang serasa lebih cepat dari seharusnya.

Pas dibilangin ama Prasma itulah aku baru sadar kalo diliat dari segala sisi, aku seharusnya memperlakukan FD ini sama dengan dulu aku memperlakukan UMPTN, so whatever I do, aku seharusnya membandingkan dengan dulu gimana persiapan menghadapi UMPTN; the amount of workload, the amount of attention, dan lagi" the amount of piety. Workload dan attention, OK, mungkin iya, tapi on the amount of piety: kok kayaknya menurun drastis yah? Kayaknya aku bahkan tidak melibatkan Tuhan dalam proses perjalanan mengerjakan FD ini, like I used to include Him di my other end of school period assessment.

Jadi, seperti dibilang Bulan ttg diijinin sampe sejauh itu, itu juga pertamanya dlm proses FD ini aku strucked by the fact akan adanya keterlibatan Tuhan di dalam proses itu. Terus Atas juga tambah ngomong, "ya kalopun kita udah diijinin, aku rasa itu krn doanya ibuku deh, dan bukan krn doaku", dan aku jadi inget" lagi akan dulu ritual sungkem Mamah dan Eyang (krn pas smp-sma tinggal ama Eyang di Jogja) dan pas kemaren" itu Mamah cuman bisa ngirim sms ttg beliau dan Eyang Jakarta juga yang selalu mendoakan.

Dan kalo diliat balik juga semuanya kok kayak kebetulan, kok ya aku-Atas ngambil jalan ke mailbox dulu, padahal itu aku udah mau jalan ke kantornya Craig juga lho...trus Atas ngingetin, 'lho Nar, kan ke mailbox dulu'; abis gitu kok ya untungnya ketemu temen kita si Eva yang ngasih tau kalo si Craig udah mo pergi, krn biasanya si Eva ini selalu act as the red-haired bitch yang enggak say hi dan bitching me and Atas behind our back, what are the odds that dia bakal ngomong ke kita after 2 years of bitching? Pretty small kan?

Terus kok ya pas kita lari" itu tabrakan ama Craig di pojokan, karena rute yang diambil si Craig itu justru mengambil jalan memutar untuk keluar. Dan last, what are the odds si Craig masih mau menerima report kita yang telat itu?

Guru sosiologi favoritku pas kelas 3 smu dulu sempet ngingetin ttg kekuatan doa, dan aku rasa juga apa yang dibilang beliau dan Atas itu bener juga, kita udah boleh diijinin sampe sejauh ini krn kekuatan doa ibu" kita.

 

Final Dissertation

Prolog

Besok deadline, dan malam itu aku masih di depan komputer mencoba utk cut down ineffective words, itu report udah bener" excessive in words deh; maks.nya cuman boleh 12,000 kata sementara waktu itu aku udah sampe 25,000 dan belum termasuk Recommendations. Rasanya bener" hopeless, apalagi setelah mbawa external editor, aka Dina, masih tetep aja enggak membawa penurunan yang berarti; 23,000 kata jadinya.

Akhirnya pulang, mbaca lagi di rumah, nge-edit, rencananya mo bangun jam 2 trus ngerjain lagi, tapi krn jam tidur 1 hari dibagi untuk 4 hari berturut-turut, akhirnya baru bangun jam setengah enam. But no worries, deadline jam 2, still have everything under control.


D-Day: The Beginning of My End

It is now 12.30 dan aku baru aja nyelesein semua FD materials, it takes an hour to go to school, jadi sampe sana I only have couple of minutes to print and everything. Cuman sikat gigi-cuci muka, belum mandi, belum ganti baju, etc (apalagi the usual eyeliner, maskara, lipgloss, aduh... beneran enggak sempet deh), langsung berangkat. Hmm.. sempet mikir sih, wah vanity itu ternyata urusan prioritas aja yah? Sekarang lagi enggak sempet mikir vanity matters jadinya enggak peduli ama others judgment ttg how we look. Dan pas itu lagi pake celana komprang sate yang kalo enggak disetrika bisa kusut banget, trus pake sepatu sneaker yg butut dan udah lama enggak dipake tapi trus dipake krn cepet aja makenya.

Akhirnya sampe di sekolah jam 13.40, ngisi print credit, trus lgs mo ngeprint, eh ternyata printernya macet! Lari" ke D1, mo nge-print, dan it is a universally acknowledged truth that when a going gets tough, the tough gets going; pas mo nge-print, creditnya enggak cukup. Jadi walopun printer-nya rusak, itu credit buat nge-printnya tetep aja kepotong.

Lari" ke bawah lagi ngisi print credit (dan kok ya aku tadi tidak efficient ngisi juga enggak lgs banyak), akhirnya nge-print. Eh, ketemu Atas yang juga lagi swimming in the same pile of shit as I am, dan dari situ baru inget kalo kita harus nge-print 2 copy!!!

ARRGGHHH.

Turun lagi ke bawah, ngisi kredit, akhirnya nge-print. It was already 14.02 dan kita baru ke bawah, mo ke copy center utk nge-bind. Ternyata nunggunya cukup lama juga dan kayaknya pas itu kita udah sampe ke state of delirium deh; antara apathy dan pass-worry dan pasrah. Disitu masih sempet ketawa" ama Lizeila, temen kita dari Curacao yang mbawa mini-terriernya ke sekolah (and the dog, Kellogs, was really mini; beneran kayak anjing mainan, tapi beneran deh -in a highschool lingo- 'so, so, sooooooooo cute'). Selesai, keluar dari copy center itu jam 3, aku ama Atas masih sempet"nya memutuskan untuk naik lift krn kita udah capek lari" dan dengan cueknya memutuskan untuk ke mailbox-nya, berharap si Craig blm ngosongin mailboxnya. Ternyata udah kosong.

Abis gitu langsung ketemu Eva yang nanya kita ada di grupnya siapa, jam berapa hrs nyerahin etc, dan pas kita bilang ama Craig dia langsung bilang: Hey, he's about to leave, so you have to run!

OH, NO, NO, NO, NO, NO.

Kita lari" dgn tangan flapping di depan, ke atas", mo nabrak orang, dan in the end of the tunnel, atau koridor kali lebih tepatnya, pas di pojokan: kita tabrakan ama Craig dan istrinya yang udah nenteng tas.

Craig's Wife: Good God, girls!
Nari-Atas: *stunned, catching breath, looking at them*
Craig: *staring at us, or glaring at us, looking not too pleased*

We were just waiting for Craig's reaction, ada kemungkinan si the usually-nice-guy Craig akan bilang: 'sorry, but you're late', so we were just waiting.

Akhirnya,

Craig: *gesturing 'come on, give the report to me'* did you know that you were THIS *menyatukan jempol dan telunjuk tangan kirinya menyisakan a micro-size -or maybe none at all- space* close to not graduating?
Nari-Atas: *stunned, speechless, menyerahkan report*

Craig dan istri pun berlalu.

Lututnya kita langsung ngerasa lemes; we know that we're in deep shit already, but we didn't know that we're in THAT deep of shit.

Pokoknya what comes after itu kayaknya buat orang lain keliatan kita rada gila; setengah ketawa, setengah nangis, masih deg"an juga, masih keabisan napas, not even half-believing the luck that we're getting. Ya mungkin seperti katanya Bulan, "ya udahlah, bersyukur, kan udah diijinin sampe sejauh itu".

Hmm...iya kali ya..

Friday, June 04, 2004 

Mencari Ketenangan Sementara

Awalnya hari Senin kemarin, dapet telepon yang cukup tidak diduga dari sebuah nomer HP yang tidak dikenali. Asalnya sih udah mau enggak diangkat aja, tapi akhirnya memutuskan untuk diangkat. Dan tumben”an juga kok pas aku lari” ke atas, nyari HP, belum sampe miscall. Pas diangkat ternyata dari seorang Mbak Nurul yang nawarin lagi kerjaan buat bantu” nungguin stand di Pasar Malam Besar Den Haag.

Waduh, bener” an answer to my prayer deh, walopun prayer-nya juga enggak bisa dibilang sebuah doa yang sempurna atau setidaknya properlah, lha cuman nggumam aja kok, tapi ya Tuhan kok Maha Memberi ya? Sebenernya sih udah tau ttg kerjaan ini sekitar sebulanan lalu, tapi gara” telat nelpon Mbak Nurul, eh katanya mereka udah dapet orang. Wah, langsung nyesel banget deh pas itu, mana cukup lumayan juga bayarannya. Untungnya aja waktu itu, walopun udah merasa hopeless, sempet ninggal nomor HP-ku karena katanya sih mereka masih nyari orang cuman buat weekend aja. Ya udahlah, daripada enggak sama sekali, mikirnya waktu itu.

Ternyata ninggal nomor HP ini terbukti bener” membawa untung, karena ternyata si orang yang udah di-hire pertama itu cuman bisa kerja pas weekend aja, dan untungnya lagi, Mbak Nurul ini enggak bisa kerja pas Senin dan Selasa. Beneran serasa dapet durian runtuh deh, hari Minggu ini aku udah mau mulai bantu” ndiriin stand, diikuti dengan hari Senin dan Selasa-nya, trus the whole week setelah itu, bener” bersyukuuuuuuuuuur banget dapet rejeki.

Tapi dari situ baru sadar juga akan tanggung jawab-tanggung jawab lain yang sebelumnya udah diiyain, ada project MAP, ada project foto” sekolah buat brosur baru, ada project ama Tha Spot Jongeren Plaza yang udah diceritain sebelumnya, dan most of all: tesis. Waduh, piye ikiiiii???

OK, OK, OK.
Inhale, exhale, inhale, exhale.
Kok enggak membantu yah?

OK, liat timescale-nya trus jadwalnya ngapain aja:
Project MAP? Terserah ama aku bisanya kapan, karena Pak Profesor ini ngerti aku lagi in the middle of end of study year things.
Project foto sekolah? Udah harus diserahin Rabu ini, jadi itu bisa segera get out of the way.
Project-nya Tha Spot? Lha, lha ini… Rencananya mo disambi sama ngerjain tesis, karena minggu ini aku harus ngirim” imil nawarin kerjasama, tapi sampe sekarang belum ngirimin apa”, belum lagi harus mbuat company profile-nya and it’s due next Wednesday.
Terus, tesis? Lha ini juga penentu masa depan kok malah rada behind the schedule ya? Dan kayaknya enggak sempet konsultasi nih ama Craig sebelum diserahin; and it’s due this Friday.
Sebenernya ada weekend ini, cuman hari Minggu-nya udah harus ke Pasar Malam, dan jam kerjanya dari jam 12 siang-11 malem, ples si pemilik stand insist aku nginep aja di Den Haag di tempatnya Mbak Nurul, biar enggak bolak-balik Amsterdam-Den Haag. Lha kalo gitu kapan sempet ngetiknya?

Walah, panik, panik, panik.
Akhirnya memutuskan jalan” keluar dulu deh sambil nyari udara segar dan memutuskan utk membeli the one thing yang bakal calm me down.

Pake baju seadanya, akhirnya nunggu tram menuju ke Leidsestraat. Pas nunggu yang cukup lama itu, aku bener” bisa ngerasain the level of my craving is increasing every second. Akhirnya trem dating dan sampelah di Leidsestraat, langsung jalan ke toko yang katanya anak” njual apa yang aku cari.

Antreannya cukup panjang juga, semakin jadi enggak sabar, dan akhirnya pas sampe giliranku: EH BARANG YANG DICARI ENGGAK ADA!

Double shit.

Makin panik, akhirnya memutuskan untuk nelpon Nat, aduh moga” anak ini enggak kerja deh hari ini jadi bisa ditelpon. Eh, pulsanya kan kosong melompong… Akhirnya jalanlah ke Koningsplein, nyari supermarket buat beli kartu isi ulang. Sampe salah” mencet juga sebelumnya dan akhirnya bisa nelpon Nat.

*bunyi nada panggil, sambil berharap”: nat pick up, nat pick up, nat pick up*
Nat: Halo?
Duh, akhirnya.
Nari: Halo, Nat?
Nat: Halo?
Nari: Halo?
Nat: Halo?
*Apaan sih ini? Voicemail-nya Nat yang terbaru dan paling iseng ya?*
Nari: Halo, Nat!
Nat: hey hey hey… what’s up?
Nari: eh, kmu dimana nih?
Nat: ya lagi kerja, di tig bara (don’t know how to spell it or the actual name, always know the name as ‘Tiki Bar’ padahal ini Irish pub)
Nari: ok ok, anyway… nat, I’m at MY WITS END! I need a fresh batch dan… kmu waktu itu beli A Mild dimana sih? Aku tadi ke toko yang katanya si Nina, Lidya klo beli disitu, tapi mereka enggak punyaaa…
Nat: kmu dimana?
Nari: leidsestraat, well… koningsplein, well.. kmu taulah daerah situ…
Nat: ok ok, tempatnya itu di tabakshop gitu…tokonya kecil, setelah area-nya DA, Etos, etc, kiri jalan pokoknya
Nari: kiri jalan itu arah mana? Central atau Leidseplein?
Nat: arah central, jadi di barat gitu.
Nari: ok ok thanks, tak cari dulu, nanti klo blm ketemu tak telpon lagi deh…

Mulailah jalan, toko tabak pokoknya, kiri jalan.
Tapi begonya Nari, yang typically cewek dan enggak bisa mbaca peta dan selalu disorientasi arah, otomatis krn jalan di kanan jalan, mengira kiri jalannya itu kiri jalan sesuai tangan kirinya, padahal itu kiri jalan arah yang sebaliknya CS. Menyusuri lagi, lho… tabak shop yang ada setelah DA ya yang tadi itu, yang enggak jual A Mild.

Menyerah, nelpon Nat lagi.

Nari: Nat, tabak shop yang ada tuh cuman yg tadi itu, yang jualan majalah jugaa…
Nat: enggak kok Nar, mereka cuman jualan rokok gitu, jadi spesialis jual tabak atau cigar gitu…tokonya kecil, coklat, kayaknya deket Coffee Company…trus…di kiri jalan
Nari: eh kiri jalan itu arah leidseplein kan?
Nat: D’oh! Nariiiii.. arah CS! CS! CS!
Nari: ealaaahhhh….. ok ok, tak cari lagi, nanti klo gk nemu tak telpon lagi deh.

Jalan lagi, kini ke arah yang bener, dan ketemulah toko kecil berwarna coklat yang jualan tabak, tapi…lha kok TUTUP?

Akhirnya,

Nari: NAT! Tokonya tutuuuuupp…. Kmu tau lagi gk dimana belinya A Mild?
Nat: waduh…. Enggak tau aku nar, taunya ya cuman disitu itu, ya udahlah… Marlboro Lights ajaa..
Nari: emooh… kurang sedep, enggak enak, enggak ada rasa manis”nya di mulut abis diisep, bau asapnya itu tipikal bau yang disebelin ama orang yang enggak ngerokok, baunya kayak so chemical gitu…
Nat: huehehehehe… ya abis aku gk tau lagi dimana nar yang jual…
Nari: yo wislah, aku tak ke CS dulu, kayaknya di daerah central ada tabakshop juga deh. Yo, thanks yaaaa….
Nat: hehehe, ok ok.

Akhirnya, naik trem lagi, menuju daerah CS, turun dan jalan sekitar 3 menitan, sampe juga di tabakshop yang dimaksud. Pas liat depannya ada rokok dari Philipine juga, jadi rada ngerasa optimis.

Nari: heeft u een Indonesische sigaret met de naam Sampoerna A Mild?
(jual A Mild enggak, mbak?)
SPG: *tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengeluarkan the resolute answer* Nee.
Nari: *dengan nada menyerah* OK dan, doe maar Marlboro Lights
(ya udahlah, Marlboro Lights aja).

Sampe rumah (dan anehnya masih sempet pake kesasar”), akhirnya langsung simultaneous ngambil 2, dan seperti udah diperkirain: enggak seneng rasanya, rasanya terlalu chemical, etc etc etc, tapi yah… mereka tetep berfungsi seperti yang udah diharapkanlah; jadi bisa tenang. Untuk sementara.

Oh well, a third helping would do the trick ;)

About me

  • I'm Nari
  • From Jakarta, Indonesia
  • See my main blog: http://penarimungil.blogdrive.com.
My profile
Name :
Web URL :
Message :
smileys
Powered by Blogger
and Blogger Templates